Women Lead Pendidikan Seks
June 16, 2020

FFI 2020: Satu Hari Satu Hal Baik Film Indonesia

Festival Film Indonesia (FFI) 2020 resmi dimulai dengan menebar hal baik perfilman Indonesia.

by Magdalene
Community // Events
Share:

Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menggelar Festival Film Indonesia (FFI) 2020. Memasuki tahun ke-40 penyelenggaraan, rangkaian kegiatan Festival Film Indonesia 2020 diselengggarakan di tengah situasi pandemi. Tahun ini sudah dipersiapkan berbagai rangkaian kegiatan yang ditandai dengan peluncuran di hari Minggu (14/6) dalam acara bertajuk “Satu Hari Satu Hal Baik Film Indonesia”. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan harapannya kepada para sineas, pelaku industri, serta penggiat komunitas film tanah air.

“Pandemi telah mengajarkan kita untuk tetap bergerak dan berdaya, melihat segala peluang dengan memadukan kreativitas dan menyebarkannya lewat teknologi,” ujar Mendikbud pada konferensi pers FFI 2020 di Jakarta, Selasa (16/06/2020)

“Sangat penting tetap mengadakan Festival Film Indonesia (FFI) karena justru pada saat seperti ini kita tidak boleh berhenti berkarya,” jelas Lukman Sardi selaku Ketua Komite Festival Film Indonesia 2020.

“FFI menjadi semangat, kekuatan agar terus bergerak dalam situasi apapun. FFI penting bukan hanya untuk pembuatnya, tapi semua orang Indonesia.”

Didorong oleh keadaan yang tidak ideal, Lukman menambahkan bahwa wajah FFI tahun ini disesuaikan dengan situasi sekarang.

“Wajah FFI tahun ini banyak bicara tentang empat pilar: rendah hati, berkarya, kolaborasi, inklusif. Empat pilar tersebut akan selalu menjadi pegangan dan juga titik tolak bagi kita semua bergerak melaksanakan program-program utama maupun tambahan FFI 2020.

Peluncuran telah dilaksanakan kemarin, tanggal 14 Juni secara virtual dalam acara silaturahmi virtual pekerja seni, budaya dan film. Malam Nominasi dan Malam Anugerah sedang dalam proses persiapan dengan memperhatikan perkembangan keadaan menghadapi pandemi.

Pogram-program tambahan yang bertujuan memperluas literasi film, hiburan dan edukasi seperti Pemutaran Film, Konser Musik Film (OST) dan Akademi FFI juga dalam persiapan untuk dilaksanakan dalam format online maupun offline, dengan protokol kesehatan yang ketat sambil melihat situasi nanti kedepannya seperti apa. Supaya semuanya terasa aman dan nyaman.

Kegiatan seleksi dan penjurian sebagai salah satu elemen terpenting dalam festival sudah mulai berbenah dan menyesuaikan diri. Tahun ini, Nia Dinata selaku Komite Penjurian dan Seleksi mengatakan, “FFI harus berjalan dan bekerja sesuai apa yang kita punya. Biasanya satu bulan ada 8-15 film Indonesia baru yang bisa menjadi eligible untuk ditonton kurator FFI. Tetapi sampai sekarang, dari 1 Oktober 2019 sampai pandemi mulai dan bioskop tutup di pertengahan Maret baru ada 53 film. Maka tahun ini kami sebagai komite memutuskan untuk memperbolehkan film panjang Indonesia yang tayang di OTT atau platform streaming juga berhak ditonton oleh kurator dan dinilai. Selain itu, kita masih punya waktu sampai 30 September. Jadi semua film yang memenuhi syarat tetap akan dipertimbangkan.”

Selain itu, tahap penjurian dan seleksi masih mengikuti format di tahun sebelumnya. Untuk tahap seleksi yang merupakan tahap awal dari perjalanan panjang menuju penominasian dan penganugerahan akan tetap dikuratori oleh insan dari berbagai profesi yaitu akademisi, jurnalis, dan aktor. Masih ada nama Nungki Kusumastuti, Prima Rusdi, Hera Diani, Makbul Mubarak, Tam Notosusanto, Rangga Wisesa, Lulu Ratna, Yustinus Kristanto, Fransiska Prihadi, Alia Damaihati, Amelia Hapsari, Dimas Erdhinta Pratama Putra, Wahyu Aditya, Chistian Aditya, dan Romy Oktaviansyah yang melanjutkan tugas sebagai kurator seperti tahun sebelumnya. Memperkuat nama-nama kurator tersebut, kini bergabung jurnalis senior Leila S. Chudori. Mereka akan menonton ke-53 film yang sudah memenuhi syarat diputar di bioskop.

Untuk dasar penilaian utama di tahap seleksi masih berpegang teguh pada kualitas teknis dan estetika. Berikutnya adalah profesionalisme kerja yang tercermin dari filmnya sendiri serta orisinalitas cerita.

“Kami juga masih mengusung keberagaman, film-film yang akan terseleksi ada perspektif keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika. Apa yang terjadi secara sosial di Amerika pasti mempengaruhi seperti Black Lives Matter, artinya kita sebagai manusia harus menghormati manusia tidak dari warna kulit, latar belakang, agama dan etnisitasnya. Keberagaman yang kita pertajam maksudnya adalah seperti itu. Film-film yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang setara akan kami pilih," ujar Nia.

Setelah puluhan film diseleksi dan dikerucutkan menjadi daftar pendek, film-film terpilih ini kemudian akan ditonton oleh asosiasi profesi untuk kemudian dirumuskan menjadi daftar nominasi. Setelahnya kemudian pemilihan pemenang akan dilakukan dengan mengikuti mekanisme tahun lalu melalui sistem voting oleh Member FFI yang mengkonfirmasikan diri untuk ikut voting tahun ini.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1955, Festival Film Indonesia (FFI) digagas sebagai barometer perkembangan kualitas perfilman Indonesia. Melalui berbagai penghargaan yang diberikan, publik dan kalangan perfilman sendiri bisa membaca pencapaian terbaik yang dihasilkan pekerja film tanah air selama setahun terakhir.

Rangkaian FFI 2020 akan berlangsung sampai Desember 2020, dengan penganugerahan Piala Citra sebagai puncak acara. Masyarakat dapat mengikuti sejumlah kegiatan yang dipublikasikan pada akun YouTube KEMENDIKBUD RI, BudayaSaya, TV Edukasi, dan Festival Film Indonesia, serta akun Twitter, Facebook, dan Instagram Pusbangfilm dan Festivalfilmid. Informasi lengkap mengenai FFI 2020 dapat dilihat pada laman http://festivalfilm.id/

MAGDALENE is an online publication that offers fresh perspectives beyond the typical gender and cultural confines. We channel the voices of feminists, pluralists and progressives, or just those who are not afraid to be different, regardless of their genders, colors, or sexual preferences. We aim to engage, not alienate.