Women Lead Pendidikan Seks
August 25, 2021

‘Mimi’ dan Serba Salah Jadi Ibu Pengganti di India

Film ‘Mimi’ memberi gambaran soal kerentanan perempuan yang menjadi ibu pengganti atau surogasi.

by Selma Kirana Haryadi
Lifestyle
Share:

Surogasi atau kesepakatan antara suami istri dan perempuan yang bersedia "menyewakan" rahimnya untuk mengandung anak biologis, dengan timbal balik tertentu (biasanya uang) relatif kontroversial. Selain memuat bias normatif dan disangkutkan dengan nilai-nilai agama, ibu pengganti (surrogate mother) juga selalu berada di posisi yang rentan dirugikan. 

Isu ibu pengganti tersebut diangkat secara apik lewat ‘Mimi’ (2021), sebuah film India garapan Netflix. Film ini menceritakan kisah Mimi (Kriti Sanon), perempuan muda yang memiliki mimpi untuk jadi bintang film Bollywood. Untuk mencapai mimpi itu, Mimi yang berasal dari keluarga miskin membutuhkan uang yang banyak. 

Sehingga, ketika sepasang suami istri dari Amerika Serikat, John (Aidan Whytock) dan Summer (Evelyn Edwards), menawarinya kesepakatan surogasi dengan imbalan sebesar ₹20 lakh (sekitar US$300 juta), Mimi menerimanya.  Tak pernah Mimi sangka, keputusan itu memberinya banyak pelajaran hidup. Hal itu juga menjadi kritik terhadap banyak isu sosial yang masih terjadi sampai hari ini.

Selain isu sosial yang diangkatnya, yang menarik dari film ini adalah akting Kriti Sanon. Aktris itu sukses menampilkan kontras yang memukau saat berperan sebagai penari sebelum hamil, pun ketika sudah hamil dan melahirkan. Keceriaan dan kebebasan jiwanya terpancar jelas tiap kali dia menari. Sebaliknya, Kriti berhasil memerankan figur ibu yang penyayang, rela berkorban, dan selalu menatap sendu sang anak tiap kali mengingat perjalanan panjang nan menyedihkan yang ia harus alami untuk melahirkan anaknya ke dunia. 

Baca juga: 4 Rekomendasi Film India yang Urai Patriarki dengan Gamblang

Surogasi dan Kerentanan Perempuan 

Dipilihnya kelas sosial menengah ke bawah sebagai latar belakang Mimi, merupakan representasi dari mayoritas perempuan miskin yang jadi ibu pengganti di India. Tak sedikit dari mereka yang tengah terdesak banyak kebutuhan, memilih melakukan surogasi. Seperti halnya Mimi, yang membutuhkan banyak uang untuk bisa mencapai mimpi yang telah lama dicita-citakannya. 

Sayangnya, kebanyakan ibu pengganti tak cukup teredukasi akan kondisi yang akan dia alami, berikut perubahan dan konsekuensi di belakangnya. Demikian pula dengan Mimi, yang dikisahkan tak terlalu pikir panjang sebelum menerima tawaran Summer dan John setelah diiming-imingi uang dalam jumlah besar. Dampaknya pada Mimi, ia dikucilkan keluarga dan masyarakat. Sampai-sampai, itu membuatnya harus berbohong dan merahasiakan kesepakatan surogasi yang diambilnya. 

Itu adalah hal yang tak pernah terpikirkan oleh Mimi, juga kebanyakan perempuan lain yang jadi ibu pengganti. Film ini juga menunjukkan, surogasi membawa dampak yang berlipat pada perempuan. Kendati sifatnya kesepakatan antara kedua belah pihak, surogasi lebih banyak merugikan perempuan yang jadi ibu pengganti ketimbang orang tua biologis anak. Anak yang dilahirkan dari proses surogasi juga biasanya bakal dianggap rendah oleh masyarakat yang penuh penghakiman. Jangankan anak hasil surogasi, stigma terhadap anak angkat, anak sambung, atau anak di luar pernikahan saja sudah sangat kental, sehingga kerap kali mereka dikucilkan oleh masyarakat.

Sumber: Netflix

Kentalnya penghakiman masyarakat terhadap kehidupan pribadi, termasuk seksualitas perempuan, membuat perempuan yang jadi ibu pengganti kerap dianggap sebagai perempuan murahan karena stigma “hamil di luar pernikahan” yang masih kental dengan cap buruknya. Idealnya, itu tak patut dianggap masalah karena membawa keuntungan mutual. Namun, kita tak bisa meminggirkan fakta bahwa di tengah masyarakat India yang cenderung konservatif, bias-bias norma sosial dan agama akan selalu meliputi keputusan hidup yang perempuan ambil. 

Sewaktu isu surogasi ramai diperbincangkan warganet beberapa hari lalu, banyak sekali saya temui komentar-komentar yang mengecilkan para ibu pengganti seperti Mimi karena dinilai “menjual” rahimnya hanya demi uang. Usaha film ini untuk menunjukkan bagaimana cara pandang yang classist dan tak berempati itu telah mendiskriminasi dan mengucilkan para ibu pengganti patut diapresiasi, meski tak sepenuhnya berhasil lantaran masyarakat dan keluarga Mimi dibuat terlalu mudah dan cepat menerima kehamilannya dan anak yang dilahirkannya, Raj.

Baca juga: 4 Film India Kontroversial yang Angkat Isu Agama dan Perempuan

Di sisi lain, film ini masih mereproduksi cara pandang yang melanggengkan superioritas kulit putih, karena keluarga Mimi yang semula masih sedikit marah karena kehamilannya, mendadak langsung memaafkannya. Usut punya usur, mereka terpesona dengan kulit sang bayi yang begitu putih dan cerah. Begitu juga dengan para tetangga yang semula menggunjingkan Mimi, jadi mengagumi kulit putih bayinya.

Pentingnya Diskusi Penerimaan Kondisi Anak bagi Calon Orang Tua

Konflik dalam film Mimi jadi lebih dalam dan luas tatkala dokter mendiagnosis anak yang Mimi kandung berpotensi mengidap down syndrome. Summer dan John langsung mengurungkan niat mereka mengasuh anak yang Mimi kandung dan memutuskan kesepakatan secara sepihak dengan alasan tak mau mengurus anak dengan disabilitas

Pada sebuah scene, Summer bahkan berkata, dia dan John sudah berusaha keras untuk menemukan “perempuan terbaik” untuk mengandung anak mereka, tapi masih saja ada celah yang membuat mimpi keduanya untuk punya anak “sempurna” tak tercapai. Pertama, ini menunjukkan cara pandang kebanyakan orang yang hanya menilai perempuan dari fungsi reproduksinya, seolah Mimi hanyalah alat atau barang yang jadi tak berguna, begitu tak bisa menghasilkan produk yang sempurna.

Yang membuat cara pandang John dan Summer kian bermasalah adalah karena mereka berakhir meninggalkan Mimi. Sementara itu, Mimi yang memutuskan untuk mempertahankan kandungannya berjuang sendiri dan menghadapi rasa sakit, termasuk mempersiapkan diri untuk jadi seorang ibu tunggal.

Film Mimi mengajarkan nilai sangat penting yang jarang dibahas, yaitu pentingya setiap pasangan untuk bersepakat dan berkomitmen menerima apapun kondisi anak yang dilahirkan, bahkan sebelum mereka memutuskan untuk mempunyai anak. Penting bagi setiap pasangan untuk berdialog, bagaimana kalau anak nantinya lahir atau tumbuh menjadi seseorang yang tak sesuai norma masyarakat? Entah penyandang disabilitas, memiliki ekspresi gender non-normatif, dan lain-lainnya. Bagaimana cara mereka menerima itu? Penanganan atau perawatan apa yang akan mereka lakukan selama membesarkan anak tersebut? 

Film ini juga menunjukkan bagaimana absennya payung hukum yang menjamin keselamatan ibu dan bayi dalam praktik surogasi membuat kondisi ibu pengganti kian rentan, seperti Mimi yang ditinggalkan secara sepihak lantaran tak ada perjanjian tertulis yang mengikat John dan Summer untuk tetap memenuhi kewajibannya, tak peduli kondisi anak yang dilahirkan. 

Baca juga: ‘Tribhanga’: Pemberontakan Perempuan dan Hubungan Ibu-Anak yang Rusak

Selain minim edukasi, hal ini juga buah dari perjalanan panjang nan pelik soal legalitas surogasi di India. Selama bertahun-tahun, India menjadi tujuan populer bagi banyak pasangan di seluruh dunia yang ingin melakukan surogasi. Itu disebabkan karena banyak perempuan India yang "tersedia", baik karena persetujuan pribadi, paksaan, atau ketidakpahaman mengenai konsekuensi jangka panjangnya. Hal itu juga disebabkan karena biaya surogasi di India jauh lebih murah ketimbang di negara-negara lain. 

Meski begitu, hal itu terhenti pada tahun 2015 berkat kebijakan baru pemerintah India yang mengatur praktik surogasi bagi pasangan dari luar negeri dengan perempuan India itu ilegal. Hanya para suami istri dari India yang telah menikah selama setidaknya lima tahun lah yang boleh melakukan surogasi. 

Kemudian, pada Desember 2018, pemerintah membuat peraturan baru yang melarang segala praktik surogasi komersial, kecuali bagi pasangan suami istri asli India yang telah menikah selama lima tahun dan memiliki surat yang menyatakan ketidaksuburan mereka secara medis. Ketentuan tersebut juga hanya memperbolehkan perempuan melakukan surogasi selama satu kali. Itu pun selama perempuan itu sudah menikah dan memiliki anak biologis, serta merupakan kerabat dekat dari pasangan suami istri.

Kebijakan ini dinilai gagal memberi perlindungan bagi keselamatan dan otoritas diri perempuan. Kebijakan ini malah berfokus melahirkan aturan-aturan yang tak tepat sasaran dan diskriminatif karena melarang orang tua tunggal, pasangan homoseksual, dan pasangan yang belum menikah untuk melakukan surogasi. 

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.