Women Lead Pendidikan Seks
March 30, 2021

Takut Hamil dan Melahirkan? Kamu Mungkin Alami Tokofobia

Sebagian perempuan mengalami ketakutan luar biasa akan kehamilan dan proses persalinan yang menyakitkan sehingga menghambat kemungkinan mereka punya anak.

by Catriona Jones dkk.
Lifestyle // Health and Beauty
Hamil_Kehamilan_Pregnancy_Pregnant_KarinaTungari
Share:

Bagi perempuan, kehamilan dan proses persalinan mendatangkan keresahan tersendiri. Kecemasan terkait sakitnya kontraksi, tindakan dokter, dan ketidakpastian proses kelahiran adalah hal-hal wajar yang perempuan alami.

Tetapi bagi sebagian dari mereka, ketakutan hamil dan melahirkan bisa sangat memberatkan, melampaui kehamilan itu sendiri serta mempengaruhi kemampuan sehari-hari. Ketakutan hamil yang teramat sangat ini dikenal dengan istilah tokofobia—yang secara harfiah berarti ketakutan luar biasa akan persalinan. Dan bagi beberapa perempuan, ini juga mencakup ketidaksukaan terhadap kehamilan.

Ketakutan Sebelum dan Sesudah Pengalaman Melahirkan

Tokofobia dapat digolongkan menjadi dua—primer dan sekunder. Tokofobia primer terjadi pada perempuan yang belum pernah melahirkan sebelumnya. Bagi mereka, ketakutan melahirkan biasanya diakibatkan pengalaman traumatis di masa lalu—misalnya pelecehan seksual. Ketakutan itu bisa juga ada kaitannya dengan melihat proses persalinan yang sulit, atau mendengarkan cerita atau menonton TV yang mengesankan persalinan sebagai proses memalukan atau berbahaya.

Sementara itu, perempuan yang menderita tokofobia sekunder, biasanya pernah punya pengalaman persalinan yang traumatis sehingga mereka takut melahirkan lagi.

Seberapa umum tokofobia terjadi? Sulit mengatakannya.

Beberapa riset menunjukkan bahwa antara 2,5 persen dan 14 persen perempuan sedunia terpengaruh tokofobia. Tapi beberapa peneliti percaya angka sebenarnya bisa mencapai 22 persen.

Angkanya bisa berbeda jauh karena perempuan dengan kadar tokofobia yang berbeda-beda terlibat dalam riset itu. Jadi, ada yang mengidap tokofobia lumayan ringan, tapi ada juga yang kondisinya jauh lebih parah.

Angka itu mungkin juga mencakup perempuan yang cemas dan depresi, bukan tokofobia.

Tokofobia dan Depresi

Perempuan yang mengidap tokofobia berasal dari latar belakang berbeda-beda. Adalah sulit untuk memprediksi siapa yang bakal terkena, meski cukup jelas bahwa perempuan yang menderita tokofobia juga lebih mungkin menderita kecemasan dan depresi dan masalah kesehatan mental lain.

Menurut riset, beberapa perempuan yang mengidap tokofobia memilih menghindari kehamilan sama sekali—atau mempertimbangkan aborsi jika hamil meski sebenarnya ingin punya anak. Ini bisa menjadi masalah tersendiri dalam keluarga perempuan tersebut.

Bagi mereka yang akhirnya hamil, kondisi ini dapat melampaui kehamilan itu sendiri dan mempengaruhi pilihan mereka tentang kehamilan dan persalinan. Ketika hamil, perempuan yang mengidap tokofobia mungkin meminta operasi caesar untuk menghindari proses persalinan.

Bagi beberapa perempuan, kehamilan itu sendiri sudah amat susah, apalagi dengan perut membesar dan merasakan pergerakan bayi. Kecemasan, insomnia, kurang tidur, kelainan makan dan depresi prakelahiran atau meningkatnya risiko depresi pascakelahiran semuanya telah dikenali sebagai akibat tokofobia.

Baca juga: 'Postpartum Depression': Perjalanan Lain Perempuan Usai Melahirkan

Beberapa dampak tokofobia yang muncul pada saat persalinan adalah persalinan yang lebih panjang. Biasanya, ini disertai penggunaan epidural dan alat bantu kelahiran seperti forceps atau ventouse (alat sedot yang ditempelkan pada kepala bayi). Semua metode ini dapat memiliki dampak terhadap ibu dan bayinya.

Setelah itu, beberapa perempuan yang menderita tokofobia mungkin merasakan ikatan yang kurang kuat dengan bayi mereka. Pengalaman sulit melahirkan mungkin juga membuat perempuan makin takut jika mereka hamil lagi.

Itulah sebabnya kita harus berupaya mencegah tokofobia jika mungkin—serta menyediakan penanganan efektif bagi perempuan yang menderita kondisi sulit ini.

Penanganan Tokofobia

Bukti anektodal menunjukkan bahwa penanganan klinis terhadap perempuan yang mengidap tokofobia tidaklah seragam. Tapi kabar baiknya, pertolongan itu ada.

Beberapa perempuan merasa terbantu setelah mendiskusikan pengalaman melahirkan yang traumatis. Yang lain merasa teryakinkan kembali dengan informasi tentang kehamilan dan melahirkan. Ada pula yang perlu penanganan lebih spesifik—misalnya beberapa kali konseling. Banyak juga merasa terbantu apabila berbicara dengan bidan dan dokter kandungan selama kehamilan.

Kondisi tokofobia bisa amat mengucilkan perempuan, karena dianggap tidak dialami oleh orang lain lagi. Bagi perempuan yang mengidapnya, mengetahui bahwa mereka tidaklah sendirian dapat amat membantu dan menenangkan.

Baca juga: Ibu Hamil dan Melahirkan Rentan Depresi

Di daerah Hull and East Riding of Yorkshire, Inggris, yang memiliki layanan kesehatan mental terkait kehamilan bagi perempuan dan keluarganya, sudah ada kebutuhan akan pendekatan konsisten untuk melayani dan mendukung perempuan yang menderita tokofobia.

Ada sekelompok praktisi, akademisi, dan pasien yang bekerja sama untuk menjajaki penanganan dan dukungan yang tersedia untuk perempuan ini—dan untuk menjawab ketimpangan pelayanan yang ada.

Upaya semacam ini, yang saat ini terdepan di Inggris, berupaya memastikan bahwa perempuan mendapatkan dukungan yang tepat, dan kebutuhan psikologis dan kehamilan mereka terpenuhi.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Catriona Jones adalah peneliti senior bidang Kesehatan Reproduksi dan Maternal, University of Hull. Franziska Wadephul adalah asisten peneliti di University of Hull. Julie Jomeen adalah profesor bidang Kebidanan dan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, University of Hull.