Women Lead Pendidikan Seks
August 06, 2019

Hijab dan Kita yang Tak Pernah Diberi Pilihan

Betapa sebagian dari perempuan tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih bagaimana kita berpakaian sejak kita kecil.

by Siti Parhani
Issues // Politics and Society
Share:

Saat tengah menunggu jemputan di sebuah stasiun di Bandung, saya sedikit tercengang melihat sekelompok ibu-ibu dengan anaknya yang masih kecil-kecil berbalut baju muslim hitam panjang berikut cadar di wajahnya. Sungguh usia yang sangat muda untuk mulai berjilbab dan bercadar.

Saya bukan hendak membahas mengenai cadar atau apa pun yang orang lain pakai. Melihat anak-anak yang sudah berpakaian seperti itu membuat saya sekali lagi tersadar, betapa sebagian dari kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih bagaimana kita berpakaian sejak kita kecil.

Terlahir dari keluarga muslim, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar saya sudah disuruh memakai hijab ke sekolah. Saat itu tidak ada teman-teman sekelas yang memakainya, dan tren hijab belum menjadi komoditas seperti sekarang. Sebagai seorang anak kecil yang polos akhirnya saya manut, memakai hijab ke sekolah.

Siapa sangka perintah berhijab itu menjadi permanen. Suatu ketika saat naik ke kelas 5 SD, saya bosan berhijab dan mencopotnya ketika pergi sekolah. Bukan ibu saya yang marah dan melarang karena langkah saya itu, tapi larangan keras justru muncul dari saudara ibu, yang bahkan menegur teman saya yang dianggap sudah menghasut saya agar tidak berhijab. Alih-alih memberi pengertian yang komprehensif tentang mengapa harus berhijab di usia sedini itu, saudara ibu tersebut memarahi saya, dan saya diwajibkan memakai hijab ke sekolah mulai esok harinya.

Baca juga: Haruskah Anak Kecil Mengenakan Jilbab

Saya akhirnya berpikir bahwa hijab atau jilbab adalah hal absolut yang tidak bisa ditawar; jika menawar maka saudara dari ibu atau ayahmu akan turun tangan untuk menegurmu. Saya merasa trauma untuk tidak memakai jilbab ke sekolah, kecuali saat pesta kenaikan kelas. Saat itu Ibu mengizinkan saya tidak berhijab, meskipun dengan tatapan nyinyir saudara ibu.

Sudut pandang itu terus tertanam, meskipun selama itu saya berhijab hanya saat sekolah saja, selebihnya saya tetap memakai celana pendek dan kaos untuk main. Sampai memasuki SMA, bukannya semakin diberi kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri, malah makin besar tuntutan untuk memakai jilbab panjang alias hijab syar’i tanpa pernah dibuka di depan publik. Saudara-saudara Ibu selalu membandingkan saya dengan anak-anak perempuannya yang sudah berhijab seperti itu.

Ketika berkuliah dan merantau berpisah dengan orang tua, pada fase inilah sudut pandang saya mengenai banyak hal mulai berubah. Batasan-batasan dan konstruksi sosial yang sudah dibebankan itu mulai terlepas sejenak. Saya bebas mencari tahu apa pun yang ingin saya cari tahu; saya mulai membaca banyak buku, membaca banyak referensi sampai akhirnya merasa bukan seperti itu baiknya menjalankan agama, dan tidak semua apa yang dibilang orang yang lebih tua itu adalah kebenaran mutlak. Beragama bukan menuruti apa yang orang lain katakan, ini tentang apa yang kita alami, cari tahu, yakini, dan jalankan dengan sepenuh hati, termasuk juga bagaimana cara kita berpakaian.

Beragama bukan menuruti apa yang orang lain katakan, ini tentang apa yang kita alami, cari tahu, yakini, dan jalankan dengan sepenuh hati, termasuk juga bagaimana cara kita berpakaian.

Sampai pada akhirnya saya melihat dan belajar dari ceramah Profesor Quraish Shihab dan almarhum Gus Dur, sungguh saya kagum dengan cara mereka membesarkan anak-anak perempuannya, mereka tumbuh dengan hebat, karena selalu diberi pilihan untuk menentukan jalan hidup dan cara mereka berpakaian.

Anak-anak yang mereka besarkan mampu membuktikan bahwa memberikan dampak positif yang jelas pada masyarakat itu lebih sesuai dengan ajaran agama ketimbang mengurus cara berpakaian perempuan. Saya melihat sebuah cara pengasuhan orang tua yang amat sangat damai dan tentunya menjunjung tinggi asas kebebasan individu meskipun individu itu terlahir dari mereka, namun tidak ada obsesi untuk mendikte anak seperti yang mereka mau. Sungguh indah.

Ketika banyak orang menuduhnya kafir dan Syiah karena pandangannya tentang kewajiban berjilbab dianggap sesat, Pak Quraish tetap berdiri tegak dengan menjawab bahwa mau berhijab atau tidak itu adalah hak anak-anaknya. Ia bersikukuh dengan prinsip kebebasan yang diberikan pada anak-anaknya.

Baca juga: Rangkul Dia, Perempuan yang Membuka Jilbabnya

Saya bukan hendak mengatakan bahwa orang tua yang mengajarkan anaknya beragama sejak dini adalah salah. Tapi apakah kita sudah benar-benar mengajarkan anak yang notabene masih belum mengerti apa-apa tanpa paksaan? Apakah sudah bertanya pada anak, sudah siapkah secara fisik dan mental untuk berhijab?

Sekali lagi, hijab dan segala konstruksi sosial yang ada bukan perkara enteng. Perlu kesiapan yang luar biasa, komitmen yang seharusnya dilakukan dengan sepenuh hati tanpa intervensi orang lain. Lebih penting untuk mengajari anak apa konsekuensi sosial saat memakai hijab daripada memberi gambaran ketakutan api neraka jika mereka tidak berhijab, nantinya alih-alih senang menjalankan perintah agama justru alasan ketakutanlah yang membuat mereka menjalankannya.

Jangan sampai ambisi orang tua beragama juga ditanggung anak yang sebenarnya tidak satu visi. Di banyak kasus yang saya atau orang terdekat alami, kebanyakan akhirnya menjalani hidup ganda, berpura-pura menjadi pribadi yang orang tua inginkan saat di depan mereka, tetapi menjadi pribadi lain saat di luar sana.

Saya selalu senang jika ada berita seorang perempuan, entah itu tokoh publik atau teman-teman terdekat saya yang pada usia 20 sampai 30an baru mantap berhijab atau melepasnya, setidaknya mereka berhijab atau melepasnya atas kemauannya sendiri, atas kesadaran dan keputusannya, artinya itu pilihan yang mereka buat.