Women Lead Pendidikan Seks
May 12, 2020

Laki-laki Lakukan Kerja Domestik Tak Istimewa, Berhenti Merayakannya

Mengerjakan tugas domestik bukan prestasi yang dicapai laki-laki, ini adalah tanggung jawab yang perlu secara setara dibagi di antara semua gender.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues // Gender and Sexuality
Ayah Feminis_Karina Tungari
Share:

Ibu dua anak dan pendiri Queenrides, platform yang mendukung pemberdayaan dan keselamatan berkendara bagi perempuan, Iim Fahima Jahja menjadi sorotan sebagian warganet beberapa hari ini. Pada 10 Mei lalu, lewat akun Twitternya @iimfahima, ia mengumumkan lomba mengerjakan tugas domestik yang ditujukan bagi warganet laki-laki. Pekan ini, tugas yang dilombakan adalah mencuci piring. Ada imbalan Rp500 ribu untuk lima warganet terpilih yang mengikuti lomba yang mengusung tagar #cowokjugabisa tersebut.

Iim menyatakan bahwa konteks pembuatan lomba adalah karena pembagian peran gender di rumah membuat banyak perempuan memikul beban ganda sehingga dapat kelelahan secara fisik dan mental. Dengan mengikuti lomba ini, diharapkan warganet bisa memberi pengaruh bagi teman-temannya yang masih belum cukup seimbang berbagi peran mengerjakan tugas domestik.

Ratusan warganet menyukai dan menyebarkan cuitan Iim tersebut. Namun, pada kolom komentar, ada juga warganet laki-laki yang mengungkapkan diri mereka biasa melakukan tugas rumah sebagaimana yang dikerjakan pasangannya. Selain itu, ada yang merasa ide melombakan cuci piring untuk laki-laki keliru, karena mengglorifikasi dan memberikan hadiah bagi salah satu gender saja dalam pekerjaan domestik yang sebenarnya lumrah dilakukan laki-laki maupun perempuan. Bagi mereka, adanya lomba ini justru menegaskan budaya patriarkal yang memandang laki-laki istimewa dan patut diganjar hadiah bila bisa mengerjakan pekerjaan rumah—yang sering kali taken for granted adalah tugasnya perempuan.

Iim tak bergeming melihat tanggapan tersebut. Ia pun membuat utas di Twitter menjawab kritik warganet terkait lomba yang diumumkannya.

Pertama, ia melihat lomba cuci piring buat laki-laki ini tak ubahnya dengan lomba masak atau pasang popok oleh ayah. Semua lomba tersebut menurutnya merupakan strategi untuk membiasakan masyarakat untuk tidak melihat pekerjaan berdasarkan gender. Di samping tujuan ini, Iim juga menilai tujuan akhirnya toh memudahkan pekerjaan perempuan juga.

Kemudian, menanggapi warganet yang melihat hadiah atau “gaji” bagi laki-laki yang mencuci piring menyiratkan ketidakadilan karena perempuan sehari-hari melakukan hal sejenis, Iim mengatakan bahwa pada tahap awal pembiasaan melakukan tugas domestik untuk laki-laki, ia perlu disemangati sebelum akhirnya masyarakat menormalisasi pekerjaan yang dilakukannya. Ia mengimbuhkan, lagipula sebelumnya ia juga pernah membahas soal gaji istri dan menuai kontroversi pula. 

Baca juga: 5 Cara Dobrak Stereotip Peran Gender dalam Keluarga

Lebih lanjut, Iim menganggap hadiah Rp500 ribu untuk lima pemenang laki-laki tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan miliaran rupiah yang digelontorkan untuk pemberdayaan puluhan ribu perempuan lewat edukasi berkendara aman, pemberdayaan ekonomi, kepemimpinan, dan pola asuh orang tua dalam program Queenrides.    

Problematik

Dari berbagai poin jawaban Iim atas kritik warganet, saya cukup gatal dengan poin “hanya Rp500 ribu” kok diprotes. Saya rasa bukan perkara nominalnya yang perlu jadi sorotan. Sepeser pun yang keluar buat usaha yang dijalankan perempuan sehari-hari menunjukkan bahwa memang pembagian peran domestik ini timpang.

Barangkali ada sebagian peserta lomba tersebut yang sebenarnya memang sehari-hari sudah mengerjakan tugas domestik, atau justru jarang—padahal bisa. Hanya saja, mereka tidak mau karena menganggap toh ada pasangan/ibu/saudara perempuan saya yang akan mengerjakannya—dan hanya ingin dirayakan karena mencuci piring, sebuah kemampuan dasar hidup mandiri yang perlu dikuasai gender apa pun. Atau hanya sekadar mengejar hadiah uang dan pada hari-hari berikutnya kembali menjadi “raja” yang dilayani para perempuan di rumah.

Alih-alih efektif menyampaikan pesan normalisasi pengerjaan tugas domestik oleh laki-laki, lomba ini justru bisa berakhir jadi ajang eksis-eksisan saja. Memang, ini suatu strategi awal. Tapi saya rasa masih ada strategi lain yang lebih baik untuk mencapai gol tersampaikannya pesan tersebut tanpa berefek samping mengecilkan peran perempuan.

Bagaimana bila ada tantangan mengerjakan ragam pekerjaan domestik TANPA hadiah. Bagaimana bila durasinya sebulan, lalu secara bertahap ditingkatkan hingga sesemester, setahun, dan seterusnya. Bagaimana bila tidak ada yang “mengawasi” atau mengiming-imingi? Bagaimana bila tidak ada media sosial? Akankah para laki-laki itu sesemangat ketika ada lomba mencuci piring ini? Bak kembang api, semangat untuk laki-laki mengerjakan tugas domestik seperti lomba itu berlangsung sekejap mata.

Lalu, perkara Iim sempat membahas soal gaji istri dan miliaran rupiah yang dikeluarkan platform-nya untuk memberdayakan perempuan. Saya salut betul ia melakukan hal itu. Tetapi lagi-lagi, satu, ini bukan soal nominal. Dua, kekeliruan dalam mengampanyekan suatu hal tidak serta merta tuntas terbayar jasa masa lalu. Kedua hal itu terpisah meskipun semangatnya sama, mencapai kesetaraan. Visi bagus tetapi eksekusi bermasalah bisa ditangkap salah juga pesannya oleh orang-orang. 

Baca juga: Peran Laki-laki dalam Isu Kesetaraan Gender

Glorifikasi laki-laki mengerjakan tugas domestik tak pelak menciptakan label-label baru bagi gender satu ini. Ketika ada ayah menggendong anak atau mengganti popok, dia kerap dibilang keren, seksi, dan sejenisnya. Laki-laki memasak dipajang di media-media dan masih sering dipandang sebagai sesuatu yang “wah”, kendati banyak laki-laki berprofesi jadi tukang masak mulai dari chef restoran hingga tukang makanan gerobakan.

Berulang kali hal ini kita temukan di iklan-iklan, yang barangkali membawa pesan mengubah mindset tentang peran gender tradisional. Berulang kali pula dalam praktiknya kita masih menemukan kembali urusan domestik tetap dibebankan kepada perempuan dan mayoritas laki-laki—yang biasanya membebankan hal tersebut—diberi aplaus ketika sesekali saja mengambil alih tugas domestik.

Ini bukan masalah orang-orang yang sudah “tercerahkan” atau melek feminisme saja saya rasa. Ini perkara empati dan membangun relasi sehat  yang idealnya dipegang oleh setiap pasangan. Bapak-ibu saya tahu nol soal feminisme, soal pembagian peran gender di rumah sebagaimana ramai dikampanyekan di media sekarang, apalagi soal gaji istri. Tapi dalam praktik keseharian, tanpa diminta bapak saya turut mengurus pekerjaan rumah. Ini semata-mata karena dia paham tugas rumah itu meletihkan dan tidak sepele. Ini karena dia empati pada istrinya sehingga berbagi peran menjadi kesukarelaan baginya. Seperti halnya ibu, bapak juga tidak dipuji-puji apalagi dihadiahi karena mengerjakan pekerjaan domestik.

Kesadaran tidak turun dari langit memang, tetapi tidak juga perlu “disuapi” karena ketika tidak ada lagi yang menyuapi, seseorang tak lagi punya kesadaran itu. Ia terbentuk dari keinginan buat tahu tentang suatu isu—dalam hal ini pembagian peran domestik setara, pengamatan dan pengalaman berulang bahwa yang dilakukan sebelumnya keliru, hingga akhirnya terinternalisasi seiring durasi.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop