Women Lead Pendidikan Seks
July 02, 2018

Tubuh Kurus Tak Luput dari 'Body Shaming'

Tidak seksi, tidak enak dipandang, gampang terbawa angin. Kapan kita berhenti mengomentari fisik orang lain?

by Yuliana Martha Tresia
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Bertubuh kurus berarti bebas dari body shaming? Tunggu dulu. Dari pengalaman saya dan seorang teman baik saya, ternyata bertubuh kurus pun tidak berarti bebas dari perundungan.
 
Di tengah arus media yang membentuk pandangan masyarakat kita yang sepertinya lebih meninggikan citra tubuh kurus daripada tubuh gemuk, ternyata body shaming tidak melihat masalah kurus atau gemuk. Ketika selama ini kebanyakan kasus body shaming dilakukan terhadap perempuan-perempuan bertubuh gemuk, ternyata menjadi perempuan kurus tidak serta-merta membuat kita luput dari ejekan.
 
“Kok makin kurus sih? Jelek tahu kurus. Gemukin, dong.”
 
Bayangkan saja mendengar kalimat seperti ini nyaris tiap hari. Wajar ‘kan jika lelah, kesal, sampai marah? Teman baik saya juga mengalami hal yang sama. Ia dikomentari “kurang seksi”, dianggap tidak memiliki payudara atau lekuk tubuh, di depan orang banyak oleh sesama perempuan. “Kurus-kurus gitu nanti ditiup angin terbang lho, kalian berdua pas naik motor enggak kebawa angin? Hahaha. Makanya jangan kurus-kurus. Hahaha.” Begitu kata orang-orang.
 
Sayangnya, body shaming seringkali dianggar wajar. Banyak orang di sekeliling kita menganggap mengomentari tubuh dan penampilan fisik orang lain adalah sesuatu yang biasa, tidak ada masalah dengan itu. Ketika bertemu seseorang, komentar selewat “Lo gemukan ya?” atau “Sekarang kurusan?” dianggap sudah biasa. Yang lain malah mungkin menganggap body shaming adalah bagian dari bercanda. Karena itu cuma bercanda, maka kita tidak boleh marah atau tersinggung. ‘Kan cuma bercanda, kok sensitif sekali. Mereka  tidak sadar bahwa tindakannya sudah merendahkan dan menyakiti perasaan orang lain.
 



Kadang-kadang cemoohan-cemoohan itu membuat saya mempertanyakan apa yang salah dengan tubuh kurus. Dua puluh tahun sekian hidup dengan tubuh kurus, rasanya lelah sekali jika orang-orang hanya bisa berkomentar, “Lo makin kurus, makanya makan yang banyak, dong.” Ya, saya tidak hobi makan, kadang kala malah payah makan, itu sudah terjadi sejak saya masih kecil. Ya, saya kurus, tapi saya sehat-sehat saja dan saya merasa nyaman-nyaman saja dengan menjadi orang kurus. Lalu apa masalahnya?
 
“Perempuan kurus itu tidak enak tahu dipandang mata,” kata teman laki-laki saya yang lain, yang sering berkomentar ini-itu tentang para perempuan bertubuh kurus atau gemuk. Mendengar kata-katanya, saya jadi sadar bahwa body shaming ini memang lebih sering diterima para perempuan di sekitar saya, daripada para laki-laki. Jika alasannya tidak enak dipandang mata, bukannya itu termasuk objektivikasi tubuh perempuan?

Sementara itu, jika ingin membandingkan, teman laki-laki saya ini juga tidak bisa dikatakan memiliki postur tubuh laki-laki yang enak dipandang mata dalam persepsi saya. Mengapa ia menuntut yang ia tidak bisa berikan juga dari tubuhnya? Lagipula, enak dipandang mata, atau apa pun itu tentang standar kecantikan atau keindahan merupakan konstruksi sosial yang amat sangat relatif. Sayangnya, standar-standar kecantikan relatif yang terkonstruksi dan dianut seseorang (atau sekelompok orang) ini kemudian dipaksakan terhadap orang lain.
 
Yang lebih menyedihkan buat saya, teman-teman yang sering melakukan body shaming terhadap kami adalah justru sesama perempuan, yang bertubuh tidak kurus. Saya sendiri tidak melakukan body shaming terhadap perempuan lain, saya merasa pantang mengomentari tubuh orang lain. Bahkan hanya untuk berkata, “Eh, sekarang gemukan?” atau “Lo kurusan ya?”, tidak saya lakukan. Khususnya, jika saya tahu komentar itu akan berdampak negatif dan destruktif. Saya pikir setiap orang memiliki kondisinya masing-masing, juga hak atas tubuhnya, termasuk hak untuk menjadi gemuk atau kurus. Sayangnya, tidak semua orang, tidak semua perempuan berpikiran seperti ini.
 
Sebagai perempuan, sepertinya kita perlu berhenti untuk hanya fokus terhadap penampilan fisik, yang terkadang menciptakan kesenjangan dan hierarki baru “mana yang lebih cantik” dan “mana yang kurang cantik” di antara kita. Kita perlu melihat setiap perempuan unik dalam gaya penampilan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan penghormatan dan perayaan keberagaman, tentu saja.
 
Menjadi kurus atau gemuk adalah termasuk hak atas tubuh. Tidak perlu ada orang lain yang mengatur dengan alasan-alasan yang sebenarnya mengobjektifikasi tubuh perempuan. Perempuan kurus tidak lebih cantik atau lebih tinggi derajatnya daripada perempuan gemuk, pun sebaliknya. Semua perempuan setara, entah ia gemuk atau kurus. Kita harus menghentikan body shaming. Kita harus lebih saling menghormati. Bukankah demikian?
 
Yuliana Martha Tresia adalah seorang perempuan yang berharap bahwa dunia yang setara yang menjunjung tinggi penghargaan dan penghormatan akan satu sama lain bukanlah dunia yang utopis untuk kemanusiaan. Anti-conformist, feminist, gender & poverty issues enthusiast. Sehari-hari menulis pemikirannya di jasiridvorah.wordpress.com.