Women Lead Pendidikan Seks
May 18, 2022

Dari A sampai Z, Fakta Penting Vaksin HPV untuk Perempuan

Meskipun pemerintah menggratiskan vaksin HPV di kalangan siswi kelas 5-6 SD, penting bagi masyarakat untuk mengedukasi diri soal pentingnya vaksin tersebut.

by Aurelia Gracia, Reporter
Lifestyle // Health and Beauty
pentingnya vaksin vaksin Human Papilloma Virus atau HPV
Share:

Mulai tahun ini, vaksin Human Papilloma Virus (HPV) akan digratiskan bagi siswi kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD). Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada pertengahan April lalu. Tujuannya, yakni mencegah kanker serviks—atau kanker leher rahim, yang menduduki urutan kedua terbesar di Indonesia, setelah kanker payudara.

“Karena memberi vaksinasi anti-kanker serviks lebih murah, ketimbang merawat ibu atau perempuan yang sudah terkena kanker serviks nanti, sesudah tahapnya lanjut,” tuturnya dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Januari lalu, dilansir dari Kompas.com.

Merujuk laporan Global Cancer Observatory (Globocan), pada 2020 ditemukan 17,2 persen kasus kanker serviks, dan lebih dari separuh jumlah kasus itu berakhir pada kematian. Artinya, setiap jamnya terdapat lebih dari dua kematian yang disebabkan jenis kanker ini, dan 50 kasus baru yang terdeteksi.

Vaksin HPV akan ditetapkan sebagai satu dari 14 jenis imunisasi dasar lengkap, yang dilakukan bersama Bulan Imunisasi Anak Sekolah mulai Agustus mendatang. Adapun vaksin itu digratiskan hanya untuk siswi kelas 5 dan 6 SD, karena dinilai lebih efektif dalam menurunkan angka terinfeksi kanker serviks.

Hal itu ditegaskan oleh dr. Marcia Soumokil, MPH., Direktur Eksekutif IPAS Indonesia—sebuah organisasi nonprofit yang berfokus dalam isu kesehatan remaja dan reproduksi perempuan.

“Semakin muda semakin baik. Vaksin ini akan sangat efektif jika diberikan ke perempuan, sejak mereka belum aktif secara seksual,” ujarnya dalam wawancara bersama Magdalene, (28/4).

Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Soal Kanker Serviks Serta Gejalanya

Pentingnya Vaksin HPV untuk Perempuan

Penularan virus HPV terjadi melalui hubungan seksual, baik sesama alat kelamin, dan seks oral. Namun, sebenarnya virus HPV tidak hanya menginfeksi perempuan, tetapi juga laki-laki. Mereka bisa menderita kanker pada penis, anal—dalam hubungan seksual sesama jenis, oral, dan kutil kelamin. 

Melansir WebMD, setiap tahunnya di Amerika Serikat, terdapat 13 ribu kasus kanker tenggorokan, yang disebabkan virus HPV. Sementara pada waktu tertentu, sekitar satu persen dari laki-laki yang aktif secara seksual akan memiliki kutil kelamin.

Hanya saja, kemungkinan laki-laki untuk terinfeksi virus ini tetap lebih kecil, karena perempuan memiliki mukosa—atau selaput lendir—lebih luas dibandingkan laki-laki.

“Selaput lendir di tubuh laki-laki itu cuma ada di kepala penis, sedangkan di tubuh perempuan kan ada di seluruh lapisan lorong vagina, bahkan sampai leher rahim yang menjorok ke liang vagina,” jelas dr. Marcia.

Selain lewat hubungan seksual secara langsung, virus HPV dapat menular melalui benda yang bersentuhan langsung dengan alat kelamin. Misalnya handuk yang dipakai bersama.

Karena itu, dr. Alexy Oktoman Djohansjah, SpOG, (K) Onk menganjurkan, agar menggunakan alat pribadi secara mandiri.

“Sama seperti Covid-19, virus ini sebenarnya ada di mana pun. Tapi, kalau kita hidup sehat dan menjaga kebersihan dengan baik, virus HPV akan sulit masuk ke tubuh,” katanya.

Ini disebabkan, ada faktor lain yang menyebabkan seseorang terinfeksi virus HPV, yakni daya tahan tubuh yang lemah, dan virus yang masuk ke tubuh dalam jumlah besar.

Pasalnya, terdapat ratusan subtipe virus HPV, yang terbagi dalam berisiko tinggi dan rendah, dikategorikan berdasarkan keganasannya. Namun, yang digolongkan sebagai penyebab kanker adalah subtipe 16 dan 18, yang disebut sebagai high risk.

Sementara, kutil kelamin yang termasuk low risk, terdapat dalam subtipe 6 dan 11. Maka itu, vaksin HPV dibutuhkan bukan hanya mencegah kanker serviks, melainkan juga kutil kelamin.

Di Indonesia, ada dua jenis vaksin yang digunakan, bivalen dan quadrivalen. Berdasarkan penjelasan dr. Alexy, keduanya memiliki perlindungan yang sama terhadap kanker serviks. Sedangkan untuk melindungi dari kutil kelamin, terdapat dalam quadrivalen.

Quadrivalen bahkan tetap efektif untuk mencegah kembalinya kutil kelamin, karena setelah memiliki antibodi, diharapkan daya tahan tubuh dapat mencegah infeksi virus tersebut.

“Kalau ditanya sebaiknya yang mana, tergantung pencegahan utamanya. Kalau ke kanker serviks, apa pun boleh. Toh harganya lebih terjangkau,” terangnya.

Namun, apabila sudah aktif secara seksual, vaksin ini tidak dapat mengurangi kemungkinan terpapar kanker serviks. Adapun pencegahannya dapat dilakukan dengan papsmear, untuk mengecek kesehatan leher rahim.

Vaksin ini sendiri bekerja dengan menyalin materi genetik yang sangat mirip dengan virus, lalu diciptakan dalam bentuk protein. “Istilahnya virus lack protein, jadi menggunakan metode rekombinan. Cetakan itu yang dimasukan ke tubuh dan membentuk antibodi,” kata dr. Alexy.

Perlu diketahui, ada perbedaan jumlah suntikan yang diberikan ke perempuan dewasa dan anak-anak hingga remaja.

Perempuan dewasa memerlukan tiga kali penyuntikan, agar tubuh merespons virus rekombinan di dalam vaksin dengan baik. Berbeda dengan anak-anak yang cukup menerima dua kali suntikan, tetapi kekebalan tubuhnya akan terbentuk sejak awal.

Baca Juga: Ketiadaan Izin Suami Hambat Deteksi Kanker Serviks

Kesadaran Masyarakat adalah Kunci

Menurut dr. Marcia, kampanye pendidikan kesehatan tentang pentingnya vaksin HPV sempat menjadi hambatan dalam mengedukasi masyarakat. Pasalnya, pengetahuan yang cukup masih dimiliki kelompok tertentu dengan literasi kesehatan cukup tinggi, dan memiliki akses internet yang baik. Padahal di sisi lain, biaya perawatan kanker serviks cukup membebani pemerintah.

Dengan menargetkan siswi kelas 5-6 SD, ia menilai pemerintah telah melakukan langkah yang tepat untuk menurunkan angka kanker serviks di Indonesia.

“Ini langkah besar pemerintah dalam menunjukkan komitmennya terhadap kesehatan reproduksi perempuan, yang harus diapresiasi,” tuturnya.

Namun, hingga saat ini sejumlah mitos tentang vaksin HPV masih memengaruhi sebagian orang. Contohnya kekhawatiran akan tidak perawan, bikin mandul, hiperseksual, hingga vaksin itu untuk “perempuan enggak benar”, sehingga tidak diperlukan.

Maka itu, edukasi sangat diperlukan agar kesadaran untuk vaksin meningkat, sekaligus menekan jumlah perempuan yang terinfeksi kanker serviks.

Hal itu dapat dilakukan dengan membongkar mitos-mitos lewat informasi yang diberikan. “Sebut saja itu hoaks tentang vaksin HPV. Lalu gunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat, jangan pakai jargon-jargon teknis,” jelas dr. Marcia.

Ia merefleksikan pada sosialisasi vaksinasi Covid-19 yang telah dilakukan dengan baik, bagaimana pemerintah mengampanyekan vaksin dengan menyebut mitos yang beredar di masyarakat.

Baca Juga: Memahami Kesehatan Reproduksi Pasangan itu Penting!

Kemudian, kesadaran kritis dalam mengambil keputusan juga diperlukan masyarakat, termasuk dalam menentukan untuk vaksinasi HPV. Melihat hal ini, dr. Marcia menuturkan, selain informasi penting terkait risiko dan tindakan yang perlu dilakukan, masyarakat juga perlu mengetahui cara mengakses layanan dengan mudah.

“Pengalaman untuk mengakses itu penting lho. Nanti kalau susah mengakses, kemungkinannya malah mengurungkan niat untuk divaksin,” ujar dr. Marcia.

Opsi lain yang dapat dilakukan adalah edukasi lewat mikroblog. Dalam studi Social media microblogs as an HPV vaccination forum (2013) dijelaskan, pemanfaatan mikroblog SinaWeibo efektif sebagai sarana edukasi vaksin HPV.

Umumnya, pengguna menggunakan platform tersebut untuk menarik perempuan, dengan topik seputar fesyen dan kecantikan. Peneliti Chupei Zhang, dkk. menyebutkan,  ketika informasi terkait vaksin HPV ditampilkan dalam SinaWeibo, para pengguna mulai mengajukan pertanyaan seputar kesehatan.

Alhasil, kolaborasi antara situs populer untuk perempuan dan vaksin, dinyatakan berhasil dalam memfasilitasi edukasi vaksin HPV, yang ditargetkan untuk meningkatkan kesadaran vaksinasi.

Lebih dari itu, upaya lainnya juga dapat dilakukan selain lewat edukasi, dr. Marcia mengusulkan, pemerintah menetapkan aturan yang membuat masyarakat merasa mendapatkan insentif, setelah melakukan vaksinasi. Tujuannya agar masyarakat menerima kemudahan, sekaligus mendorong mereka divaksin. 

“Misalnya ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, vaksinasi lengkap jadi salah satu kemudahan untuk mendaftar sekolah,” katanya.

Dengan demikian, baik perempuan dewasa maupun anak akan memiliki kesadaran untuk melakukan vaksinasi HPV.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.