Women Lead Pendidikan Seks
April 02, 2015

Pesepakbola Perempuan di Spanyol: Bermain Di Divisi Utama, Namun Termarginalkan

Di Spanyol yang penduduknya gila bola, pesepakbola perempuan dibayar sangat rendah dan menghadapi perlakuan diskriminatif.

by Wulan Kusuma Wardhani
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Jika Anda penggemar sepakbola, Anda mungkin mengetahui bahwa Liga Sepakbola Spanyol, La Liga, adalah salah satu Liga terbaik di dunia. Pemain paling terkenal Spanyol, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, menjadi incaran dari merek-merek olahraga terkenal di seluruh dunia. Menurut laporan majalah Forbes mengenai peringkat atlet berpenghasilan terbesar di dunia, Ronaldo berada di peringkat ke-2 dalam daftar atlet terkaya di dunia, sementara itu Messi menempati peringkat ke-4 .

Di tengah ingar bingar kompetisi sepakbola Spanyol, ada banyak pesepakbola perempuan yang nasibnya sangatlah berbeda dengan para pesepakbola laki-laki pada umumnya. Secara kultur, Spanyol bukanlah negara yang melarang perempuan untuk beraktivitas di dunia olahraga, namun hampir mustahil untuk mendapat penghasilan sebagai pesepakbola profesional jika Anda perempuan.

Di Spanyol, mayoritas pesepakbola perempuan menekuni profesinya sambil melakukan pekerjaan lainnya atau sambil belajar di sekolah. Tidak seperti di Amerika Serikat, di mana sepakbola populer di kalangan perempuan, di Spanyol sepakbola perempuan tidak dianggap sebagai kompetisi profesional. Banyak klub yang memberikan gaji di bawah standar bahkan ada klub yang sama sekali tidak memberikan gaji. Terminologi profesional yang dimaksud di sini adalah ada kontrak dalam jangka waktu tertentu, ada tunjangan, terlindungi oleh jaminan sosial, dan sesuai dengan aturan gaji minimal”.

Vero Boquete, pemain asal Spanyol yang bermain di FFC Frankfurt, menjelaskan mengenai masalah kontrak profesional yang dimiliki oleh para pesepakbola perempuan: “Jika kita mendalami data Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF), di negara kami (Spanyol), hanya 31 pesepakbola perempuan yang dikontrak secara profesional sementara ada 2.660 pesepakbola laki laki yang dikontrak secara profesional.” 

Kesenjangan pendapatan berdasarkan gender bahkan lebih dalam lagi. Berdasarkan data tahun 2013, rata rata gaji yang diterima oleh pesepakbola laki-laki yang bermain di divisi utama adalah 1,1 juta euro per tahun, sementara gaji rata rata yang diterima oleh pesepakbola perempuan adalah 5000 euro. Lebih lanjut, gaji terendah yang diterima oleh pesepakbola laki-laki (yang bermain di divisi utama) adalah 120.000 euro per tahun, sementara untuk pesepakbola perempuan adalah 0 euro. Benar, ada yang tidak menerima gaji karena walaupun klubnya bermain di divisi utama, namun status kompetisi ini bukanlah kompetisi profesional alias amatir. Bandingkan dengan Cristiano dan Messi yang masing-masing menerima gaji sebesar 18 juta euro dan 20 juta euro.




Ainhoa Tirapu de Goni, kiper klub Athletic Bilbao, harus bekerja di pagi hari di sebuah toko alat-alat olahraga berskala internasional bernama “Dechatlon” dan pada siang hari, dia menghadiri sesi latihan di klubnya. De Goni yang menyandang gelar sarjana kimia dan master di bidang environmental contagion dan toksikologi ini juga sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktor.

Pemain perempuan lainnya, seperti Natalia Pablos, yang saat ini bermain di Arsenal Ladies, sempat harus absen memperkuat tim nasional Spanyol selama dua tahun karena melanjutkan pendidikan ke jenjang master. Namun, karena kerja keras dan kualitasnya, Pablos mampu kembali ke tim nasional dan bahkan membawa timnas Spanyol lolos ke Piala Dunia 2015 (yang akan diselenggarakan di Kanada) untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Di sisi lain, dukungan RFEF bagi tim nasional sepakbola Spanyol pun rendah. Vero Boquete, mengatakan bahwa RFEF hanya memberikan uang saku sebesar 30 euro per hari kepada para pemain perempuan. Jumlah itu hanya sepersepuluh kali dari uang makan yang diberikan oleh pebasket perempuan Spanyol yang bergabung ke pusat pelatihan timnas.

“Mengapa saya mengatakannya? Karena ini adalah kenyataan. Karena kami mewakili negara kami di level tertinggi tetapi kami tidak diperlakukan sebagaimana mestinya,” kata Boquete.

Menanggapi berbagai kesenjangan antara pesepakbola laki-laki dan perempuan di Spanyol, Vicente Temprado, Ketua Komite Sepakbola Perempuan mengatakan bahwa: “Saya yakin bahwa di sepakbola tidak ada “machismo” (chauvinisme laki-laki). Machismo adalah produk dari sebuah pendidikan di masa lalu. Saya rasa saat ini banyak orang menyukai sepakbola perempuan”.

Sebaliknya, Mari Mar Prieto, mantan pesepakbola Spanyol mengatakan bahwa: “Tidak dapat disangkal bahwa ada “machismo” di sepakbola. Jika tidak terjadi hal itu, maka kondisi sepakbola perempuan akan lebih baik. Dikatakan bahwa sepakbola perempuan tidak menghasilkan uang, tetapi mengapa tidak dibantu dan dipromosikan?” kata Prieto.

“Tidak menghasilkan uang” inilah yang juga menjadi argumen Florentino Perez, presiden klub Real Madrid, untuk tidak membentuk tim sepakbola perempuan, sementara tim-tim besar Spanyol lainnya seperti Barcelona, Atletico Madrid, Sevilla, Valencia, Real Sociedad, dan Athletic Bilbao telah memilikinya.

Terlepas dari semua permasalahan yang telah dijelaskan di atas, Spanyol, sebagai negara pihak yang meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) wajib memperhatikan nasib pesepakbola perempuan. Konvensi itu mengamanatkan bahwa tidak boleh ada diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan. Perempuan memiliki hak untuk pendapatan yang sama dan perlakuan yang setara dalam pekerjaan.
 
Perjalanan sepakbola perempuan Spanyol masih tertinggal jauh dari negara-negara Skandinavia, Jerman dan Amerika Serikat. Semua ini hanya dapat dicapai apabila semua pihak berperan, tidak hanya para pemain namun juga negara, Federasi sepakbola, masyarakat, dan pelaku sepakbola pada umumnya.

Wulan Kusuma Wardhani adalah karyawan swasta, penggemar olahraga (khususnya sepakbola), dan seorang feminis.