Women Lead Pendidikan Seks
November 24, 2022

Konferensi Internasional KUPI II: Teguhkan Eksistensi Ulama Perempuan

Konferensi internasional Kongres Ulama Perempuan Indonesia jadi ruang berbagi pengalaman dan konsolidasi gerakan perempuan.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Issues
Kongres Ulama Perempuan Indonesia 2
Share:

Konferensi internasional Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2 resmi dibuka pada (23/11). Konferensi tersebut dihadiri 1.600 peserta dari 32 provinsi Indonesia, dengan puluhan ulama perempuan dari 31 negara. 

Rozana Isa, Direktur Eksekutif Sister in Islam mengatakan, konferensi KUPI penting untuk mencapai kesetaraan gender. Dalam hematnya, KUPI menawarkan cara tafsir agama yang lebih progresif dalam melihat perempuan.

"Sehingga, kita juga hadir sebagai sister in Islam di mana perjuangan dan tantangan tak lagi jadi masalah individu atau segelintir orang saja," ujarnya.

Baca Juga: KUPI 2 Diadakan: Ulama Perempuan Internasional Berkumpul di Semarang dan Jepara

Senada dengan Isa, Ruby Kholifah, Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia menilai, konferensi ini tak hanya jadi ruang berbagi pengalaman tapi juga merumuskan cita-cita kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai Islam di masa depan.

“Praktik budaya dan bertebarannya tafsir yang konservatif, menghambat kesetaraan perempuan. Di sinilah kita membangun kolaborasi lintas aktor yang berbasis pengetahuan dan pengalaman. Ini (konferensi KUPI 2) benar-benar diniatkan tidak hanya dimiliki indonesia tapi juga bisa menginspirasi negara lain," imbuhnya pada Magdalene.

Dengan semangat berkeadilan inilah, konferensi internasional KUPI 2 menggelar berbagai diskusi untuk membahas isu lokal maupun internasional. Salah satu di antaranya, panel bertajuk Men Involvement in Faith Communities: Good practice, Implication and Backlash. Dalam panel ini, peserta yang didominasi oleh perempuan, bisa tahu lebih jauh keterlibatan laki-laki dalam isu kesetaraan gender. Keterlibatan itu penting, mengingat kesetaraan gender hanya bisa dicapai lewat konsolidasi dua pihak. Pun, pengakuan dari pihak laki-laki bahwa mereka punya privilese di masyarakat patriarkal. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Baca juga: Ulama Perempuan Tolak Kekerasan Seksual, Pernikahan Anak, dan Perusakan Alam

Dalam konteks lokal, ruang diskusi ini menghadirkan Nur Hasyim, Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Indonesia sekaligus pendiri Aliansi Laki-Laki Baru–jaringan laki-laki nasional pro-feminis yang mempromosikan kesetaraan gender.

Sementara, dalam konteks internasional, diskusi ini menghadirkan Imam Khalfan Bukuru Elie, direktor #ImamForShe, inisiatif global yang membahas interpretasi misoginis terhadap kitab suci Islam terhadap perempuan dan Mohamed Altamash Khan, Project Coordinator at Men Against Violence and Abuse (MAVA).

Bergabungnya tokoh-tokoh agama dari negara lain menjadi pencapaian baru buat KUPI sebagai sebuah gerakan. Berbeda dengan gerakan lima tahun lalu yang lebih terlokalisasi, hajatan kedua ini memperluas cakupan mereka hingga di level global.

Prof. Fatima Seedat, Head of Department of African Feminist Studies dari Universitas Cape Town bilang, konferensi ini jadi tanda KUPI sudah jadi bagian gerakan dunia.

“KUPI akan membawa peran sangat penting dalam gerakan muslim dunia karena memberikan kekayaan paradigma Islam dalam perspektif gender. Paradigma yang lahir karena kita menyadari ternyata perempuan mengalami isu yang cross cutting," jelasnya dalam konferensi pers.

Baca juga: Kepemimpinan Perempuan Islam Indonesia yang Membumi

Senada, Qutub Jahan Kidwai, Chairperson of Network for Education, Empowerment, Development and Awareness (NEEDA) menuturkan, konferensi internasional di KUPI 2 adalah pencapaian gerakan Islam global.

“Ini (konferensi KUPI 2) adalah perlawanan dan pernyataan berani bahwa kita (perempuan) berhak untuk merebut hak-hak sebagai manusia bermartabat. Bahwa keadilan itu ada untuk semua orang, bukan untuk orang-orang yang diidentifikasi sebagai laki-laki.”

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.