Women Lead Pendidikan Seks
June 29, 2022

Yang Dikatakan Penelitian tentang Kebiasaan Orang Tua Memukul Anak-anak

Kekerasan pada anak meningkat selama pandemi. Stres jadi alasan orang tua memukul anak.

by Ana Aznar
Safe Space
Tragedi Orang Tua Bunuh Anak
Share:

Pertanyaan apakah memukul anak dengan telapak tangan agar mereka patuh. ternyata masih sangat kontroversial. Di Inggris, kontroversi ini baru-baru ini dihidupkan kembali oleh sekretaris pendidikan, Nadhim Zahawi, yang mengatakan bahwa “disiplin anak harus diserahkan kepada orang tua”.

Memukul saat ini ilegal di 63 negara termasuk Skotlandia. Di Inggris dan Irlandia bagian utara, orang tua tetap bebas untuk memukul anaknya.

Biasanya, argumen utama yang melarang orang tua memukul anak-anak mereka karena mereka percaya bahwa anak-anak harus menghormati hak-hak orang tua. Zahawi mengatakan bahwa negara tidak boleh “memberi tahu” orang tua tentang bagaimana membesarkan anak-anak mereka.

Sebaliknya, kelompok perlindungan anak dan psikolog berargumen bahwa keputusan untuk melarang memukul harus didasarkan pada apa yang terbaik untuk anak daripada orang tua. Mereka merujuk pada penelitian psikologis sebagai sumber informasi tentang apakah memukul baik atau buruk bagi anak-anak.

Baca juga: Tak Ada Hal yang Baik dari Memukul Anak

Riset Mengenai Kebiasaan Memukul Anak

Riset telah menemukan bahwa hukuman fisik seperti memukul tidak efektif dan buruk bagi perkembangan anak. Riset ini juga menganalisis berbagai penelitian tentang hukuman fisik seperti memukul menemukan bahwa, pada kenyataannya, hukuman ini memperburuk perilaku anak.

Seringkali, anak masih tidak mematuhi perintah orang tua bahkan setelah mereka di disiplinkan. Dan bahkan ketika mereka melakukannya, hukuman seperti memukul tidak membantu anak itu untuk memahami mengapa tindakan mereka salah. Ini karena seringkali hukuman tidak datang dengan penjelasan yang mudah dipahami oleh si anak.

Dan juga, mereka seringkali terjebak dalam emosi mereka sendiri untuk bisa memahami mengapa tindakan mereka salah. Di kemudian hari, mereka mungkin akan mematuhi perintah orang tua karena takut akan dihukum secara fisik lagi bukan karena mereka paham bahwa ini merupakan hal yang benar.

Dalam hal bagaimana hal itu mempengaruhi perkembangan anak, hukuman fisik telah dikaitkan dengan perilaku sosial dan kesehatan mental pada anak-anak dan remaja. Anak-anak lebih cenderung memiliki masalah kesehatan emosional dan mental, seperti kecemasan dan depresi. Mereka juga memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan sikap agresif dan terlibat dalam perilaku berisiko. Efek ini dapat merusak hubungan antara orang tua dan anak dan antara anak dan teman sebayanya.

Argumen kuat yang menentang penggunaan pukulan adalah bahwa anak-anak yang dipukul memiliki risiko lebih tinggi mengalami penganiayaan dan pelecehan oleh orang tua mereka. Ini karena seiring waktu mungkin diperlukan lebih banyak kekerasan untuk mendapatkan tingkat kepatuhan yang sama.

Baca juga: Perisakan Anak Betul-betul Merusak

Respons Terhadap Stres

Stress orang tua memainkan peran penting dalam penggunaan hukuman fisik. Ketika orang tua stres, mereka akan kurang sensitif terhadap kebutuhan anaknya dan kemungkinan besar akan menggunakan cara mendisiplinkan yang lebih kasar seperti memukul

Orang tua yang kadang-kadang memukul anak mereka mungkin akan lebih sering memukul anak mereka atau menggunakan bentuk disiplin fisik yang lebih keras ketika mereka stres. Pukulan merupakan respon emosional yang sering dilakukan ketika orang tua tidak tahu bagaimana mengontrol anaknya.

Rekan-rekan saya dan saya di University of Winchester di Inggris melakukan penelitian selama lockdown COVID-19 pertama di Inggris. Kami bertanya kepada 322 orang tua tentang tingkat stres mereka dan praktik disiplin yang mereka lakukan.

Tidak mengherankan, orang tua melaporkan jauh lebih stres daripada sebelum pandemi. Orang tua yang sangat stres melaporkan mendisiplinkan anak-anak mereka lebih sering dan menjadi lebih keras dengan mereka. Temuan kami konsisten dengan beberapa laporan yang mengklaim bahwa risiko kekerasan terhadap anak meningkat di seluruh dunia selama lockdown COVID-19.

Namun demikian, beberapa psikolog berpendapat bahwa kita tidak dapat dengan tegas mengatakan bahwa memukul adalah negatif untuk anak-anak. Dalam beberapa kasus, penelitian yang meneliti bahwa pemukulan dilakukan dengan dengan kombinasi bentuk hukuman fisik lainnya, seperti meninju atau memukul. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa efek nyata dari memukul pada perkembangan anak-anak mungkin terlalu berlebihan.

Baca juga: Oh, Ibu dan Ayah, Putuskan Rantai Kekerasan terhadap Anak

Lebih jauh, beberapa orang mengklaim bahwa sebagian besar penelitian tentang topik ini tidak dapat dengan jelas menjelaskan dengan pasti bahwa memukul merupakan penyebab konsekuensi negatif bagi anak-anak – hanya memang ada hubungan antara memukul dan konsekuensi negatif bagi anak-anak.

Namun, satu temuan jelas di antara kontroversi ini adalah bahwa memukul tidak pernah membawa hal positif untuk perkembangan anak.

Bukti penelitian sangat menunjukkan bahwa hukuman fisik seperti memukul memiliki hasil negatif. Orang tua dapat menggunakan berbagai bentuk disiplin lainnya untuk membantu anak-anak memahami mengapa perilaku mereka salah. Ini termasuk mengeluarkan anak dari lingkungan di mana mereka melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan, bernalar dengan anak, atau mengambil hak mereka, seperti mengambil video game mereka di akhir pekan.

Orang tua harus menggunakan teknik disiplin di atas alih-alih memukul.

Arina Apsarini dari Binus University menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.The Conversation

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Ana Aznar adalah dosen senior psikologi di University of Winchester.