Women Lead Pendidikan Seks
October 18, 2022

Di Balik Donasi BTS ARMY: Solidaritas Buat Kanjuruhan, Urunan Demi Kemanusiaan

Dari aksi donasi, bantuan hukum, psikologis, saya ketemu dan ngobrol langsung dengan para BTS ARMY. Ini cerita langsung dari mereka.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture // Korean Wave
Donasi ARMY
Share:

Dyanti, 21, masih terjaga padahal jam sudah larut. Biasanya karena skripsi yang belum ia kelarkan, tapi malam itu berbeda. Berita tentang 131 korban meninggal di Stadion Kanjuruhan, Malang, muncul terus di media sosial. Saat itu, beritanya masih sepotong-sepotong. Informasi tentang jumlah korban luka juga belum jelas.

Apa ya yang bisa dibikin ya? Apa galang dana aja ya? Bikin, gak ya?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di benak Dyanti. Sampai akhirnya pukul setengah dua dini hari, ia membuat poster dan deskripsi galang dana di Kita Bisa, situs yang pernah ia gunakan tiga kali untuk melakukan kampanye sosial atas nama BTS ARMY Project Lombok (BAP Lombok). Fanbase itu ia yang dirikan dan kelola sejak 2021 dengan total tiga orang anggota.

Tak ada sepak bola yang seharga nyawa manusia. Tagline itu ditulis Dyanti di dalam kampanye galang dananya.

Target awalnya, Dyanti hanya ingin mengumpulkan Rp15 juta. Namun, di pagi buta itu, ia sempat menghubungi lebih dari 50 orang dari fanbase ARMY Indonesia lain. Lalu, mereka menaikan target donasinya.

Tak lama setelah dilempar di media sosial, inisiasi itu mendapatkan perhatian publik. Selebritis seperti Luna Maya, Raisa, Vidi Aldiano, hingga berbagai komunitas klub bola Indonesia seperti Arema FC berbondong-bondong memberikan apresiasi bahkan ikut berdonasi. Tidak heran, hanya dalam waktu 30 jam saja, donasi yang terkumpul telah mencapai angka 447.559.567 juta rupiah.

Baca juga: BTS dan ARMY: Bongkar Hegemoni Industri Musik HIngga Stereotip 'Fangirl' Obsesif

Di Pagi yang Tak Terlupakan

Usut tuntas, gas air mata dibayar air mata ibu,” kata Andrea, pencetus Light ARMY Malang. “(Kata-kata) itu jadi spanduk yang banyak saya temui sepanjang kota Malang. Kalau dibaca akan selalu bikin hati pilu,” tambahnya.

Dana sebesar itu tentu perlu tanggung jawab besar. Mereka perlu transparan dan memastikan dana yang disalurkan tepat sasaran. Untuk itu, Dyanti dan timnya bekerja sama dengan teman-teman Light ARMY Malang. Sebagai tim lapangan, mereka tak hanya mengumpulkan data korban door to door, tetapi juga ikut turun menyalurkan dana donasi dan membuat laporan penyaluran dana.

“Kami memang sebisa mungkin mengecek kondisi korban secara ril, biar nanti penyaluran dananya bisa tepat sasaran,” tambah Andrea. “Setiap malamnya jam 7 atau 8 malam juga kita buatkan laporan dan kita share di grup.”

Andrea bersama empat relawan lain dari kawasan Malang Raya membagi pekerjaan mereka jadi dua shift. Tak cuma mendata korban, mereka juga mengumpulkan foto bagain tubuh yang terluka, laporan CT Scan, hingga detail-detail riwayat kesehatan korban yang dibutuhkan untuk dapat bantuan.

Penyaluran dana tahap pertama, sebesar Rp50 juta, dilakukan Andrea dan timnya pada 6 Oktober. Mereka membagi korban jadi tiga klasifikasi: keluarga korban yang ditinggalkan orang tua atau anaknya, keluarga korban meninggal di bawah umur, dan korban dengan luka berat hingga hilang kemampuan permanen serta yang luka ringan dan  sedang. Masing-masing menerima Rp2 juta, Rp1 juta, dan Rp500 ribu.

Sekitar jam 9 pagi, mereka melewati suasana berkabung yang susah dilupakan. Banyak spanduk bela sungkawa dan tuntutan keadilan buat para korban di jalanan. Pagi itu mereka menyusuri empat kecamatan di Malang: Sukun, Kedungkandang, Lowokwaru, dan Blimbing.

Andrea dan ARMY lainnya dilanda bendungan emosi sedih yang mereka tak duga, pagi itu. Tiap kali menjabat tangan para ibu yang kehilangan anaknya, menatap sorot mata nenel yang rasa terkejut serta sedih tak terperi kentara di matanya.

Baca juga: BTS ARMY: Perempuan Cuma Ingin Bebas Berekspresi

Bantuan Holistik yang Datang dari Solidaritas

Buat banyak kelompok penggemar atau fandom, galang dana bisa dibilang adalah aksi kemanusiaan yang sudah jadi nafas eksistensi mereka. Mulai dari perayaan ulang tahun member, peringatan debut grup idola, hingga tragedi kemanusiaan dan bencana alam pasti ada saja fandom yang menginisiasinya. Bisa dibilang ini jadi langkah mereka untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama dan juga jadi wadah solidaritas sesama penggemar.

Tapi berbeda dengan fandom kebanyakan. ARMY memiliki pendekatan holistik ketika menyasar suatu isu. ARMY tak mau melakukannya setengah-setengah. Mereka ingin mengerahkan semua usaha dan tenaga mereka. Sehingga, galang dana bukan jadi satu-satunya cara buat mereka untuk membantu dan menciptakan kesadaran kolektif antar sesama ARMY dan masyarakat luas.

Dalam tragedi Kanjuruhan kita melihatnya dengan baik dari bagaimana ARMY sebagai satu-satunya fandom yang punya inisiasi untuk memberikan pendampingan hukum dan psikologis. Dengan berbagai latar belakang profesi dan pendidikan yang mereka miliki, ARMY bergerak tanpa dikomando untuk memberikan bantuan pelayanan secara gratis sesuai dengan bidang yang mereka geluti.

Aca (26), ARMY yang kebetulan juga adalah seorang pengacara di Malang adalah salah satunya. Dengan menggunakan ilmu dan skillnya sebagai pengacara, Aca terlibat langsung tak hanya dalam memastikan berjalannya penyaluran dana donasi, tetapi juga secara sukarela memberikan bantuan hukum bagi para korban Kanjuruhan. Media sosial dan kontak WhatsAppnya senantiasa aktif untuk menerima aduan dan memberikan konsultasi hukum bagi korban yang membutuhkan.

“Aku sangat welcome buat siapa pun. Bukan karena aku ARMY terus aku cuma mau bantu ARMY aja. Siapa pun kamu, monggo hubungi aku. Aku buka pintu selebar-lebarnya”

Tergabungnya Aca dalam Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) pun membuatnya punya akses untuk terlibat langsung dalam memberikan pendampingan hukum. Mulai dari pendataan, mendatangi korban atau saksi, hingga mengumpulkan barang bukti semua dilakukan secara bahu-membahu dengan rekan advokat lainnya. Aca meyakini sebagai seorang pengacara, memastikan korban, keluarga korban bahkan saksi dikawal hingga kasus tersebut tuntas sesuai undang-undang yang berlaku adalah kewajibannya.

Bunda Aca dan suaminya sempat bertanya. Kenapa Aca mau menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk melakukan ini semua. Rela menghadiri pertemuan dengan para pejabat pemerintah, menghadiri berbagai rapat, hingga turun ke jalan untuk berkoordinasi dengan rekannya tanpa dibayar sepeser pun.

“Kalau bukan aku siapa lagi? Ini satu-satunya yang bisa aku kasih dengan profesiku sebagai pengacara. Kita semua di sini melakukan apa pun yang kita bisa untuk bantu korban. Bukan untuk dinotis orang lain atau bangtan (BTS), tapi karena ini gerakan kemanusiaan dari ARMY sendiri.”

“Tanpa disuruh juga kita akan jalan,” tegas Aca.

Dalam melakukan aksi kemanusiaan ini nyatanya Aca tak sendiri. Sebagai fandom terdiri dari ragam profesi dan pendidikan (keragaman ini bisa dicek langsung dalam survei global ARMY pada laman www.btsarmycensus.com), ARMY Help Center Indonesia (AHC Indonesia), komunitas ARMY yang bergerak di isu kesehatan jadi amunisi tambahan untuk berikan kontribusi.

Sharon (27), pendiri dan leader AHC Indonesia yang miliki latar pendidikan psikologi memahami dengan baik bahwa dalam tiap tragedi kemanusiaan, ada dampak psikologis yang sangat besar terjadi. Utamanya bagi para perempuan dan anak sebagai kelompok rentan. Berangkat dari pemahaman inilah Sharon beserta timnya menginisiasi bantuan psikologis.

“Kondisi kaya gini, pendampingan psikologis sangat penting dilakukan. Makanya kita langsung inisiasi”

Baca juga: Tak Cuma 'Photo Card': Bagaimana Penggemar K-Pop Terlibat Aktivisme

Tak butuh waktu lama, Sharon langsung ambil tindakan. Ia dan timnya mencuit hotline bantuan psikologis daring. Intensinya sederhana. Jika ada masalah darurat, korban bisa langsung mendapatkan pendampingan secara daring terlebih dahulu. Hal yang kemudian disusul oleh inisiasi Sharon dan timnya untuk berikan pendampingan langsung kepada korban yang ada di Malang.

Melalui bantuan salah satu timnya yang memiliki kontak ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Sharon pun berkoordinasi dan meminta bantuan HIMPSI. Dari perbincangannya itu, ia dan segenap tim AHC Indonesia akhirnya memutuskan untuk mendirikan posko pendampingan psikologis.

Nantinya dalam posko tersebut, psikolog dan psikiater professional akan hadir untuk melakukan pendampingan bagi korban yang merasakan dampak secara psikologis.

“Semua biaya korban yang membutuhkan untuk proses penyembuhan semua ditanggung oleh dana donasi yang sudah terkumpul.”

Posko ini pula yang nantinya juga digunakan sebagai pos pelayanan khusus pendukung aduan. Jadi, tim AHC Indonesia yang menjadi relawan di sana akan menerima dan mendata laporan korban yang selanjutnya bisa diteruskan ke hotline atau dirujuk langsung ke rumah sakit.

Buat orang awam, mungkin apa yang dilakukan Sharon dan timnya tak masuk akal. Bagaimana mereka yang tergabung dalam kelompok penggemar mau menyalurkan segala tenaga dan pikiran mereka secara cuma-cuma? Jawabannya hanya ada satu.

“Hanya inilah kemampuan kami (AHC Indonesia). Apalagi kita (BTS dan ARMY) memang dasarnya punya tujuan yang sama, meneruskan pesan baik ke semua orang. Jadi aku dan tim putuskan untuk bergerak, berkontribusi baik pada masyarakat dan beri mereka perspektif baru.”

_____________

Bagian kedua artikel ini dapat di baca di: "Kanjuruhan Bukan yang Pertama, Solidaritas ARMY Datang dari Pesan Kasih".

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.