Women Lead Pendidikan Seks
January 30, 2018

Perempuan dalam Perkara Video Intim di Ranah Digital

Jika video seks beredar luas, umumnya sorotan dan penghakiman diberikan hanya kepada perempuan.

by Amadea Raissa
Issues // Gender and Sexuality
Share:

Beberapa waktu lalu, orang-orang dihebohkan oleh beredarnya video adegan intim sepasang muda mudi yang disebar di berbagai ranah digital. Dalam beberapa saat saja, perempuan yang diduga sebagai orang yang berperan dalam video tersebut diketahui namanya. Sosok perempuan itu diduga sebagai alumnus salah satu universitas negeri di Jakarta. Namanya menjadi trending topic pencarian di berbagai mesin pencarian dan juga media sosial.

Netizen pun ramai-ramai mencari “keberadaan” si perempuan. Tidak lama berselang, muncul berbagai akun palsu yang mengatasnamakan si perempuan. Akun-akun tersebut menyebarkan foto-foto lama si perempuan dengan berbagai macam teks, mulai dari permintaan maaf karena telah tampil dalam video tersebut yang disertai dengan kata-kata bijak hingga berusaha “merepresentasikan” si perempuan secara nyata. Akun media sosial yang sebenarnya dari perempuan itu diketahui telah ditutup tidak lama setelah videonya tersebar.

Saya tidak heran dengan cepatnya peredaran informasi data pribadi seseorang di ranah dunia digital. Netizen kita memang terkenal sangat ingin tahu alias kepo untuk urusan yang seperti ini sehingga peredaran informasi berkembang sangat cepat. Namun, herannya yang menjadi sorotan hanya si perempuan saja. Lalu, bagaimana dengan sosok laki-laki di dalam video tersebut? Hanya sedikit saja informasi yang muncul di media tentang laki-laki ini, yang paling jelas cuma namanya.

Mengapa hanya si perempuan saja yang menjadi perhatian publik dan massa secara luas? Mengapa netizen begitu penasaran untuk menggali informasi tentang si perempuan tapi tidak berlaku hal yang sama terhadap si laki-laki? Mengapa selalu ada penghakiman sepihak pada orang-orang yang terlibat di dalam video tersebut, tapi terutama pada perempuan?

Di lain waktu, saat bertemu beberapa teman lama, obrolan kami tertuju pada sebuah artikel tentang video intim pasangan yang saya sebutkan tadi di salah satu portal berita. Salah satu teman saya kemudian menonton video tersebut dan langsung berkomentar, “Wah, boleh juga ceweknya.” Dengan nada merendahkan, ia pun mulai mengomentari seluruh adegan di video tersebut, mulai dari posisi seksual hingga bagian-bagian tubuh si perempuan. Iya, hanya perempuan yang dikomentari sementara ia tidak sedikit pun ia mengomentari si laki-laki.

Satu lagi teman saya langsung menghujat si perempuan. Ia mulai membawa-bawa identitas keperawanan sebagai sesuatu yang mutlak sebelum pernikahan. Ia juga mulai menelusuri dalil agama dengan menyebut perkara dosa, sesuatu yang masih sangat abu-abu bagi manusia. Bagaimana mungkin mereka bisa menghakimi seseorang sebagai pendosa tetapi melupakan dosa-dosanya sendiri? Sementara komentar tentang si laki-laki hanya berpusat pada ukuran alat genitalnya.

Mendengar komentar-komentar tersebut, saya pun mulai mencoba menyelami pandangan mereka. Mengapa komentar dengan basis agama menjadi sesuatu yang begitu menyudutkan pihak perempuan? Tidakkah mereka sadar jika relasi yang dibangun adalah antara dua pihak? Mengapa perempuan sering dianggap amoral jika sudah melakukan hubungan seks sebelum menikah? Bukankah kita terlalu picik untuk menilai seseorang hanya dari selangkangannya saja?

Tentu kita masih ingat, beberapa tahun silam video intim artis yang tersebar di ranah digital. Selama beberapa bulan, pemberitaan media massa tidak luput menyoroti kedua artis perempuan yang menjadi lawan main si laki-laki, vokalis band terkenal itu. Penghakiman luar biasa datang dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi massa yang melakukan demonstrasi dan penggerebekan hingga hukuman sosial di masyarakat dengan komentar-komentar yang menjatuhkan keduanya.

Buat saya, dua perempuan tersebut adalah korban. Mereka adalah korban penyalahgunaan kepercayaan dan konsensus atas tubuh mereka. Si vokalis pria lawan main kedua perempuan tersebut terbukti secara sah di pengadilan telah memperlihatkan video intim mereka kepada temannya. Ya, kepercayaan yang telah diberikan si perempuan telah dilanggar. Namun, tentu bisa ditebak jika komentar yang diterima si perempuan adalah penghakiman karena telah melakukan hubungan seks dengan yang bukan muhrim-nya. Yang paling menyedihkan, jika komentar-komentar itu datang dari kaum perempuan sendiri.

Hubungan seks adalah ranah personal yang seharusnya tidak menjadi urusan publik atau negara. Ranah personal tersebut hanya berlaku untuk individu yang bersangkutan. Permasalahan moralitas yang selama ini menjadi acuan banyak orang untuk menghakimi dalam membuat perbandingan keburukan orang lain harus dihentikan karena pada akhirnya yang berhak menghakimi diri kita hanya Yang Maha saja.

Amadea Raissa menggambarkan dirinya sebagai “potongan-potongan puzzle”. Dia senang mendengarkan aliran shoegaze dan dreamy pop. Jatuh cinta dengan Keanu Reeves sejak menonton My Own Private Idaho. Hidup sebagai nomad digital di siang hari dan burung hantu di malam hari. Dia bisa dikontak lewat Twitter @amadearaissa