Women Lead Pendidikan Seks
January 19, 2021

Tips Pengasuhan Anak dalam Pernikahan Campur

Latar belakang budaya yang berbeda membuat pengasuhan anak dari pernikahan campur punya kesulitan dan tantangannya sendiri.

by Siti Parhani, Social Media Coordinator
Lifestyle
Share:

Pernikahan Dian Mariana dengan suaminya, seorang pria asal Amerika Serikat, telah berjalan tujuh tahun. Namun ia mengakui, masih banyak penyesuaian yang dilakukan akibat latar belakang dan budaya yang berbeda, terutama dalam hal pengasuhan anak.  

“Ya gesekan selalu ada, karena pola asuh anak yang berbeda antara di sini sama di Amerika. Budaya suami itu mengharuskan anak supaya mandiri dan mau usaha kalau dia ingin sesuatu. Contoh kecilnya, masalah anak harus tidur sendiri. Kan di Indonesia mana boleh sih anak bayi tidur sendiri, apalagi mamanya harus menyusui,” ujar perempuan berusia 33 tahun itu kepada Magdalene.

Selain itu, karena ada dua bahasa di rumah, anak laki-lakinya memerlukan waktu lebih lama untuk berbicara, sampai akhirnya Dian memutuskan untuk mengajarkan satu bahasa dulu kepada sang anak, yaitu bahasa Inggris.

Dalam kedua keluarga besar pun tidak jarang ada gesekan akibat perbedaan pemahaman tentang cara mengasuh anak. Ibu Dian kerap memberi pesan padanya agar tidak terlalu menerapkan pola pendidikan yang “kebarat-baratan”. Padahal, menurutnya pola pengasuhan dan pendidikan yang ia terapkan merupakan kesepakatan antara suami dan dirinya.

“Dari pihak nenek dan kakek itu pasti ada aja yang dikomentari. Kita harus tetap set boundaries sih. Mungkin keluarga suami yang di Amerika biasanya sudah paham dan enggak begitu banyak ikut campur. Kalau orang Indonesia enggak bisa begitu ya. Kalau saya larang anak buat nonton misalnya, sering kali dibolehin sama Omanya. Ya hal-hal begitulah,” ujar Dian.

Hal lain yang cukup kentara, menurut Dian, adalah penyebutan panggilan kehormatan seperti kakak dan mas, atau bapak dan ibu, untuk orang yang lebih tua.

“Anak pernah nanya sih, kenapa harus pakai kakak atau bapak, padahal di keluarga ayahnya enggak usah. Tapi ya sebisa mungkin saya kasih pengertian, kalau hal-hal begitu penting di Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Indonesia Memang Negara Kaya Kultur, Kecuali dalam Urusan Kawin Campur

Komunikasi Kunci Pengasuhan Anak dalam Perkawinan Campuran

Ketua Umum Masyarakat Perkawinan Campuran Indonesia (Perca), Juliani W. Luthan, mengatakan bahwa selain masalah hukum seperti birokrasi izin menetap dan status administrasi anak, kesulitan-kesulitan dalam pola asuh anak yang tepat adalah isu yang umum oleh pasangan pernikahan campur.

Menurutnya, hubungan pernikahan dengan orang asing itu sebetulnya tidak jauh berbeda dengan pernikahan orang Indonesia, semuanya membutuhkan kedewasaan dan kematangan. Namun bedanya, pelaku pernikahan campur harus siap dengan konsekuensi menyatukan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda, ujarnya.

“Biasanya masalah umum yang dihadapi adalah sulitnya mengomunikasikan perbedaan-perbedaan budaya, kekesalan-kekesalan karena merasa tidak dimengerti. Atau sulitnya menemukan titik temu karena kedua orang tua tidak sepaham dalam pengasuhan anak. Akhirnya, kadang anak jadi bingung dalam menghadapi kedua orang tuanya,” ujar Juliani, yang menikah dengan pria Jepang sejak tahun 1996.

Meski tidak mudah, ia mengatakan bahwa berbagai perbedaan dalam pernikahan campur hanya bisa diatasi dengan komunikasi yang baik. Ketika memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, usahakan untuk mengomunikasikan segala sesuatu dari awal dengan jelas, mulai dari masalah agama, bahasa, pendidikan anak, pola pengasuhan, budaya yang mana yang harus anak tahu, sampai dengan masa depan anak.

“Kalau saya, misalnya, dari awal sudah jelas bilang ke suami karena agama saya Islam, saya hanya mau berkeluarga kalau dia Muslim. Begitu pun anak saya, pasti akan saya ajarkan budaya sini, khususnya budaya Sumatera Barat,” ujar Juliani.

Baca juga: Menjadi Istri Pria Asing dan Segudang Stereotip Tentangnya

Komunikasi yang jujur dan terbuka bisa membantu memetakan masalah-masalah yang dihadapi, ujarnya. Anak juga harus diajak terlibat mencari solusi dalam diskusi yang terbuka dan hangat, ia menambahkan.

Dian sepakat mengenai pentingnya komunikasi yang jelas di awal tentang bagaimana membesarkan anak. Menurutnya, kesepakatan dan pembicaraan yang jelas dari awal bisa mengurangi konflik-konflik lain karena perbedaan-perbedaan pandangan di masa depan. Apalagi banyaknya perbedaan semakin membuat potensi berkonflik cukup besar.

“Jadi, kalau misalnya kita sepakat untuk memilih jalan A, jangan pas udah jalan, tiba-tiba jadinya berubah jadi B. Enggak bisa begitu, harus jelas. Sudah tahu nih budayanya beda, misalnya Timur sama Barat, mau ngebesarin anak sama pola pengasuhan yang mana? Kalau saya dan suami milih combine, ya sudah stick aja sama itu,” tambah Dian.

Tanamkan Nilai Keberagaman Sejak Dini

Juliani mengatakan, membesarkan anak di tengah perbedaan budaya dan latar belakang mesti diikuti dengan penanaman nilai keberagaman yang kuat, bahkan sejak anak berusia sedini mungkin. Sudah banyak pula penelitian yang menunjukkan jika anak dari hasil perkawinan campur lebih toleran menerima keberagaman.

Juliani mengatakan, pemahaman nilai keberagaman dan toleransi adalah dua hal yang fundamental. Ia mencontohkan bagaimana mantan presiden AS Barack Obama yang lahir dan besar dengan budaya yang berbeda-beda, tumbuh dengan kekuatan karakter untuk lebih sensitif memahami masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat.

“Tidak ada cara yang paling benar dalam mendidik anak, tapi keberagaman, pengalaman dan toleransi itu yang terpenting,” ujarnya.

Baca juga: Menikahi Lelaki Kulit Putih dan Sejarah Hak Asuh Anak

Beri Pemahaman Anak Soal Identitas

Tumbuh dan besar di tengah keluarga yang berbeda latar belakang dan budaya bisa jadi akan membuat anak mudah mengalami krisis identitas. Apalagi saat ia mulai bermain dengan teman-teman sebayanya. Anak-anak dari pernikahan campur cenderung berpotensi mendapat stigma dan stereotip karena warna kulit atau mungkin fisiknya yang dianggap “berbeda”.

Karena alasan itu pula, menurut Juliani, memberi pemahaman anak untuk menerima identitasnya sebagai anak hasil perkawinan campur menjadi penting. Sehingga anak bisa menempatkan dirinya di dua sisi tanpa merasa dirinya berbeda.

“Jangankan anak hasil perkawinan campur ya. Saya aja dulu waktu kecil sering merasa dikucilkan karena item. Bullying itu terjadi di mana-mana. Anak rentan mengalami identity crisis karena merasa berbeda dan dibedakan. Jadinya anak harus diajarkan untuk menerima itu dan menjadikan itu justru sesuatu yang memberinya kekuatan,” ujar Juliani.

“Ini sebetulnya berlaku untuk semua keluarga, penting untuk memberi ruang pada anak untuk bercerita tentang pengalamannya dan menyampaikan pendapat kepada kita,” ia menambahkan.

Kekhawatiran anak akan mengalami krisis identitas karena lingkungannya tumbuh berbeda juga sempat dialami oleh Dian, apalagi ia juga campuran etnis Maluku dan Cina. Namun, ia yakin bahwa di mana pun nanti keluarganya menetap, nilai keberagaman akan selalu ditemukan dan itu bisa menjadi kekuatan bagi mereka yang lahir dari pernikahan campur.

Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.