Women Lead Pendidikan Seks
October 01, 2019

Kenali ‘Buzzer’, Hadapi Persekusi Digital

Kenali pola-pola buzzer yang suka menyerang di media sosial dan bagaimana cara menghadapi mereka.

by Nadya Karima Melati, Kolumnis
Issues // Politics and Society
Virality of hate_SOcial Media_Hoax_Cyber_Digital_SarahArifin
Share:

Negara Indonesia sedang gonjang-ganjing dengan terjadinya krisis politik yang membuat banyak masyarakat turun ke jalan. Berbeda dengan krisis politik dan ekonomi yang terjadi pada tahun 1998, krisis politik dan demonstrasi yang terjadi kini disuplai oleh berbagai informasi, dari sana-sini.

Informasi kita temui dari mulut keluarga, dari rekan kerja, teman bergosip hingga grup WhatsApp yang beragam. Kehadiran internet membuka ruang baru untuk berdiskusi di mana semua orang bisa berbicara. Negara juga memperhitungkan kehadiran internet ini. Kini hampir semua lembaga negara punya akun di media sosial untuk menunjukkan keberadaannya dan menyampaikan informasi.

Interaksi di internet dan di dunia nyata saling timbal balik. Beberapa kali pemerintah dan badan legislatif membuat peraturan berdasarkan apa yang terjadi di dunia maya, misalnya dengan menangkap seseorang yang melakukan perusakan motor yang viral di jagat maya. Keesokan harinya polisi meringkus pemuda yang merusak tersebut.

Dalam isu politik, penguasa lebih galak lagi. Aktivis Veronika Koman dan Dandhy Laksono ditangkap atas tuduhan provokasi dan menyebarkan informasi yang tidak berpihak pada pemerintah. Penguasa melihat internet sebagai media untuk bertukar informasi yang real dan akurat. Ketika informasi deras, banyak dan tidak terbendung lagi maka yang bisa dilakukan adalah mengaburkan informasi. Twitter adalah media sosial paling ramai dengan berbagai informasi. Saya memiliki akun di Twitter sejak 2009, yang saya pakai juga untuk melakukan advokasi digital melawan kekerasan seksual bersama organisasi saya, SGRC (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies).

Praktik buzzer, hoaks yang disponsori penguasa

Twitter menjadi tempat tumbuh suburnya praktik pendengung atau buzzer. Dalam konteks politik dan kekuasaan, buzzer adalah tangan kiri penguasa. Tangan kanan yang bermain cantik adalah divisi hubungan masyarakat (humas) dan pengelola akun resmi, sementara tangan satunya lagi bermain di belakang untuk mencampuri urusan politik yang kotor. Inilah tangan-tangan si pendengung.

Buzzer terbagi menjadi tiga kelas: Kelas influencer, kelas ternak, dan kelas pesugihan. Kelas influencer adalah seperti akun raja cebong Denny Siregar yang memiliki pengikut banyak dan pengaruh tinggi. Sedangkan akun ternak adalah kelas paling bawah milik satu orang yang punya beberapa akun dan email, yang mudah dikenali dan dibasmi Twitter. Cirinya adalah tidak mengonfirmasi email dan avatarnya biasanya masih berupa “telur” Twitter.

Sementara itu, kelas pesugihan adalah sekelompok orang-orang yang memang bekerja menjadi buzzer. Saya memakai istilah pesugihan untuk kelompok ini karena mereka telah menjual akunnya kepada setan. Saya sempat mewawancarai “Joni”, yang menjadi pendengung bagi salah satu calon presiden ketika Pemilihan Umum 2019, untuk mengetahui bagaimana buzzer bekerja dan menaikkan isu. Joni adalah orang biasa. Ia berusia 28 tahun, lulusan sebuah universitas negeri di Jakarta dan memang telah memiliki akun media sosial sebelumnya.

Baca juga: RUU PKS Perlu Disahkan untuk Tangani Kekerasan Seksual Berbasis Online

Joni dan teman-temannya direkrut untuk mengecoh algoritme dan keamanan Twitter yang mudah meringkus buzzer ternak. Mereka direkrut oleh sebuah konsultan komunikasi, digaji, bekerja dengan shift siang-malam, dan berkantor di sebuah rumah sewa yang disulap menjadi kantor, yang memiliki server sendiri. Para buzzer ini mengetik apa yang diminta oleh perusahaan komunikasi yang menyewanya. Avatar dan nama yang mereka pakai bisa jadi adalah diri mereka sendiri atau beberapa ada yang diganti. Mereka bisa melakukan apa saja sesuai yang diperintahkan di hadapan internet: menaikkan isu, membuat trending topic, menyebarkan tautan berita, atau menyerang musuh politik.

Joni bilang, untuk melihat apakah seseorang telah menjadi buzzer atau belum adalah dengan memahami pemetaan politik hari ini dan mendatangi langsung akun Twitter seseorang. Apabila akun tersebut terlihat partisan, lebih banyak retweet dan jarang berpendapat, banyak mengetwit dengan tagar sudah kemungkinan besar akun tersebut milik buzzer.

Joni juga menyatakan dia adalah salah satu dari 200 orang di shift pagi yang direkrut oleh perusahaan tersebut. Ketika saya bertanya terkait cuti, tunjangan, dan gaji dari perusahaan konsultan yang memperkerjakannya, dia tersenyum kecut. Katanya ini adalah pekerjaan sampingan dan sifatnya informal.

Mengetahui bagaimana buzzer bekerja dan dimobilisasi menambah pengetahuan saya tentang bagaimana status kerja dan dilema Undang-Undang ITE yang bisa menyerang siapa saja. Dari posisi Joni kita melihat sebuah piramida di mana penguasa membayar perusahaan komunikasi yang kemudian memperkerjakan buzzer.

Joni dan teman-temannya memang dibayar untuk menyebarkan informasi, tapi jika salah satu dari mereka terkena kasus maka perusahaan tidak tahu menahu. Begitu pula dengan penguasa yang telah membayar konsultan komunikasi tersebut. Buzzer menjadi prajurit-prajurit oligarki yang bekerja tanpa jaminan dan tidak ada yang akan bertanggungjawab apabila dia terkena masalah.

Menghadapi persekusi digital

Akun-akun buzzer seperti yang dimiliki Joni bisa bekerja kepada siapa saja. Saya sendiri pernah menghadapi serangan digital terhadap akun saya @Nadyazura di Twitter oleh sekelompok buzzer berkali-kali. Saya mengetahui bahwa mereka adalah buzzer dengan melihat pola penyerangan yang musiman. Mereka menyerang selama satu atau dua hari berturut-turut, tidak lebih (saya curigai karena memang perintah kerja sudah diubah setiap beberapa hari mengikuti isu yang sedang menjadi tren). Untuk itu saya bisa memberikan tips-tips untuk menghadapi persekusi atau penyerangan digital.

Khususnya untuk perempuan dan minoritas seksual, serangan akan menyasar pada identitas kalian. Misalnya karena saya perempuan dan saya feminis saya akan dilabelkan sebagai lonte, pelacur, atau Gerwani. Minoritas seksual LGBTIQ (lesbian, gay, biseksual, transeksual, interseks, queer) akan mengalami perisakan lebih parah karena identitas mereka yang dijadikan musuh dalam politik siber Indonesia.

Baca juga: Bukan ‘Revenge Porn’ Tapi Kekerasan Seksual Berbasis Gambar

Ada beberapa tahapan untuk menghadapi persekusi digital berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya. Trik berikut ini juga berguna untuk kamu yang mengalami persekusi, atau serangan yang menyasar seksualitas, atau revenge porn.

    1. Mengetahui teknik persekusi digital. Penyerangan oleh buzzer mudah diketahui karena punya narasi yang sama. Untuk mengecek serangan buzzer atau bukan bisa dilihat profil pelaku penyerangan reputasi. Apabila cocok dengan kriteria kerja yang saya sebutkan di atas, bisa jadi itu mereka. Penyerangan akan dilakukan 1-2 hari dengan narasi yang itu-itu saja.

Apabila ada seseorang yang tidak kamu kenal melakukan ancaman melalui pesan langsung, seperti berusaha melacak IP address atau menjebol rekening bank kamu, saja jamin 98 persen bahwa pesan tersebut adalah penipuan yang menyodorkan informasi secara umum dan acak (scam). Jika ada akun anonim yang bilang mereka punya foto/video bugil dan meminta kamu untuk memberikan uang atau berhubungan seks, bisa jadi foto/video itu tidak pernah ada atau hanya editan. Itu hanya ancaman supaya mental kamu terganggu dan mengikuti permintaan mereka.

    1. Jangan terjebak dalam permainan psikologis mereka. Diserang secara terus menerus oleh akun-akun yang tidak dikenal memang mengganggu mental kamu. Apalagi jika disertai ancaman, kamu akan menjadi paranoid dan ketakutan apabila pemilik akun tersebut mengikuti atau mengawasi gerak-gerik kamu. Paranoia dan kekhawatiran yang kamu rasakan adalah permainan psikologis yang diinginkan oleh pelaku supaya kamu mudah melakukan apa yang diminta.

Untuk menjaga mental kamu tetap sehat, jangan gubris pesan-pesan tersebut. Ingat, kebanyakan pesan tersebut adalah penipuan yang memang bertujuan untuk menakut-nakuti dan membuat kamu menjadi paranoid. Jika kamu butuh bercerita, berceritalah pada teman yang kamu percaya, konselor, atau psikolog. Perisakan digital memang sangat berpengaruh pada kesehatan mental di dunia nyata.

    1. Maksimalkan keamanan digital kamu dengan tidak mengunggah hal-hal yang sifatnya personal seperti alamat rumah, nama orang tua, data diri, serta nomor rekening atau kartu kredit di media sosial. Jangan pernah berikan kode autentifikasi apa pun, baik Gojek, surel, atau akun Facebook kepada siapapun. Siapa pun!

Saya pernah mendapat ancaman dari kelompok Muslim Cyber Army yang menyatakan telah meretas akun BCA saya dan mengetahui dari IP address lokasi saya. Semua itu ancaman belaka dan saya tidak menjadi panik dan mengecek rekening bank secepatnya. Lagi pula, meretas akun rekening tidak semudah itu kecuali kita yang berpartisipasi dan membantu pelaku dengan memberikan nomor autentifikasi, rekening, atau nomor kartu.

Untuk melakukan pengamanan mental di Twitter, coba maksimalkan penggunaan fitur advance filter. Kamu bisa cek di bagian Setting, Notification kemudian Advance Filter. Fitur ini juga digunakan oleh banyak selebriti dan selebtwit untuk menyaring informasi.

Tetaplah waspada dan bersama-sama, kita jadikan media sosial sebagai tempat berinteraksi yang nyaman. Panjang umur perjuangan!

Nadya Karima Melati adalah aktivis/sejarawan feminis yang bermukim di Bonn, Jerman. Buku pertamanya adalah "Membicarakan Feminisme" (2019).