Women Lead Pendidikan Seks
December 20, 2021

Berdampak Fatal, Setop Bandingkan Diri dengan Orang Lain

Membandingkan diri dengan orang lain tidak hanya membuatmu nestapa tapi bisa memicu gejala depresi. Karena itulah kita harus tau cara-cara menghentikannya.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Issues
Share:

BTS menyelenggarakan konferensi pers perilisan album mereka Love Yourself: Tear, 24 Mei 2018. Dalam konferensi pers ini, setiap member BTS memberikan komentar masing-masing tentang proses pembuatan karya dan pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Salah satu member BTS, Suga bilang, tidak lengkap rasanya jika album BTS tidak terdapat lagu yang sarat akan pesan atau kritik sosial. Dalam hal ini, melalui album Love Yourself: Tear BTS mempersembahkan satu lagu berjudul Paradise tentang fenomena sosial di masyarakat. Menurutnya, lagu ini lahir ketika ia mengucapkan tahun baru pada ARMY, lengkap dengan nasihat untuk hidup bahagia, alih-alih ambis mengejar mimpi besar.

Intensi Suga dalam membuat lagu ini jelas. Ia ingin menyentill realitas masyarakat kita yang terobsesi dengan mimpi dan menimbulkan kompetisi toksik antarindividu. Mimpi selama ini selalu jadi tujuan hidup manusia sampai seringkali mereka kehilangan diri sendiri. Manusia bermimpi, tapi mimpi yang mereka punya adalah mimpi “pinjaman” orang lain. Kita tidak pernah diajarkan bermimpi untuk diri sendiri, karena kita tidak pernah bisa berhenti membandingkan dan memproyeksikan diri kita dengan orang lain.  

“Dunia tidak pernah mengajari kita cara bermimpi, tetapi dunia selalu mendorong persaingan. Saya ingin banyak dari mereka yang lelah mengikuti kompetisi ini untuk mendengarkan lagu ini (Paradise). Saya ingin jiwa-jiwa yang lelah itu beristirahat melalui Paradise,” ujar Suga dalam konferensi pers.

Baca Juga:   Stop Nilai Diri dan Perempuan Lain dari Penampilan Fisik

Social Comparison dan Dampak Buruknya

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah proses psikologis yang umum ditemui dalam diri manusia. Dalam psikologi, proses ini dikenal dengan istilah social comparison, dan pertama kali diusulkan oleh psikolog Leon Festinger dalam penelitiannya A Theory of Social Comparison Processes pada 1954.

Proses social comparison melibatkan individu yang mengenal diri mereka sendiri dengan mengevaluasi perilaku, kemampuan, dan sifat dengan orang lain. Kita biasanya membandingkan diri dengan orang lain yang sebaya atau serupa dengan kita. Hal yang patut digarisbawahi adalah social comparison kerap terjadi secara sadar atau tidak disadari. Namun, secara alami terjadi seiring dengan berkembangnya wawasan sosial, pengalaman, dan interaksi sosial yang dilakukan seorang individu.

Hal ini terjadi karena setiap individu pada hakikatnya memiliki dorongan atau kecenderungan (tendency) alami untuk melakukan evaluasi internal atas diri sendiri. Dalam melakukan evaluasi ini, individu melakukan perbandingan kepada orang lain.

Proses social comparison dibagi jadi dua bentuk, upward social comparison dan downward social comparison. Sesuai namanya, upward social comparison merupakan proses di mana seseorang membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dinilai lebih baik dari dirinya. Sementara, downward social comparison merupakan proses seseorang membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dinilai tidak sebaik dirinya atau dinilai tidak begitu “beruntung” dari kita.

Baca Juga:  Cari Validasi dari Diri, Bukan Instagram Story

Membandingkan orang lain yang lebih baik atau tidak sebaik atau “tidak seberuntung” kita memang bisa menimbulkan efek positif. Misalnya, kita jadi lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu atau bisa lebih optimis. Namun, kedua bentuk social comparison ini jika kita lakukan terus menerus hanya akan menimbulkan dampak negatif.

Dalam penelitian Frequent Social Comparisons and Destructive Emotions and Behaviors: The Dark Side of Social Comparisons (2006), Judith B. White, Ellen J. Langer, Leeat Yariv, dan John C. Welch IV melakukan dua studi yang melibatkan 64 orang dewasa dan 23 polisi. Dalam kedua studi tersebut mereka menemukan bahwa yang secara spontan sering membuat perbandingan sosial mengalami emosi dan perilaku yang lebih destruktif.

Mereka akan lebih sering mengalami perasaan iri, rasa bersalah, penyesalan karena secara konstan memendam hasrat yang tidak bisa mereka terpenuhi, dan cenderung mudah berbohong untuk melindungi diri sendiri dan berbohong untuk melindungi orang lain.

Emosi dan perilaku yang lebih destruktif ini pun diperparah dengan adanya media sosial dan media massa yang menyuntikkan standar-standar tertentu di dalam masyarakat. Dalam hal ini, Jin Kyun Lee, Ph.D, associate professor di universitas Hongik melalui penelitiannya The effects of social comparison orientation on psychological well-being in social networking sites: Serial mediation of perceived social support and self-esteem (2020), secara khusus melihat hubungan menurunnya kepercayaan diri seseorang dengan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Dengan melibatkan 236 responden yang aktif menggunakan media sosial dalam sebuah survei, Lee menemukan eningkatan frekuensi social comparison yang terjadi pada individu selama bermedia sosial menimbulkan kecemburuan, peningkatan ketegangan sosial, cemas berlebihan, dan menyebabkan individu lebih overthinking terhadap masalah interpersonalnya.

Individu pun menjadi rentan mengalami kesepian dan SNS dapat memberikan individu yang ketidakstabilan emosional yang berpengaruh langsung pada kesejahteraan dan harga diri mereka yang terus menurun. Pada akhirnya, mereka pun mereka akan lebih rentan mengalami gejala depresi dan sulit merasa bahagia.

Baca Juga:   Enggak Pede dengan Gaji dan Profesimu? Kamu Perlu Baca Ini

Cara Berhenti Membandingkan Diri Sendiri

Jika kamu merasa tidak bahagia dengan hidupmu dan selalu terjebak dalam siklus membandingkan diri sendiri dengan orang lain, maka sudah saatnya kamu harus berhenti melakukan hal ini. Berikut adalah tiga cara untukmu untuk perlahan berhenti membandingkan diri dengan orang lain:

  1.  Pahami apa yang kamu lihat di media sosial bukan realitas

Ketahuilah, apa yang kamu lihat di media sosial tidak sepenuhnya benar. Sebaliknya, yang kamu lihat di media sosial adalah realitas dalam versi “terbaik” yang dirancang sendiri oleh sang pengunggah. Hal ini karena menurut penelitian Misery Has More Company Than People Think: Underestimating the Prevalence of Others’ Negative Emotions (2010), orang cenderung tidak mengungkapkan emosi negatif mereka daripada emosi positif. Penelitian ini menemukan, orang cenderung melebih-lebihkan kehadiran positif dalam kehidupan orang lain, sedangkan mereka salah menafsirkan atau gagal mendeteksi perasaan negatif pada orang lain.

Oleh karena itu, apa yang kamu lihat di media sosial bukanlah sebuah gambaran lengkap kita cenderung mendistorsi informasi yang kita terima. Dengan demikian, lain kali jika mendapati diri kamu membandingkan diri dengan orang lain, berhentilah dan tanyakan pada dirimu sendiri apakah benar-benar adil untuk membandingkan dirimu sendiri dengan mereka bahkan ketika kamu sendiri tidak benar-benar tahu kondisi mereka atau mendapatkan informasi penuh tentang mereka?

  1.  Catat Segala Pencapaian Hidup Kamu, Sekecil Apapun itu

Ketika membandingkan diri kita dengan orang lain, kita fokus pada semua kekuatan dan pencapaian mereka dan mengabaikan kekuatan dan pencapaian diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita butuh mengapresiasi diri kita sendiri salah satunya dengan mencatat segala pencapaian hidup kita, mau sekecil apapun hal itu.

Misalnya saja jika kamu berhasil membuat dirimu bangga karena mampu memasak hidangan dari resep yang ingin sekali kamu coba atau akhirnya berhasil menyetir mobil, catatlah pencapaian itu. Jika kamu akhirnya berhasil menahan diri untuk tidak membeli sesuatu yang tidak perlu dan menabung untuk membeli laptop baru, catatlah pencapaian itu pula.

Dengan mencatat semua pencapaianmu, kamu secara tidak langsung belajar untuk menghargai setiap usaha yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri. Melihat semua pencapaianmu ini akan meningkatkan kembali harga dirimu dan kamu akan semakin jarang memiliki waktu untuk overthinking tentang pencapaian orang lain.

  1.   Memahami Ritme Setiap Orang Berbeda

Ketika kita membandingkan diri dengan orang lain kita lupa, setiap individu berbeda, baik secara kemampuan hingga kapasitas masing-masing dalam melakukan sesuatu. Ketahuilah, setiap dari kita punya ritme masing-masing yang tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya.

Ada seseorang yang sudah lulus S2 di usia 20-an awal, tetapi ada juga yang baru bisa melanjutkan studi S2 di usianya ke-40 tahun. Ada seseorang yang di usia 20-an awal sudah paham betul minat dan bakatnya, tapi ada juga yang baru memahaminya ketika berumur 30-an. Usia bukanlah patokan bagi kita untuk mencapai sesuatu, karena mimpi ada untuk dirimu sendiri bukan untuk orang lain.

Oleh karena itu, mimpi tidak memiliki batas waktu atau tidak akan pernah expired. Kamu bisa terus mengejarnya sampai mimpi itu tercapai, berapa pun waktu yang kamu butuhkan.

Selalu percaya semua orang punya waktunya sendiri untuk bersinar. Jika memang saat ini bukan giliranmu untuk bersinar, jangan putus asa dan yang terpenting jangan merasa dirimu lebih kecil dibandingkan orang lain.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.