Women Lead Pendidikan Seks
August 08, 2017

Bagaimana Caranya Menjadi Perempuan?

Perempuan harus menetapkan nilai-nilainya sendiri untuk menjadi kuat bertahan dalam arus konformitas yang membingungkan sekarang ini. Perempuan harus sadar, peka, dan tajam dalam melihat setiap nilai yang ditawarkan dan ditanamkan kepada dirinya.

by Yuliana Martha Tresia
Issues // Gender and Sexuality
Share:

Menjadi perempuan, kamu harus bisa bersih-bersih rumah, masak, urus anak. Menjadi perempuan, kamu harus bisa dandan, harus bisa menjaga kecantikan diri. Menjadi perempuan kamu harus jago melayani suami. Menjadi perempuan kamu harus lemah lembut. Menjadi perempuan—
 
Sepertinya cukup saya menuliskan daftar menjadi perempuan sampai di sini saja. Saya menuliskan daftar ini dari apa yang biasanya saya dengar sehari-hari, entah dari keluarga, teman, atau media. Entah dari perempuan sendiri atau laki-laki.
 
Sepertinya banyak yang menaruh perhatian pada perihal menjadi perempuan. Namun, saya ingin melihat lebih kritis, menyadari bahwa perkataan tentang menjadi perempuan pada kenyataannya tak selalu berdampak positif bagi para perempuan. Tak sedikit perempuan frustrasi karena nasihat-nasihat (asumtif yang menjadi sugesti sekaligus tuntutan) yang dilontarkan pada mereka.
 
Misalkan, untuk menjadi perempuan, kecantikan adalah salah satu hal utama, yang direpresentasikan melalui bentuk tubuh kurus-putih-langsing dengan rambut lurus-panjang. Dampaknya fatal bagi para perempuan. Mereka, yang mencoba mengikuti “nasihat” ini, akan berusaha menjadi kurus dengan diet mati-matian, atau dengan smoothing rambut yang alaminya keriting, atau dengan membeli obat pemutih kulit yang banyak dipromosikan di toko daring Instagram. Beruntungnya di zaman ini, telah lebih banyak perempuan yang sadar dan berkampanye mencintai diri sendiri dan meredefinisi standar kecantikan.
 
Terlalu banyak pihak yang mendikte perempuan tentang bagaimana caranya menjadi perempuan. Termasuk media yang ditunggangi kapitalis dan ingin membentuk perempuan menjadi sangat konsumtif. Tak terkecuali para laki-laki, dalam doktrin patriarki yang harus menjaga posisi perempuan tetap di bawah laki-laki. Para perempuan harus bisa dipimpin, harus “manut” harus patuh pada suami dalam segala hal.
 




Apa yang kita kenal sebagai cara menjadi perempuan merupakan hal yang sangat relatif, bisa berbeda-beda pandangan antar budaya, agama, atau bahkan keluarga yang berbeda. Misalkan, agama Islam mengharuskan perempuan untuk berhijab – sementara di agama lain tidak. Atau, agama Kristen yang menjadikan Amsal 31 dalam Alkitab mengenai istri yang cakap sebagai acuan tentang menjadi perempuan. Dalam hal budaya, untuk menjadi perempuan di suku Batak, misalnya, ada tuntutan untuk melahirkan anak laki-laki yang perannya dianggap signifikan dalam melanjutkan garis keturunan keluarga. Untuk menjadi perempuan di suku Jawa, menjaga sikap merupakan keharusan, termasuk paham unggah-unggah (sopan-santun) dan tidak boleh tertawa keras dengan mulut lebar. Itu baru contoh dari dua agama dan dua budaya, sementara agama dan budaya di dunia terhitung banyak. Masing-masing memiliki pijakan nilainya sendiri tentang bagaimana caranya menjadi perempuan.
 
Belum lagi nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, yang berbeda-beda. Sangat relatif. Misalnya, ada teman saya yang bercerita, di dalam keluarganya, menjadi perempuan berarti harus berkorban dan memberikan kesempatan kepada saudara laki-laki sedarah untuk mengecap pendidikan yang lebih baik dibanding mereka, karena para laki-laki nantinya akan mencari nafkah keluarga dan para perempuan hanya akan ikut suaminya saja. Sebaliknya, di keluarga saya, ayah saya berpesan, menjadi perempuan tak ada bedanya dengan menjadi laki-laki dalam hal pendidikan. Baik saya yang perempuan, maupun adik saya yang laki-laki, sama-sama dipesankan untuk mencari ilmu dan gelar melebihi orangtua.
 
Saya pribadi belakangan ini mempertanyakan bagaimana caranya menjadi perempuan di tengah arus media yang deras sekali yang mengumbar berbagai produk kecantikan. Belakangan, tutorial-tutorial dandan dan kecantikan makin membanjiri YouTube. Apa iya menjadi perempuan harus selalu menjaga tata rias wajah dan tatanan rambut? Di segala kondisi? Apa iya menjadi perempuan berarti harus mengenal berbagai jenis makeup, pakai krim malam dan krim pagi untuk peremajaan kulit wajah, harus memperhatikan gaya pakaian tetap feminin dan kekinian. Apa menjadi perempuan berarti tidak bisa menjaga hidup tetap dijalani dengan sederhana saja? Apa iya menjadi perempuan memang seribet itu untuk masalah kecantikan dan kemolekan diri, mengurus dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan menghabiskan uang yang tak sedikit jumlahnya dan waktu yang tak sebentar hitungannya – untuk tujuan apa? Saya tidak anti-makeup, tentu saja. Namun, saya kira, perempuan harus bisa menikmati setiap makeup yang dikenakan atas nama mencintai diri sendiri.
 
Nilai-nilai tentang menjadi perempuan, menurut saya, sifatnya mengategorisasi. Akan ada mereka yang terinklusi dan tereksklusi dari kelompok “perempuan yang sudah menjadi perempuan”. Dan akan ada kelompok satunya, kelompok “perempuan yang belum menjadi perempuan” atau bahkan “perempuan yang belum sukses menjadi perempuan” – meski tidak secara gamblang diungkapkan.
 
Nilai dan norma memang penting untuk masyarakat karena tanpa itu masyarakat bisa kacau. Karena itu, saya pikir, nilai tentang bagaimana menjadi perempuan memang perlu diatur. Saya lebih suka memisahkannya menjadi dua, antara nilai yang terkait peran biologis dan nilai yang sifatnya sosial. Nilai yang terkait peran biologis, seperti menjadi perempuan pasti akan mengalami menstruasi sehingga para perempuan harus tahu bagaimana menangani siklus menstruasi. Sifat nilai yang terkait peran biologis perempuan ini harus obyektif (berdasarkan ilmu medis, misalkan). Peran sosial, sebaliknya, sifatnya lebih cair, lebih relatif. Sangat tergantung pada masyarakat tempat perempuan berada.
 
Untuk peran sosial sendiri, kita butuh menganalisis ulang setiap nilai. Apakah memang nilai tentang menjadi perempuan itu membangun atau justru berpotensi menghancurkan perempuan? Apakah nilai itu menetapkan perempuan dalam posisi setara dengan laki-laki atau justru malah di bawah (atau di atas) laki-laki? Saya kira ini harus diselidiki lagi karena saya percaya kesetaraan adalah kunci.
 
Kemudian, kita perlu juga memikirkan konsekuensi. Apakah para perempuan yang tidak bisa mengikuti nilai akan “dihukum” dengan dikucilkan tanpa melihat penyebab dan konteks situasi – atau kah mereka akan ditolong untuk kembali berusaha mengikuti nilai dengan cara yang manusiawi? Atau mungkin, perlu ada alternatif nilai lain? Masyarakat jelas perlu menetapkan dan menganut nilai-nilai yang tidak menyudutkan dan tidak merugikan perempuan.
 
Saya pribadi percaya, bahwa perempuan harus menetapkan nilai-nilainya sendiri untuk menjadi kuat bertahan dalam arus konformitas yang membingungkan sekarang ini. Perempuan harus sadar, peka, dan tajam dalam melihat setiap nilai yang ditawarkan dan ditanamkan kepada dirinya dari lingkungan eksternal (keluarga, budaya, teman sebaya, media, bahkan mungkin agama). Setiap nilai butuh dipertanyakan dan dipahami, tidak hanya diterima dengan menutup mata. Perempuan harus berani untuk menetapkan nilai, mengadopsi nilai, bahkan menolak nilai, untuk dirinya sendiri, tentang bagaimana menjadi perempuan.
 
Menjadi perempuan dalam hidup bermasyarakat memang rumit. Sama rumitnya sebenarnya dengan menjadi laki-laki, terutama dalam peran sosial yang ditetapkan sistem patriarki (ini katanya menjadi salah satu penyebab tingginya angka bunuh diri laki-laki). Namun, kiranya kita tetap berani. Berani untuk menjadi perempuan, seperti definisi yang kita tetapkan dan kita yakini.
Yuliana Martha Tresia adalah alumni Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia (FISIP UI) 2009, yang menaruh perhatian besar pada isu perempuan, kemiskinan, ekologi, kesehatan jiwa dan pendidikan. Anti-konformitas, seorang feminis dan pekerja kemanusiaan sosial. Sehari-hari menulis tentang isu perempuan dan gender di blog pribadinya di www.jasiridvorah.wordpress.com.