Women Lead Pendidikan Seks
May 10, 2019

‘She Speaks’: Perempuan India di Berbagai Belahan Dunia Bersuara Lewat Cerpen

Sebuah buku kumpulan cerpen menyoroti isu perempuan di India dari kacamata 20 ekspatriat India di berbagai belahan dunia.

by Elma Adisya, Reporter
Culture // Prose & Poem
She Speaks - Indonesian Women Around The World
Share:

Pada hari ke delapan perayaan Navratri, sebuah festival Hindu di India selama sembilan hari untuk menghormati para dewi, Dolly meninggalkan rumahnya. Ia baru kehilangan bayinya akibat keguguran. Hal itu menambah luka hatinya karena disudutkan oleh suami dan ibu mertuanya, yang tidak senang dengan kehamilannya itu karena ia sudah memiliki dua anak perempuan kembar.

Di sudut lain di India, Kamla menemukan bayi perempuan yang baru lahir di tempat sampah. Tubuh mungilnya membiru, kaki dan tangannya dipenuhi gigitan nyamuk. Tanpa berpikir panjang, Kamla membawa bayi itu ke rumah dan merawatnya, meski kepercayaan masyarakat mendikte bahwa bayi semacam itu akan membawa nasib buruk.

Dua kisah tersebut adalah penggalan cerita-cerita pendek karya Nayana Chakrabarti dan Shweta Ghosh Dasgupta yang berjudul The Goddess is Missing dan The Survivor. Karya mereka ini termasuk dalam 20 cerita pendek dalam buku She Speaks, masing-masing ditulis oleh perempuan keturunan India yang saat ini menetap di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Buku kumpulan cerpen ini digagas Brindarica Bose, seorang seniman dan juga salah satu penulis dalam buku ini, bersama dengan beberapa  perempuan keturunan India lain yang berdomisili di Swiss pada Maret 2018. Dari berbagai negara yang berbeda, para penulis kemudian mendiskusikan tulisan-tulisan mereka lewat grup whatsapp bernama “The Female Voice Writers”.

Ke-20 perempuan tersebut berasal dari beragam latar belakang profesi dan bidang, dari penulis, tenaga ahli sains, insinyur sampai seni. Mereka ingin mengangkat suara perempuan India dalam kehidupan modern. Semua cerita dalam buku ini ditulis menggunakan sudut pandang tokoh perempuan dengan beragam identitas.

Selain dua kisah yang telah disebutkan di atas, ada yang mengangkat isu mahar yang wajib dibayarkan perempuan kepada pihak keluarga laki-laki saat menikah. Meskipun praktik mahar ini sudah dilarang, namun di beberapa tempat masih saja dijalankan.

Sampul depan dari buku She Speaks

Cerita lain menyoroti infanticide atau praktik membunuh anak yang tidak diinginkan, yang menimpa banyak anak perempuan di India. Hal ini menjadi sangat ironis karena India memiliki banyak dewi yang disembah dan diagungkan, namun perempuan masih dibinasakan.

Pada peluncuran buku ini di Jakarta (5/4), dua penulis yang mewakili wilayah Indonesia, Munmun Gupta dan Poppy Choudry membahas tantangan yang dihadapi oleh perempuan keturunan India di tengah mengakarnya budaya patriarki, antara lain soal pelecehan dan kekerasan seksual.

“Kekerasan seksual dan pelecehan seksual merupakan masalah yang setiap hari dihadapi perempuan di negara kami. Perempuan juga tidak leluasa untuk bepergian, apalagi sendirian,” ujar Gupta, yang mengajar bahasa Inggris di sebuah universitas swasta di Jakarta.

Cerita-cerita dalam buku ini juga membahas cara perempuan menegosiasikan ruang-ruang kehidupan sebagai manusia seutuhnya, terlepas dari beragam identitas sebagai ibu, menantu, ataupun anak, dan mulai memikirkan apa yang mereka inginkan dalam kehidupan mereka.

Gupta dan Choudry membicarakan tentang penerimaan kehidupan dan pencarian kebahagiaan serta keberanian dalam menghadapi tantangan sebagai perempuan. Choudry mengisahkan proses seorang perempuan yang tengah berdamai dengan masa lalunya, sedangkan Gupta bercerita tentang perempuan yang mencari keberanian juga suka cita di tempat baru di luar India.

“Walaupun banyak tantangan yang dihadapi oleh perempuan saat ini, perempuan India juga berusaha membuat banyak kemajuan dan sukses, serta menciptakan ruang bagi mereka. Contohnya saja,  penulis Chitra Banerjee Divakaruni, kepala ekonom pada lembaga Dana Moneter Internasional (IMF), Dr. Gita Gopinath, dan Board Director dari Amazon, Indra Nooyi,” ujar Choudry, yang juga mengajar di salah satu universitas di Jakarta.

Film pendek dari India ini membahas kekerasan terhadap perempuan secara efektif dan liris.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock.