Women Lead Pendidikan Seks
August 17, 2018

Puan Pulang Petang

Hubungan anak dan orang tua merupakan salah satu yang paling rumit. Sebuah cerita pendek.

by Ellyaty Priyanka
Culture // Prose & Poem
Share:

Petang
Aku baru saja melarikan diri.
Jika aku punya autobiografi, ada pola sama berulang-ulang yang dikemas dalam cerita yang seolah-seolah unik dan spesifik. Ada alasan yang cukup ilmiah untuk itu--omong-omong, biasakan dirimu dengan usaha-usaha rasionalisasiku, aku ini bukan pretensius,  aku hanya membentuk kerangka mentalku untuk berdamai dengan diri sendiri.
Manusia itu pada dasarnya pemalas. Kita tidak suka hal asing—hal baru akan diterjemahkan sebagai ancaman. Kita bukan menyukai apa yang baik, kita menyukai apa yang familier.  Tidak usah terkesima dengan fakta kita yang melakukan hal-hal yang itu-itu saja, mencari hal yang tidak jauh-jauh amat. Omong kosong dengan perubahan. Betapa pun eksteriornya berbeda, kau akan mencari substansi yang sama.
Jadi tidak usah repot-repot bicara alternatif. Omong kosong. Sejuta pun alternatif yang kalian punya, kalian pasti memilih hal yang tidak jauh beda. Percaya padaku. Untuk itulah aku menulis cerita ini. Aku hanya ingin memberi makna dari nirmakna—karena ketika bahagia tidak ada, maka mencari makna adalah cara bertahan hidup manusia.
 
8 tahun yang lalu
Ia menghirup rokoknya dalam-dalam. Ia hanyut dalam lamunan. Ia cantik, kata orang-orang. Aku tidak menyadarinya, mungkin karena seumur hidup bernapas di  ruang yang sama dengannya—rasanya semua banal. Setiap kali ia mengembuskan asap, ada ruang di antara kami. Ia bermain dengan duka dan penatnya sendiri—betapa pun dia tidak menuturkan cerita, segalanya runtut dan jelas di hadapanku.
Aku tidak ingin memahami rasa sepi dan sakitnya. Rasa miliknya adalah racun yang pelan-pelan menyebar dan aku hirup, aku telan, bersatu dengan sel-sel tubuhku. Rasa sakitku memohon pertolongan—nihil respons dariku.
Pertama, entah kenapa aku terbiasa. Toleransiku selalu meninggi—terima kasih adaptabilitas. Bisakah kau memercayainya? Terbiasa. Mungkin dengan sakit, atau mungkin dengan memaafkan. Terlebih-lebih, aku tidak punya pilihan. Aku adalah satu-satunya yang ia punya, ia adalah satu-satunya yang aku punya. Kita, untuk satu sama lain, adalah alasan bertahan hidup.




Mungkin itulah mengapa aku selalu memaafkannya. Aku menormalisasi kata-kata kasar, sumpah serapah, segala hujatan darinya. Aku memaafkan rasa sakit—pukulan, tamparan, barang terlontar—yang tak terhitung lagi jumlahnya. Ia selalu sukses  meyakinkanku aku pantas mendapatkannya.
Lila, aku sayang kamu. Aku ingin yang terbaik untukmu. Ini didikan terbaikku,. jangan sampai kau rasakan kejamnya dunia” adalah mantranya yang berkali-kali ia ucapkan tiap pertengkaran. Aku hanya marah dalam sesenggukan, menahan rasa sakit pukulannya, menuntut lebih banyak pembenaran.
“Kamu adalah tujuanku hidup, Lila. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu.”
Semua kebencianku seketika berubah, yang tertinggal hanyalah rasa bersalah karena sedari tadi terus menghujatnya dalam diam.
Ia menyayangiku, ia ingin yang terbaik untukku.
“Kamu tahu kan aku selalu memberi dari ketidakmampuanku. Aku tidak bisa memberimu banyak, Lila. Tapi aku selalu memberikan semuanya. Kalau aku punya sepuluh, sepuluh itu semuanya untukmu.”
Skak mat. Sebagian diriku meyakininya, ia benar menyayangiku. Ia memang memberikan segalanya padaku; dalam kehancurannya, kesepiannya, rasa sakitnya, kemiskinannya.
Tidak, ini tidak koheren. Ia berikan aku semua yang ia punya, ia ambil juga semuanya dariku; ia hancurkan semua pertahananku--terus menimbulkan sakit, sampai di titik toleransiku berang dan semuanya menjadi hampa.
***
Sekarang kamu mau jadi bapakmu yang kedua?! Kubesarkan kamu setengah mati sendiri, kamu mau aku jadi orang tua durhaka seperti dia?!”
Aku diam. Matanya penuh kebencian. Seolah lelaki itu adalah aku. Seolah lelaki yang menceraikannya adalah aku. Seolah munculnya aku di hadapannya adalah salahku.
“Kenapa aku harus menanggung semua ini sendirian?! Kenapa kamu, anak tidak berguna, tidak bisa mengurangi bebanku?! Kenapa?!”
Aku bisa apa? Bagaimana mungkin aku menyelamatkannya, jika ia lagi dan lagi menghancurkanku?
Mungkin aku seharusnya tidak pernah ada di sisinya. Mungkin cinta adalah harga yang terlalu mahal untukku. 
“Jawab, Lila! Siapa yang suruh kau diam?!”
Kepalaku terasa pedih. Tidak pernah sesakit ini. Remote control baru saja ia lemparkan. Darah. Aku diam, terlalu terenyak.
“Salahmu, disuruh ngomong itu jangan diam.” Tangisku meledak seketika.  Tidak tahu untuk apa. Memohon tanpa daya akan ada yang menolongku. Dari rasa sakit, rasa takut, rasa bersalah.
Ia mendekatiku. Hanya ada dua pola; dia akan membentakku dan semakin tidak terkendali memukuliku yang menangis karena kebodohanku sendiri atau ia akan memelukku, memohon maaf, dan seketika aku kembali luluh lantah.
Aku memaafkannya.
***
Pagi
“Apa salahku?! Kenapa aku selalu diperlakukan seperti binatang?!” Demi Tuhan, ini pertama kalinya seumur hidup aku menantang, memberontak, jelas-jelas tanpa ragu menunjukkan aku tidak terima.
“Enggak tahu diri kamu, ya! Kurang ajar! Persis seperti bapakmu!”
“Kenapa kalian yang bercerai, aku yang jadi korban?! Apa salahku?!”
“Dia hidup, dia hidup enak, Lila! Peduli apa dia denganmu, hah?! Peduli apa?!”
Dia benar. Lelaki itu tidak peduli padaku. Tidak sedikit pun.
“Kenapa aku pula yang kau salahkan? Aku sudah berikan semuanya, kenapa aku masih yang kau salahkan?! Kenapa aku masih yang kau salahkan?”
“Setelah bapakmu, sekarang kamu, Lila?! Kenapa kau sekejam itu padaku?!”
“Hah? Apa? Mama kira Mama yang paling menderita? Aku yang harusnya paling marah. Siapa yang mau punya bapak brengsek tidak bertanggung jawab seperti dia!? Siapa yang mau orang tua seperti kalian!? Siapa!?”
Konyol sekali mamaku ini. Mau berlomba manusia mana yang paling disakiti?
Kulihat tangannya hampir melayang. Aku lari secepat mungkin. Dari kamar tidur kami, ke pintu rumah, pintu gerbang, ke jalan raya, menyetop apa saja yang lewat.
Aku tidak peduli peduli lagi.  Aku harus melarikan diri.
***
Siang
Bapakku memandangku.
“Jadi kamu kenapa, Lila?” ia memecah hening.
“Aku dipukuli.” Lidahku tertahan mau memanggilnya “Papa”.  Bayangkan, bagaimana rasanya memanggil “Papa” ke orang asing.
“Dipukuli bagaimana? Bertengkar?”
Sial, aku merasa bersalah. Dan seperti orang yang kalah. Demi Tuhan, lelaki ini adalah manusia terakhir yang ingin kutemui dalam hidupku, laki-laki ini adalah sumber dari segala sumber hidupku yang seperti neraka. Konyolnya, di sini aku, mengungsi, mau berkeluh kesah.
Lelaki ini tak pernah menghujatku, apalagi main tangan. Ia hanya… tidak pernah ada. Ia tidak pernah, memberi apa-apa. Ia hanya… menutup mata, lari dari segalanya.
Aku diam, mengolah kata.
Laki-laki ini tidak pernah ada, tidak pernah memberiku apa-apa. Menutup mata, lari dari segalanya.
Perempuan itu  benar-benar membuat hidupku menderita. Laki-laki ini membuatku jauh lebih menderita, tidak mau berbuat apa-apa, tidak mau tahu apa-apa, lepas tangan dariku. Dia yang membuat perempuan itu persis orang gila.
Telepon genggamnya berdering. Right Here Waiting, lagu Richard Marx. Lelaki itu mengangkatnya sebentar. Aku tersentak, teringat cerita Mamaku, ia  menyanyikan lagu itu 20 tahun yang lalu dengan piano di rumahnya, menyambut lelaki ini yang baru pulang merantau.
Bajingan, benar-benar cinta tak membawa apa-apa. Cinta hanya membawa murka dan derita.
***
Petang
Aku menyetop angkutan ke rumahku. Apa sih yang kuharapkan? Laki-laki itu menyelamatkanku? Meminta maaf? Omong kosong.  
Usai telepon masuknya, kutumpahkan semua kemarahanku, menuntutnya yang belasan tahun pergi tak melakukan tetek-bengek yang sepantasnya dilakukan seorang bapak.
“Kamu tidak tahu apa-apa masalahku sama Mamamu! Jangan sok tahu! Benar-benar ya sifatmu persis Mamamu!”
Bukan main. Betul-betul pola yang sama. Bajingan bangsat, tidak tahu diri.  Lelaki itu adalah orang paling terakhir yang berhak mencerca mamaku.
Aku mengela napas. Apa sih yang kauharapkan, Lila?
Cinta tidak memberimu apa-apa. Cinta hanya membawamu ke derita. Cinta hanya memberi pembenaran ke derita.
Cinta bukan datang dan pergi; cinta hanya berubah menjadi benci dan murka.
Cinta, tololnya, membuatmu kembali ke orang yang sama, Lagi, lagi, dan lagi. 
Perempuan itu menungguku di sana. Ia tidak punya siapa-siapa. Kita adalah dua manusia terbuang. Aku adalah satu-satunya yang ia punya, ia satu-satunya yang aku punya.
Petang ini, aku pulang.
 
Ellyaty Priyanka adalah perempuan berusia dua puluh tahun yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Ia sedang mengonfrontasi rasa sakitnya dengan repetitif hingga segalanya menjadi banal. Ini adalah cerita pendek pertamanya setelah berhenti menulis fiksi selama lima tahun.  Baca juga tulisan lainnya di ellyatypriyanka.wordpress.com.