Women Lead Pendidikan Seks
January 28, 2022

‘Oppa’ dan ‘Unnie’ Boleh ‘Skinship’, tapi Korsel Masih Homofobik

Budaya populer menjadi wadah representasi komunitas LGBTQ+ dan menolak nilai heteronormatif, tapi Korea Selatan masih homofobik.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Issues
'Oppa' dan 'Unnie' Boleh 'Skinship', tapi Korsel Masih Homofobik
Share:

Grup idola perempuan MAMAMOO dikenal selalu menerobos batas yang ditetapkan industri hiburan Korea Selatan, termasuk standar kecantikan yang ditentang oleh anggotanya Hwasa. Namun, idola berkulit kecokelatan itu tidak sendiri menembus ‘aturan’ industri hiburan, penyanyi rap MAMAMOO Moonbyul belum lama ini mengatakan tidak ingin dikotakkan dalam ekspresi gender yang biner. 

Dikutip dari media NME, Moonbyul tidak ingin musiknya dilabeli feminin atau maskulin karena ekspresi gendernya androgini. Belum lama ini ia merilis mini album 6equence. Ia mengatakan, “Saya ingin menjadi orang yang bisa menantang pandangan gender biner lewat musik saya.”

Namun, Moonbyul bukan selebritas pertama yang ingin menerobos budaya heteronormatif melalui karyanya. Holland, misalnya, idola gay pertama Korea Selatan yang debut empat tahun lalu. Dengan lagu pertamanya “Neverland” Holland ingin menunjukkan cinta adalah cinta. 

Saat ini, dia dikabarkan membintangi drama Boys Love (BL), Ocean Likes Me yang disambut hangat penggemarnya karena menjadi representasi yang tepat untuk kisah cinta hubungan gay. Selain itu, grup idola gay pertama Lioness yang debut tahun lalu dengan “Show Me Your Pride” juga menjadi representasi komunitas LGBTQ+. 

Dalam video musiknya, kuartet tersebut terlihat menggunakan topeng kucing hitam putih untuk menyembunyikan identitasnya. Namun, anggotanya, Damjun, membuka topeng itu di akhir video sebagai simbol solidaritas untuk komunitas. Sementara, tiga lainnya yang masih menggunakan topeng menyampaikan tidak apa-apa jika belum coming out dan kamu tidak sendirian. 

Baca juga: Korea Selatan Tolak Maskulinitas Kaku, Lalu Kenapa Masih Seksis

Berkaca dari itu, idola dan konten budaya populer, seperti drama BL, film lesbian, dan film pendek untuk orang muda queer menjadi ruang representasi komunitas LGBTQ+. Meski demikian, homofobia di masyarakat juga masih kuat dan terus menjamur. 

Diskriminasi dari Kelompok Fundamental Keagamaan

Diskriminasi dan homofobia terhadap komunitas LGBTQ+ dibuka bak kotak pandora saat Sersan Byun Hee-soo, anggota militer transpuan pertama Korea Selatan, bunuh diri Maret tahun lalu. Bagi aktivis LGBTQ+ di Korea Selatan, kasus Byun Hee-soo menegaskan homofobia sistemik di militer. Selain itu, kembali menyorot hukuman penjara bagi personel militer Korea Selatan bagian dari komunitas tersebut. 

Sejak kecil Byun Hee-soo bercita-cita menjadi anggota militer yang akhirnya terwujud pada 2017. Dua tahun kemudian dia menjalankan operasi transisi di Thailand, tetapi atasannya di militer menilai hal tersebut tidak pantas. Melansir dari media DW, Kementerian Pertahanan Korea Selatan menganggap Byun Hee-soo ‘cacat’ secara mental dan fisik karena tidak memiliki genital laki-laki lalu dikeluarkan dari militer pada 2020. 

Tidak terima atas keputusan tersebut, dalam pada konferensi pers yang dilaksanakan Agustus dua tahun lalu, Byun Hee-soo bilang, “Saya ingin menunjukkan kepada semua orang kalau saya bisa menjadi tentara yang hebat. (Saya) Mohon berikan kesempatan itu.”

Sentimen negatif pada komunitas LGBTQ+ juga menyeruak ketika pemerintah melakukan COVID-19 crackdown setelah seorang laki-laki terjangkit virus Corona saat mengunjungi gay bar di daerah Itaewon, Seoul Mei dua tahun lalu. Pemerintah Korea Selatan lalu melakukan penelusuran digital, lewat bukti transaksi keuangan, untuk mengetahui siapa saja yang berinteraksi dengan laki-laki itu. 

Dalam satu sisi, mengutip The Conversation, penelusuran tersebut menjadi ancaman bagi anggota komunitas yang belum melela kepada orang di sekitarnya. Selain itu, membuka lebar pintu untuk diskriminasi karena masyarakat homofobik mengatakan gaya hidup tidak bermoral yang menyebabkan menyebarnya virus Corona.

Baca juga: Perempuan Korea Selatan Lawan Diskriminasi Lewat ‘Hallyu Wave’

Rasa kebencian terhadap komunitas LGBTQ+ itu banyak berasal dari kelompok fundamental agama Kristen yang mengatakan homoseksualitas adalah dosa dan melanggar perintah Tuhan. Kelompok tersebut juga kerap melakukan demonstrasi anti-LGBTQ+ terutama saat dilakukannya pride parade

Kelompok agama konservatif tersebut juga gencar menolak pengesahan Rancangan Undang-undang Anti-diskriminasi Korea Selatan yang melarang diskriminasi di berbagai aspek, seperti gender, ras, dan orientasi seksual. Meski demikian, RUU itu terus mandek dan tak kunjung disahkan sejak diajukan 2007 silam

Pilar Kekeluargaan dan Konfusianisme

Kelompok konservatif agama bukan satu-satunya yang melanggengkan homofobia di Korea Selatan. Dalam jurnal Homosexuality in Ancient and Modern Korea oleh akademisi dari Pyeongtaek University dan Hanyoung Theological University berargumen budaya Korea yang berakar pada Konfusianisme juga memengaruhi sentimen negatif pada LGBTQ+. 

Penulisnya, Kim Young-gwan dan Hahn Sook-ja menyebutkan, Konfusianisme menetapkan sistem keluarga yang heteroseksual. Karenanya, pernikahan dan memiliki anak dinilai sebagai sebuah tugas yang saleh. Hal itu semakin dipertegas dengan pilar Sam Kang Oh Ryung (Tiga Nilai Fundamental dan Lima Hukum Moral) yang konservatif, patriarkal, dan bersifat hierarki bahwa heteroseksualitas adalah norma. 

“Untuk orang Korea, aktivitas seksual ada dalam pernikahan heteroseksual dan membangun keluarga. Karenanya, homoseksualitas tidak diakui dan dinilai sebagai aktivitas seksual yang aneh,” tulis jurnal tersebut. 

Meski demikian, homoseksualitas bisa dilacak dalam aspek kesejarahan Korea Selatan. Kelompok militer laki-laki hwarang di masa Dinasti Silla, misalnya, relasi seksualnya ditemukan dalam frasa puisi Song of Yearning for the Flower Boy Tamara pada buku sejarah hwarang, Sam-Guk-Yu-Sa. 

Selain itu, di Dinasti Goryeo, datang setelah Silla, yang menyebut homoseksualitas sebagai youngyang-chi-hong atau pertemuan dua laki-laki. Saat ini, istilah tersebut diartikan sebagai aktivitas seksual yang menyimpang. Lalu masa Dinasti Joseon, kelompok Konfusianisme kelas menengah menyebut aktivitas seksual antara laki-laki sebagai tidak bermoral. Namun, tetap dilakukan beberapa masyarakat bangsawan atau rakyat biasa. 

Baca juga: Rambut Pendek An San dan Feminisme yang Ditabukan Korea Selatan

Terlepas dari itu, aspek lain yang mempengaruhi homofobia ialah misogini dan maskulinitas toksik. Jinsook Kim, akademisi dari University of Texas dalam penelitiannya menuliskan, hegemoni maskulinitas kemudian melahirkan male bonding yang homofobik dan misoginis untuk menetapkan dominasi laki-laki. 

“Oleh karena ada kesulitan membedakan male bonding (homososialitas) dan homoseksualitas, maka untuk memperkuat male bonding muncul ketakutan atas homoseksualitas dan praktik mengucilkan femininitas,” tulisnya dalam Misogyny for Male Solidarity: Online Hate discourse Against Women in South Korea

Melihat homofobia itu, Korea Selatan menjadi paradoks. Saat dipuja tidak takut menunjukkan afeksi lewat sentuhan atau skinship kepada sesama laki-laki maupun perempuan, komunitas LGBTQ+  akan dirundung jika menunjukkan kasih sayangnya kepada orang terkasih.

Ilustrasi: Karina Tungari

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.