Women Lead Pendidikan Seks
August 19, 2021

Kembali Bersekolah di Usia 'Tepat' 40 Tahun

Ibu tiga anak ini kembali bersekolah pada usia 40 tahun dan merasakan sulitnya bersekolah di usia ini seperti dugaannya. Namun, pengalaman ini tak mau ditukarnya dengan apa pun.

by Dewi Safitri
Issues
Share:

Agama saya sangat menjunjung tinggi proses pembelajaran. Ia mendorongmu untuk belajar sejak dirimu masih sangat kecil hingga nanti meninggal, atau melanjutkan pendidikan sampai ke negeri Tiongkok (tidak peduli bahwa Tiongkok, dari sini Indonesia, jaraknya tidak terlalu jauh, atau tempat lain mungkin dapat menjadi tujuan studi yang lebih baik daripada Tiongkok). Kebanyakan orang akan menerjemahkan panggilan untuk menimba ilmu sebagai cara untuk bersekolah dalam arti konvensional: taman kanak-kanak ke universitas semua harus dijalani dalam satu kali jalan. Kita juga didorong untuk mendapatkan gelar sebelum bekerja supaya punya pilihan karier yang bagus nanti, dan mungkin kesempatan untuk menemukan pasangan hidup yang cocok juga.

Tetapi bagaimana jika kamu seorang perempuan berusia 40 tahun dan telah menikah dengan tiga anak? Apakah belajar masih dianggap penting? Dan bagaimana jika kamu ingin melakukannya tidak sampai ke Negeri Tirai Bambu, tetapi lebih jauh lagi ke, katakanlah, Inggris? Saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini setahun yang lalu, mencoba mencari pembenaran untuk kepergian saya untuk program master selama setahun penuh.

Uang sangat terbatas dan waktu sangat berharga, saya mungkin tidak akan dapat membawa keluarga atau mengunjungi mereka kembali ke rumah setelah saya menyelesaikan studi saya. Bisakah saya, dalam keadaan ini, meninggalkan mereka dengan alasan "mengejar pendidikan tinggi" (meskipun di salah satu universitas top di dunia)? Beberapa orang, secara mengejutkan kebanyakan kerabat dan tetangga perempuan, menganggap ini ide yang buruk: bagaimana seorang laki-laki dapat membesarkan tiga anak sendirian? Dan bagaimana jika suami saya merasa perlu mencari istri pengganti?

Baca juga: Ketika ‘Ageism’ dan Seksisme Bersinggungan Bagi Perempuan Pekerja

Delapan bulan belajar, saya memang menerima kabar buruk dari rumah. Tidak, (sepengetahuan saya) suami tidak menggantikan saya dengan perempuan lain. Sebaliknya, anak kedua kami, 6 tahun, memiliki kutu rambut yang sangat parah sehingga satu-satunya pengobatan adalah memotong pendek rambutnya yang panjang. Saudara laki-lakinya, 12 tahun, mengalami alergi parah yang berulang. Dia batuk tak henti-hentinya dan kehilangan begitu banyak berat badan sehingga dia tampak kurus. Dan saat si bungsu bersiap-siap untuk ulang tahunnya yang ketiga, dia bertanya melalui Skype apakah dia bisa mengundang saya ke pestanya di rumah. Ah, betapa beratnya.

Namun, yang paling sulit dari semuanya adalah untuk mendapatkan tubuh dan pikiran intelektual berfungsi dengan baik. Saya meninggalkan universitas sekitar 17 tahun yang lalu dan bahkan setelah menghabiskan enam tahun yang sulit untuk gelar sarjana, pascasarjana tidak akan pernah menjadi perjalanan yang mudah secara akademis. Bahkan, sebelum berangkat, saya sempat khawatir tidak bisa mengatasi tantangan dan tugas. Tapi entah bagaimana, itu menjadi lebih buruk. Saya pikir bahasa Inggris saya baik-baik saja sampai saya mendengar beberapa teman Inggris/Italia/Amerika Selatan/Cina menggunakan "Bahasa Inggris" mereka untuk berbicara di dalam atau di luar kelas. Ada kalanya saya mengangguk dan menunjukkan wajah peduli hanya untuk berpura-pura mengerti kalimat yang mereka ucapkan.

Saya pikir karier saya lebih dari 12 tahun sebagai jurnalis akan dihitung sebagai "pengalaman hidup" yang akan meningkatkan pemahaman saya tentang mata kuliah dan karenanya, meningkatkan partisipasi saya dalam diskusi kelas. Karier mungkin merupakan keuntungan, tetapi itu tidak benar-benar mengubah fakta bahwa meskipun saya adalah siswi tertua di kelas, saya juga yang paling lambat untuk berkembang. Bacaan kuliah saya padat dan sulit dicerna. Sering kali saya mengerti sangat sedikit setelah mencurahkan waktu yang lama untuk berkonsentrasi pada ratusan halaman, dan kadang-kadang saya bahkan tidak mencoba sama sekali.

Tugas-tugas kuliah saya, biasanya makalah tertulis tentang subjek tertentu, adalah tugas-tugas sulit yang berarti kamu (lebih tepatnya, orang seperti saya) akan tetap terjaga dari malam ke malam dan dihantui oleh rasa takut akan deadline. Nilai kelulusan adalah 50, dan koleksi saya antara lain nilai 51, 53, dan 54.

Baca juga: Benarkah Perempuan Berpendidikan Lebih Tinggi Selalu Susah Menikah?

Namun, saya menganggap diri saya beruntung karena saya mulai terlambat hanya di tingkat pascasarjana, tidak ada yang benar-benar peduli jika saya adalah siswa paling tua di kelas saya (beberapa yakin saya terlihat jauh lebih muda untuk usia saya!). Melakukannya di tingkat sarjana bahkan lebih sulit, seperti yang dikatakan seorang teman kepada saya. Dia hampir berusia 30 tahun ketika belajar untuk gelar sarjana di sebuah universitas di AS. Kehidupan sebelumnya di tiga negara dan perbedaan yang tidak menguntungkan dalam sistem pendidikan telah menghalanginya untuk mendapatkan gelar lebih awal.

Duduk di kelas penuh anak berusia 18 tahun yang baru lulus SMA jelas tidak mudah. Pertama, sebagian besar waktu teman-teman sekelasnya mengira dia sebagai asisten pengajar, bahkan sang asisten pengajar itu sendiri! Banyak asisten pengajar mulai bekerja ketika mereka baru lulus dari universitas, jadi mereka masih jauh lebih muda darinya ketika mereka mengajar. Lupakan masalah soal naksir sesama mahasiswa yang ada, hal ini karena sudah cukup sulit untuk menemukan teman sekelas yang bisa kamu ajak bicara dan berhubungan tanpa merujuk kembali ke perbedaan usia sepanjang waktu.

Pada akhirnya, dia lulus dan bahkan meraih gelar masternya segera setelah dia menyelesaikan program sarjana AS. Dan ini benar-benar penghiburan terbesar saya: bahwa ada perempuan yang telah melakukan ini sebelumnya dengan cemerlang. Mary Fasano lulus dari impiannya untuk menempuh pendidikan di universitas yang ia impikan seumur hidupnya, Harvard, ketika dia berusia 89 tahun. Saya ngeri membayangkan betapa besarnya tantangan yang harus dihadapi Fasano. Namun, sungguh, beberapa perempuan tidak menyerah pada pendidikan karena mereka secara fisik sudah lemah dan keriput dan mungkin menghadapi kesulitan yang lebih besar daripada mengikuti daftar bacaan dan mencari teman.

Dan jika saya jujur pada diri sendiri, tidak ada masa yang dapat menyamakan pengalaman bersekolah lagi setelah melewati usia terbaikmu. Saya mungkin mengeluh setiap beberapa kalimat, tetapi belajar berarti kamu terus-menerus ditantang secara intelektual dengan cara yang menyegarkan. Saya tidak pernah berpikir ini mungkin, tetapi untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya jatuh cinta dengan belajar. Itulah mengapa relevan untuk mengutip Twila Boston, yang dirinya sendiri memperoleh gelar pada usia 98: “Pergilah keluar, jalanilah hidup dalam apa pun yang kamu inginkan, dalam apa pun yang kamu ingin lakukan selama sisa hidupmu”.

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

 

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis. 

Dewi Safitri mengejar gelar MSc di bidang Science Technology in Society di London. Akun twitternya @pendekarsilat11