Women Lead Pendidikan Seks
August 31, 2020

Mengapa Pria Begitu Sulit Minta Maaf?

Pria sulit sekali meminta maaf, sementara perempuan terlalu sering mengutarakannya, sekadar menjaga situasi tetap damai.

by Julia Suryakusuma, Kolumnis
Lifestyle
Share:

Seperti lagu Neil Sedaka di tahun 1962 yang berjudul "Breaking Up is Hard to Do” (putus cinta itu sulit sekali), tetapi kelihatannya tidak sesulit mengatakan "saya minta maaf", terutama untuk pria.

Contoh yang sangat publik dan pedih dari kenyataan ini baru terjadi Juli lalu di tangga Gedung Capitol AS, melibatkan anggota Kongres berusia 30 tahun, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), dan anggota Kongres lainnya berusia 65 tahun, Ted Yoho.

Mereka berdebat tentang pengamatan AOC bahwa maraknya kejahatan di Kota New York berkaitan dengan meningkatnya kemiskinan. Yoho mencemooh AOC sebagai "menjijikkan", "tidak waras", dan mengatakan kebijakannya adalah "bullshit” (omong kosong). Tidak puas dengan rentetan penghinaannya, dia mengakhiri omelannya dengan memanggil AOC "fucking bitch" (pelacur sialan). Wow, cuci mulutmu pakai sabun, Mr. Yoho!

AOC menuliskan kejadian ini di akun Twitter-nya. Dari ruang Kongres, ia juga memberikan pidato feminis yang tenang, lincir (eloquent),  dan amat kuat, menegur Yoho atas perilakunya, serta bagaimana pria itu sama sekali tidak kelihatan berniat meminta maaf. Seperti dikutip The Huffington Post, Yoho hanya menyatakan bahwa dia tidak melakukan hal tersebut, tapi jika dia memang berbuat seperti itu, dia merasa menyesal jika ada yang tersinggung, dan bahwa dia adalah ayah dari seorang anak perempuan.

Halo? Bukan permintaan maaf, dong, jika Anda mengatakan Anda tidak melakukannya! Dan apa hubungannya menjadi seorang ayah dengan makian dia di tangga Gedung Capitol itu? Beberapa ayah bisa sangat kejam dan jahat—beberapa bahkan mampu memperkosa anak perempuan mereka.

Ternyata ada perbedaan gender dalam hal meminta maaf. Jika perempuan cenderung meminta maaf terlalu banyak, laki-laki tidak cukup meminta maaf. Mengapa demikian?

Kita semua melakukan kesalahan dan mungkin melukai perasaan seseorang karenanya. Hal ini merupakan kejadian biasa, jadi meminta maaf seharusnya menjadi bagian normal dari interaksi manusia, bukan? Lagi pula, kita senang menerima permintaan maaf, jadi mengapa sangat sulit untuk meminta maaf, terutama untuk laki-laki? Hal ini berkaitan dengan beberapa hal: kerentanan (vulnerability), kelemahan, penolakan, penyangkalan (being in denial), merasa berhak (entitlement), mentalitas menang dan kalah, ego, serta patriarki.

Baca juga: Mengapa Laki-laki Marah Ketika Merasa Malu?

Penolakan itu memalukan

Pertama-tama, meminta maaf berarti mengakui bahwa Anda bersalah, yang dapat membuat posisi Anda rentan. Bagaimana jika pihak yang dirugikan tidak menerima permintaan maaf Anda? Ini bisa berarti mendapatkan sikap dingin atau penolakan langsung. Bagaimana jika orang tersebut tidak menerima permintaan maaf Anda bahkan setelah Anda mendatanginya dengan menunduk-nunduk penuh penyesalan? Jika itu menyangkut seseorang yang Anda sayangi atau cintai, hal itu sulit untuk diterima dan sangat memalukan. Kehilangan muka buat laki-laki? Sulit ya!

Menurut jurnal Psychology Today, "Laki-laki cenderung menganggap penolakan sebagai tantangan terhadap maskulinitas mereka atau sikap merendahkan terhadap posisi yang mereka rasa mereka layak dapatkan di dalam hierarki sosial". Jadi buat apa susah-susah mengambil risiko dengan meminta maaf?

Ada laki-laki yang menganggap meminta maaf itu tanda kelemahan, perasaan kehilangan kekuasaan atau status, tidak mampu, tidak kompeten, konyol, atau benar-benar bodoh. Ada juga yang menganggap meminta maaf itu merendahkan, memalukan, atau sebuah aib. Mungkin itu ada kaitannya dengan kritikan kasar yang pernah mereka terima dari orang tua atau figur otoritas lainnya ketika mereka tumbuh dewasa. Akibatnya, mereka takut mengakui kesalahan karena itu menimbulkan perasaan tidak nyaman dan bahkan mungkin sangat tidak menyenangkan. Seperti kita ketahui, trauma masa kecil bisa berlangsung hingga dewasa.

Meskipun mereka tidak dikritik dengan kasar, mungkin mereka merasa tidak dapat memenuhi standar tinggi orang tua mereka dalam hal profesionalisme, idealisme, atau perfeksionisme. Hal ini terkadang terjadi pada anak-anak dari tokoh masyarakat, selebritas, atau profesional yang sangat berprestasi. Meskipun mereka sendiri mungkin juga memiliki bakat yang sama dengan orang tua mereka, kecemasan akan dibandingkan dengan orang tua membuat mereka menekan bakat mereka dan bekerja di bidang profesional yang sama sekali berbeda. Tetapi merepresi bakat, kreativitas, dan jati diri sebenarnya dapat menyebabkan perasaan tujuan hidup tidak terpenuhi, kebencian, dan rasa tidak aman yang membuat permintaan maaf menjadi lebih sulit, terutama kepada orang tua yang bersangkutan.

Ketika Anda menemukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan atau diterima, Anda bisa melakukan penyangkalan. Jadi, jika Anda tidak mengakui bahwa Anda melakukan kesalahan, berarti Anda belum melakukannya, bukan? Ini seperti anak kecil yang menyangkal makan cokelat tapi cokelat itu menempel di sekitar bibirnya. Jadi, jika Anda tidak mengakui kesalahan Anda, tidak perlu mempertanggungjawabkannya bukan?

Lalu ada faktor ego. Orang yang bersalah harus meminta maaf kepada yang dirugikan, tetapi sering kali pria terbentur ego rapuh dan harga diri palsu mereka yang terkenal itu.

Baca juga: Jangan Sulit Minta Maaf, Efeknya Dahsyat!

Ada dua hal lainnya: perasaan berhak dan empati. Dalam dunia yang patriarkal, laki-laki merasa lebih berhak dan merasa mereka bisa mendapatkan segalanya. Jelas, jika seseorang memiliki perasaan berhak, mereka tidak akan mempunyai banyak empati, bukan?

Dalam dunia patriarki, laki-laki dibesarkan untuk melihat kehidupan sebagai dominasi dan penundukan, serta menang atau kalah. Sementara perempuan diajari untuk memberi dan menerima, dan bahwa mengalah adalah sikap feminin, yang dapat diekspresikan dengan meminta maaf bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan pun, sekadar menjaga agar keadaan tetap “damai”.

Menurut sebuah artikel tahun 2016 di The Psychology of Women Quarterly (PWQ), stereotip gender di AS masih sekuat 30 tahun yang lalu. Saya kira dalam masyarakat yang lebih tradisional seperti Indonesia, situasinya masih sama, bahkan lebih.

Kemampuan meminta maaf yang sungguh-sungguh dan tulus membutuhkan keberanian, rasa percaya diri yang kokoh dan sehat, kedewasaan, percaya diri, kerendahan hati, dan selain kemampuan menghargai orang lain, juga menghargai diri sendiri. Idealnya, permintaan maaf memiliki tiga unsur: penyesalan, tanggung jawab, dan pemulihan. Permintaan maaf pun harus tulus dan jangan membuat alasan atau menyalahkan orang lain ya! 

Permintaan maaf mempunyai  kekuatan yang dahsyat, dan dapat menyembuhkan, membebaskan, dan bahkan mengubah kehidupan Anda. Permintaan maaf  itu dapat menghapus atau setidaknya meredakan amarah,  dan membuka sumbatan perasaan terjebak di masa lalu yang menghalangi Anda untuk bergerak maju di dalam hidup. Dan tentu saja hal itu mengundang pengampunan yang menguntungkan baik bagi yang memaafkan maupun yang dimaafkan.

 Jadi para pria, termasuk semua pemimpin (politik) pria di luaran sana! Belajarlah meminta maaf! Hal ini merupakan kunci untuk hubungan antar-individu dan keluarga yang sehat. Bahkan  siapa tahu, kemampuan meminta maaf bisa menjadi solusi perdamaian dunia!


Julia Suryakusuma lahir di New Delhi, India, dan sempat tinggal di banyak negara di Eropa. Ia telah menulis tentang banyak isu, termasuk kesetaraan gender, keadilan sosial, kebangkitan Islam, dan kontrol negara. Buku-bukunya termasuk “Sex, Power and Nation” (2004), “Agama, Seks, dan Kekuasaan” (2012), dan “Julia's Jihad” (2013), kumpulan kolom berbahasa Inggris yang diterbitkan antara 2006 dan 2013.