Women Lead Pendidikan Seks
October 08, 2021

Hollywood Suka ‘Remake’ Film Asia, Apakah Ini Problematik?

Ada sederet film remake Hollywood dari film Asia yang dikritik oleh publik. Kenapa demikian?

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Lifestyle
Share:

Ketika Squid Game (2021) menjadi serial nomor satu yang ditonton secara global, ini mengingatkan saya pada momen Parasite memenangkan piala Oscar untuk kategori Best Picture tahun lalu. Pasalnya, karya sinema dari Asia kembali menunjukkan kebolehannya sekaligus menyentil isu kapitalisme dan kondisi sosio-kultural masyarakat Korea Selatan. 

Keberadaan film dan serial Asia yang meraih animo tinggi masyarakat mancanegara membuktikan bahwa karya yang worth it untuk ditonton tidak melulu harus dari AS. Korea Selatan, Indonesia, dan negara lain pun memiliki banyak karya sinema yang kualitasnya bagus. 

Di tengah keberhasilan Squid Game, muncul pertanyaan apakah Hollywood akan memproduksi remake-nya? 

Awal Oktober lalu, sebuah kanal YouTube dari Korea Selatan mengunggah video deepfake yang mencampurkan wajah aktor pemain Squid Game dan Hollywood. Tujuannya untuk melihat siapa saja selebritas dari AS yang cocok memainkan karakter serial tersebut. Si pemeran utama, Gi-hun (Lee Jung-jae) diperankan Keanu Reeves, pengungsi Korea Utara Kang Sae-byeok (Jung Ho-yeon) dimainkan Zendaya, dan si preman Deok-su (Heo Sung-tae) oleh Danny Trejo. 

Fan casting tersebut memang tidak merugikan dan dimaksudkan untuk senang-senang saja. Selain itu, saat ini memang Squid Game belum diberitakan akan dibuat versi AS-nya. Namun, jika fan casting itu direalisasikan, ada potensi timbulnya serangan balik dari publik. Ini berkaca dari pengalaman saat film zombie Train to Busan dikabarkan akan dibuat remake AS-nya. Warganet menilai versi remake itu akan merusak film Train to Busan yang sudah sempurna dan sebaiknya menonton film orisinalnya dengan subtitle. Begitu juga ketika Parasite akan dibuat versi serialnya oleh HBO. Hal ini memicu penolakan sebagian publik dengan argumen bahwa industri film AS tidak akan menangkap simbolisme khas Korea Selatan. 

Merespons tanggapan terebut, sutradara Adam McKay yang akan menggarap serial Parasite mengatakan, alih-alih mencontek cerita aslinya, versi remake Parasite akan memuat plot cerita yang orisinal dan berbeda, tapi tetap di universe yang sama dengan film aslinya. Dia pun bekerja sama dengan Bong Joon Ho untuk Parasite versinya. Sedangkan Train to Busan, sutradara Timo Tjahjanto di akun media sosial pribadinya mengatakan, tidak akan ada yang mengalahkan versi asli dari film tersebut. Dia menghormati film itu dan berusaha tidak akan mengecewakan penggemarnya. 

Baca juga: ‘Shang-Chi and The Legend of the Ten Rings’ Runtuhkan Stereotip Perempuan Asia

Meski  sudah ada tanggapan dari para pembuat film seperti ini, masih saja sebagian publik menilai remake Hollywood tetap lebih buruk. Mengapa demikian?

Subtitle dan Simbolisme yang Sulit Diartikan 

AS membuat ulang karya sinema Asia atau dari negara lain dengan versinya bukan sesuatu yang baru. Tahun 1960, sutradara John Sturges memproduksi film The Magnificent Seven yang merupakan remake dari film Jepang Seven Samurai (1954). Alih-alih dengan samurai, Sturges membuat tujuh koboi bersenjata. The Magnificent Seven kemudian diperbarui tahun 2016 dan diperankan aktor Denzel Washington, Chris Pratt, dan Ethan Hawke. 

The Magnificent Seven versi 60-an sendiri menjadi semacam film klasik untuk AS, kritikus juga menilainya sebagai satu film berpengaruh di Hollywood. Sama halnya dengan film remake lain, The Departed (2006) juga sukses karena menggunakan latar belakang masyarakat Boston keturunan Irlandia, alih-alih mengapropriasi elemen budaya dari Hong Kong dan kepercayaan Budha di film orisinalnya, Internal Affairs (2002). Selain itu, hal lain yang membuatnya lebih diterima publik adalah karena akting para aktornya: Matt Damon, Leonardo DiCaprio, dan Jack Nicholson.

Namun, tidak semua remake itu menjadi sesuatu yang dipuji karena banyak yang justru menjadi kurang menarik. The Lake House (2006), misalnya, memang berhasil membawa kisah romantis dua orang yang terpisah karena waktu dengan apik. Belum lagi filmnya dibintangi Sandra Bullock dan Keanu Reeves, dua pujaan hati Hollywood yang bisa membuat penonton berdebar. Meski demikian, filmnya memiliki lubang dalam cerita dan belum bisa mengantarkan nilai sentimental yang dimiliki versi orisinalnya, Il Mare (2000) dari Korea Selatan. 

Ada juga film drama romantis remaja, Midnight Sun (2018), dibintangi Bella Thorne, yang disebut malah menjadi ‘murahan’ dan tidak menyentuh hati seperti versi Jepangnya, Taiyou no Uta (2006). Selain itu, ada film cyberpunk Ghost in The Shell (2017), live action remake dari versi anime-nya Ghost in The Shell (1995) yang dihujat habis-habisan. Pasalnya, film yang dibintangi Scarlett Johansson itu disebut whitewashing atau memilih aktor kulit putih untuk memerankan karakter Jepang, Makoto Kusanagi. 

Baca juga: Seminggu Nonton Film Horor Asia: Makin Yakin Hantu Barat Enggak Mutu

Isu whitewashing sendiri memang menjadi masalah yang selalu disorot karena berkaitan dengan hegemoni kulit putih, khususnya dalam konten budaya populer. Jika berkaca dari hal itu, remake film dapat dikategorikan sebagai problematis sebagaimana diungkapkan sosiolog Nancy Wang Yuen.

“Saya rasa yang jadi masalah adalah pemikiran kalau remake Amerika harus kulit putih, sementara masyarakat AS sebenarnya multikultural. Jadi, ini memaksakan ide bahwa AS dan Hollywood itu kulit putih,” ujarnya kepada The Washington Post

“Kalau mengambil film dari negara lain kemudian dibuat ulang, maka harus aktor kulit putih. Dan itu membuat POC (people of color) di AS merasa diasingkan (othered),” tambahnya. 

Dia juga berargumen, film remake kadang tidak bisa menerjemahkan maksud simbolis yang ada dalam film Asia karena tidak sesuai dengan kondisi masyarakat AS. Contohnya, ramyeon memakai daging mahal dalam film Parasite yang semacam mengindikasikan perbedaan kelas. 

Walaupun memang ada isu seperti ini, film Asia atau dari negara lain yang disebut Foreign Film akan tetap mengalami pembuatan ulang. Pasalnya, masyarakat AS disebut tidak suka membaca subtitle, kata kritikus film Alissa Wilkinson melalui artikelnya di Vox. Karenanya, dia sempat ragu perhelatan seperti Academy Awards akan mengapresiasi film semacami Parasite

Film remake dari AS memang sering hit or miss. Dia akan diterima jika nilai-nilai artistiknya tidak direduksi, makna simbolis tidak hilang dalam translasi, atau diproduksi dengan kualitas bagus. Mengutip perkataan Bong Joon-ho sendiri, “Ketika kamu membuka batasan satu inci, yaitu subtitle, kamu akan berkenalan dengan beragam film-film yang bagus.” 

Perkara Kreativitas dan Orisinalitas

Industri film AS memang membuat remake dengan cara legal, yaitu meminta izin dan membeli hak untuk memperbarui film tersebut. Alasannya juga tidak lepas dari aspek bisnis. Produser Roy Lee mengatakan, industri film melihat film negara asing yang dapat di-remake sebagai cara untuk menghasilkan uang. Lee sendiri merupakan sosok yang berhasil membawa film horor The Ring (2002), remake dari Ringu (1998),  ke layar kaca audiens AS yang disebut-sebut membuat orang secara global melirik film horor Jepang.

“Kenyataannya, semua orang dari negara yang berbeda menginginkan versi filmnya sendiri selama dibuat dengan kualitas bagus. Sekarang ini, jika ada film asing yang hits, studio akan mengirim orang untuk menontonnya dan melihat apakah ada potensi untuk remake,” ujarnya dikutip dari The World

AS memang tidak sendiri ketika membuat remake. Film India 3 Idiots, misalnya, memiliki remake film Meksiko 3 Idiotas. Drama Korea perselingkuhan The World of The Married yang hits tahun lalu juga remake dari serial televisi Inggris, Doctor Foster (2015-2017). Siklus perfilman memang terus berputar-putar. Karenanya, tema seperti deadly game yang ada di Squid Game, Hunger Games (2012-2015), dan Battle Royale (2000) terus digunakan dan memiliki kemiripan. 

Baca juga: ‘Pengabdi Setan’: Simbol Kekerasan terhadap Perempuan

Namun, ada kalanya ketika ide kreatif itu senada dengan pencurian. Satoshi Kon, animator kawakan dari Jepang, membuat beragam film animasi yang menginspirasi film Hollywood. Salah satu kasus paling besar terkait pencurian ide Kon ini melibatkan film Hollywood berjudul Requiem for a Dream (2000). Film tersebut dikatakan menyontek Perfect Blue (1997) karya Kon karena dalam satu adegan Requiem for a Dream, Marion Silver (Jennifer Connelly) yang menenggelamkan dirinya di bak mandi terlihat sangat mirip dengan adegan yang dilakukan Mima, pemeran utama dalam Perfect Blue

Tahun 2007, Kon mengatakan, sutradara Requiem for a Dream, Darren Aronofsky mengungkapkan bahwa ia menjadikan adegan itu sebagai penghormatan untuk Kon. Tetapi, Kon tidak merasa adegan yang sama persis itu sebagai penghormatan, tapi tiruan. Lebih mengherankannya lagi, mengutip Dazed, pada 2010 Aronofsky membantah filmnya terinspirasi dari Kon. 

“Ada banyak kemiripan di antara filmnya, tapi ini tidak terinspirasi dari itu (Perfect Blue),” ujarnya.  

Melihat situasi ini, perkara kreativitas dan orisinalitas di industri film bisa dibilang sangat pelik karena satu ide seakan-akan tidak bisa menjadi milik satu orang saja. Lebih menyakitkan lagi bila satu pembuat film membantah ‘terinspirasi’ dari karya lain walaupun ada kemiripan jelas. Dari pengalaman Kon ini, kita bisa menangkap juga bahwa kreativitas seakan tidak ada nilainya jika berhadapan dengan kapitalisme atau misi untuk ketenaran semata. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.