Women Lead Pendidikan Seks
September 09, 2022

Kenapa Jangan Sepenuhnya Percaya Rating dan Ulasan Film? Simak 3 Alasan Ini

Keputusan kita menonton film seringkali ditentukan dari rating dan ulasan di internet. Faktanya, kita tidak bisa 100 persen percaya dan ini tiga alasannya!

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture // Screen Raves
Share:

Seberapa seringkah kamu mengandalkan rating dan ulasan film di internet? Jawabannya mungkin terlalu sering. Sebelum pergi ke bioskop atau sekedar memilih film di platform digital, kita sudah secara otomatis membuka situs seperti IMDB atau Rotten Tomatoes. Situs yang secara khusus menampilkan keseluruhan rating dari sebuah film berikut dengan ratusan bahkan ribuan ulasan dari kritikus film dan penikmat film.

Sebagian dari kita bisa saja terbantu dengan rating dan ulasan yang sudah kita baca. Ya, kalau dihitung-hitung meminimalisir kerugian materil dan non material berupa uang dan waktu yang bisa saja terbuang percuma kalau tetap nekat nonton. Apalagi kalau yang punya rating dan ulasan jelek.

Tapi, tidak selamanya film dengan rating dan ulasan jelek itu benar-benar jelek lho. Enggak percaya?

Aku kebetulan punya pengalaman unik soal ini yang kemudian membuatku jadi tidak percaya lagi dengan rating dan ulasan yang kubaca di internet. Saat Captain Marvel tayang pada 2019 sebagai penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU) tentu aku langsung memesan tiket film dan berkomitmen tidak akan membuka Twitter atau website yang memuat rating dan ulasan film ini. Alasannya sederhana saja buatku. Aku tidak mau kena spoiler sama sekali.

Setelah menonton Captain Marvel di bioskop, aku merasa sangat puas. Aku merasa film standalone perempuan superhero kedua setelah Wonder Woman (2017) berhasil memberikan pengalaman menonton film yang menyenangkan buatku. Ceritanya fresh dan karakter Carol Denver (Brie Larson) dengan wajah resting bitchnya sangat badass.

Tapi, impresiku soal film ini ternyata cukup berbeda dengan rating dan ulasan yang aku baca di internet saat perjalanan pulang. Tidak sedikit yang memberikan rating dan ulasan negatif. Bahkan di IMDB sendiri ada beberapa orang yang memberinya bintang 1.

Sucks bad really bad dumb waste of time, waste of space, idiot

Pure Garbage! She's got the personality of the wet paper towel. No plot, no character development, no special effects.

Rating dan ulasan ini jelas membuatku kaget sampai pada titik aku akhirnya mencoba mencari film-film favorit masa kecilku di IMDB dan Rotten Tomatoes. Hanya untuk memastikan apakah aku bisa mempercayai rating dan ulasan di internet. Jawabannya ternyata tidak bisa. Film-film favoritku ketika kecil seperti Jumanji (1995), National Treasure (2004) dan The Princess Diaries (2001) bahkan tak ada yang mencapai 60 persen.

Dari pengalaman inilah aku belajar tidak bisa serta merta memercayai rating dan ulasan film, dan setidaknya ada tiga alasan penting untuk mendukung pernyataan ini:

  1.       Percayalah, Semua Orang Punya Selera Berbeda

Apakah semua orang suka membaca buku non-fiksi? Jawabannya juga tentu tidak. Buat sebagian orang membaca buku non-fiksi membuat mereka mati kebosanan. Maka tak jarang orang-orang ini lebih gemar membaca novel fiksi yang menawarkan imajinasi tanpa batas.

Semua orang punya preferensi atau seleranya masing-masing and it’s ok not to like something. Sama halnya dengan film. Dengan banyaknya genre yang ditawarkan beserta pendekatan serta pesan yang berusaha disampaikan sutradara dan penulis naskah, tentu tiap film punya karakteristiknya masing-masing dan pastinya tak semua orang bisa menyukainya.

Ada film memang yang sengaja dibuat hanya sebagai unsur hiburan saja. Membuat penontonnya terpingkal-pingkal dengan lelucon atau membuat penontonnya kasmaran layaknya hopeless romantic. Tapi ada juga film yang memang sengaja dibuat dengan pesan kuat tentang kondisi sosial masyarakat. Tujuannya memang untuk mengkritik dan memberikan penyadaran.

Baca Juga: Peran ‘Perempuan Korban’ di Film: Basi dan Harus Ditinggalkan

Jika kamu tidak suka dengan salah satunya tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kamu akhirnya memutuskan tak mau menontonnya hanya berdasarkan selera sekelompok orang saja. Apalagi selera itu dituliskan dalam ulasan yang hanya berupa makian. Tanpa ada kritik membangun atau sekedar jawaban cukup mendetail mengenai alasan dibalik hate bandwagon yang ada.

Hal ini kemudian diperparah dengan fakta bahwa tak sedikit film mendapatkan review bombing. Dilansir dari Gadget Review, review bombing mengacu pada tindakan sekelompok orang membanjiri ulasan pengguna dengan ulasan yang terlalu negatif. Hal ini biasanya dilakukan karena adanya semacam intrik politik di mana sekelompok orang ini memang tidak menyukai representasi karakter yang ditampilkan dalam film atau karena kebencian terhadap pemain yang ada.

 Ambil contoh Eternals (2021). Menurut The Direct, sekitar 450 ulasan bintang satu diunggah ke halaman IMDb Eternals, meskipun faktanya film tersebut waktu itu bahkan belum dirilis. Usut punya usut ternyata review bombing ini dilakukan karena adanya sentiment anti-LGBTQIA.

Atau Darlings (2022) film Bollywood yang sempat mendapatkan review bombing dari Men’s Right Activist atau MRA yang mengklaim film ini mengajak penontonnya melakukan kekerasan terhadap laki-laki. Kendati film ini membawa pesan mengenai potret gelap normalisasi kekerasan terhadap perempuan di masyarakat patriarki.

Baca Juga: Superhero Perempuan dan Problematika Representasinya

  1.       Rating dan Ulasan yang Didominasi Laki-Laki

Sebelum Parasite memenangkan kategori Best Picture pada 2020, Academy Awards sebagai ajang perfilman bergengsi di dunia kerap menuai kritik karena mencerminkan preferensi sampel populasi yang kecil dan tidak representatif baik secara gender, etnisitas, dan ras.

Masalah yang dialami oleh Academy Awards kurang lebih sama dengan rating dan ulasan online. Walt Hickey, senior editor di Insider pernah melakukan penelusuran terhadap bias data berdasarkan gender dalam IMDb. Melalui artikel in depth yang diterbitkan FiveThirtyEight, Hickey menemukan per 14 Februari 2018, IMDb memiliki rating dan ulasan 4.377 judul film. Dari film-film itu, hanya 97 yang mendapat peringkat lebih banyak dari perempuan daripada laki-laki. Artinya, 4.280 film sebagian besar dinilai oleh laki-laki.

Dalam 3.942 kasus (90 persen dari semua film yang memenuhi syarat), jumlah laki-laki melebihi jumlah perempuan setidaknya 2 banding 1. Dalam 2.212 kasus (51 persen), jumlah laki-laki melebihi perempuan lebih dari 5 banding 1. Dan dalam 513 kasus (12 persen), jumlah laki-laki melebihi perempuan setidaknya 10 banding 1.

Dari disparitas ini kemudian Hickey menemukan data menarik. Ia menemukan IMDb memiliki bias data dalam mengambil skor keseluruhan dari laki-laki dan perempuan untuk ditampilkan di website mereka. Hickey dalam hal ini menjelaskan bagaimana rating yang diberikan laki-laki dan perempuan terhadap suatu film cenderung memiliki perbedaan poin 0.2 atau lebih. Tetapi ketika adanya perbedaan poin ini, skor keseluruhan yang ditampilkan cenderung pada skor laki-laki dibandingkan perempuan, yaitu sebesar 85 persen.

Bias data ini juga ditelusuri oleh Matt Reynolds dalam WIRED. Reynolds menemukan baik IMDb, Rotten Tomatoes, dan Metacritic mempunyai kesamaan di mana keseluruhan rating dan ulasannya didominasi oleh laki-laki. Ia misalnya mengambil contoh film peringkat teratas IMDb, The Shawshank Redemption (1994) dengan skor 9.3 dan ulasan sekitar 1,86 juta pengguna IMDb. Sayangnya dari 1,8 juta ulasan, sebanyak 1,2 juta ulasan berasal dari laki-laki.

Rotten Tomatoes tidak jauh lebih berbeda. Pada tahun 2015, Meryl Streep mengkritik situs web tersebut karena menampilkan lebih banyak kritik laki-laki. Kritik Streep tentu beralasan karena menurut studi tahun 2016 dari San Diego State University ditemukan hanya 27 persen dari 'kritikus top' di situs tersebut adalah perempuan. Sisanya? Laki-laki kulit putih.

Sedangkan untuk Metacritic, Hickey mengungkapkan nampaknya website ini sedikit lebih menekankan pada penerbit daripada kritikus. Sehingga cukup sulit untuk mendapatkan ide tentang keseimbangan gender para reviewer. Namun, ada satu cara yang bisa dilihat salah satunya melihat film peringkat teratasnya, Citizen Kane (1941) didasarkan pada ulasan hanya dari dua perempuan dan sepuluh laki-laki.

  1.       Dunia Perfilman juga Punya Buzzer

Buzzer, istilah yang sering kita dengar di jagat media sosial dan secara garis besar mengacu pada seseorang atau sekelompok orang yang menyuarakan pendapat yang sama mengenai suatu isu, di media sosial. Mereka hadir untuk membangun opini publik terhadap isu dan figure tertentu. Atau bahkan membelokkan isu demi kepentingan mereka sendiri. Di Indonesia, kita mengenal buzzer melalui kaitannya dengan pemerintah atau partai politik. Tapi nyatanya mereka tak hanya hadir di ruang politik pemerintahan saja tetapi juga di ruang politik dunia perfilman.

Di dunia perfilman buzzer ada untuk memberikan rating dan ulasan baik mengenai film yang akan atau baru dirilis. Tak jarang buzzer film ini bahkan dibayar langsung oleh rumah produksi film untuk mempromosikan dan tentunya memberikan ulasan baik tentang film terkait. Hal ini misalnya bisa dilihat dari kasus Grimes, musisi Kanada.

Baca Juga:    ‘The Batman’ Versi Matt Reeves: Manusia Kelelawar yang lebih Humanis

Dalam wawancaranya bersama Vanity Fair, Grimes sempat dihubungi pihak Warner Bros Studio. Ia diminta mempromosikan film Dune (2021) kepada para pengikutnya di semua platform dan memberikan ulasan baik terhadap film tersebut. Dan ia bayar untuk melakukan itu semua.

Kasus Grimes, sebenarnya bukan yang pertama. Dalam artikel IndieWire, semenjak kepopuleran website rating dan ulasan film serta serial semakin membludak, rumah produksi film kini menggunakan strategi pemasaran film dengan membayar para penulis untuk menulis ulasan film mereka.

Ulasan ini akan dibayarkan kepada penulis setiap kali seseorang mengklik artikel ulasan tersebut atau tiap mereka membagikannya ke media sosial. Strategi ini memang dibutuhkan untuk mendorong penjualan tiket, tapi sayangnya menjadi sangat bias dalam penilaiannya.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.