Women Lead Pendidikan Seks
July 26, 2019

6 Band Perempuan Indonesia Milenial yang Wajib Masuk Playlist

Dunia musik Indonesia tidak pernah sepi dari band perempuan, termasuk enam grup musik berikut yang wajib didengar.

by Elma Adisya, Reporter
Culture
SarahArifin_Band_Perempuan_Music
Share:

Dalam wawancara dengan podcast Magdalene’s Mind, penyanyi/musisi/aktivis Kartika Jahja membahas bagaimana musisi perempuan sering kali dipandang sebelah mata di dunia musik Indonesia, khususnya di jalur independen.

“Musisi laki-laki lebih banyak diidolakan dan diapresiasi karena pemikirannya dan karya-karyanya. Tapi kalau musisi perempuan lebih banyak diapresiasi karena image dan penampilannya,” ujar Kartika.

Ia menambahkan bahwa meski jalur independen kelihatannya lebih membuka ruang bagi perempuan untuk berkarya, kultur di dalamnya masih sangat maskulin dan patriarkal. Salah satu masalah besar yang dihadapi musisi perempuan adalah pelecehan seksual, termasuk saat mereka manggung.

Masalah ini sempat ramai ketika video yang memperlihatkan Angee, vokalis sekaligus gitaris dari band Grrrl Gang, menendang salah satu penonton yang melecehkannya secara verbal.

Isu-isu ini mungkin membuat jumlah band perempuan tidak pernah banyak di Indonesia, meski mereka sempat berjaya sebelum era 1980an. Tapi bukan berarti dunia musik Indonesia sepi dari band perempuan. Berikut adalah enam grup musik yang semua anggotanya perempuan dan berkarya di jalur independen, bertahan dan melawan dominasi laki-laki dalam dunia musik.

  1. Zirah

(Genre: Menyebut diri sebagai “Aib Rock”)

Saya tidak sengaja bertemu dengan Zirah ketika menghadiri sebuah diskusi musik “Perempuan dan Persimpangan” yang diselenggarakan oleh Tangorango, sebuah kolektif seni dari Tangerang. Band yang terdiri dari empat perempuan awal 20an, yaitu Alysa Isnan (vokalis), Annisa Yasmin (pemain bass), Talitha Mailangkay  (pemain drum), dan Raisa Faranda (gitaris) merupakan salah satu band pendatang baru binaan Gang Potlot, markas Slank.

Seperti Kartika Jahja, Yasmin mengungkapkan keresahannya atas standar ganda untuk musisi perempuan, saat kami bertemu di Gang Potlot kemudian.

“Kami pengen memperlihatkan kepada semua orang kalau kami itu bukan bermodal penampilan. Kita terus belajar agar Zirah bisa tampil profesional,” ujar Yasmin, yang terus mengikuti kursus musik untuk mengasah kemampuannya.

Terbentuk pada 2018, Zirah sudah membuat sejumlah lagu namun baru satu single yang tersedia di layanan streaming musik digital, yakni “Pusaka Pertiwi”. Lagu ini diciptakan oleh sang penabuh drum, Talitha, yang terinspirasi dari pengalaman masuk angin di malam hari.

“Jadi Pusaka Pertiwi sebenarnya bercerita tentang minyak angin. Aku sering banget pulang malam dan suka masuk angin. Cuma minyak tawon aja yang jadi teman kalau sudah masuk angin, favorit banget deh,” ujarnya sambil tertawa.

Selain itu, ada satu lagu lagi yang bisa kalian dengar di Youtube suara Zirah, judulnya “Kuasa”, ciptaan sang vokalis, Aly.   

“Waktu itu gue kerja di agensi digital agensi dengan tekanan pekerjaan yang gede banget. Suatu ketika gua pulang kerja, gua ketemu sama mereka (anggota Zirah) dan menulis tentang apa yang gue rasakan,” ujar  Alysa.  

“Lagu ‘Kuasa’ juga bisa dikaitkan dengan kondisi masyarakat kita saat ini di mana, sistem kapitalisme yang menguasai masyarakat, dan membuat kita terus-terusan bekerja,” timpal Yasmin.

Walaupun belum semua lagu Zirah beredar di banyak platform musik, band ini sudah punya banyak kesempatan manggung, termasuk menjadi grup pembuka band The Brandals.  

  1. Nonaria

(Genre: Jazz)

Singkatan dari “Nona Ceria”, trio Nonaria memang membawakan lagu-lagu bernuansa jazz 40-an hingga 50-an yang riang dengan lirik yang merayakan kebahagiaan dan kehidupan.  

Dibentuk pada 2012 di Jakarta oleh Nesia Ardi (vokal dan drum), Nanin Wardhani (piano), dan Yasintha Pattiasina (biola), Nonaria juga memiliki ciri khas penampilan yang jadul dengan gaya pakaian vintage.

Grup musik ini telah menelurkan satu album, Nonaria (2018), dan baru saja menelurkan lagi sebuah single pada awal 2018, yaitu “Jadi Wanita”. Single ini merupakan bentuk apresiasi Nonaria terhadap perempuan yang saat ini sudah bisa bercita-cita menjadi apa pun, dan berkreasi sesuka mereka.


  1. Voice of Baceprot (VOB)

(Genre: Metal, Punk)

Jika Jepang memiliki Baby Metal sebagai trio penyanyi perempuan muda beraliran metal, Indonesia memiliki Voice of Baceprot, band asal Garut yang semua anggotanya berjilbab.

Terdiri dari Firda Kurnia (vokal dan gitar), Euis Siti Aisyah (drum), dan Widi Rahmawati (bass), band ini dibentuk pada 2014 saat mereka bertiga masih di bangku SMA. Tiga tahun kemudian, video mereka viral dan grup musik ini muncul di banyak media. Seperti juga musisi perempuan lainnya, perhatian terhadap grup ini sering salah fokus ke hijab mereka, yang menimbulkan pro dan kontra. Padahal keterampilan musik para anggotanya patut diacungi jempol.


Salah satu lagu andalan mereka adalah “School of Revolution”, sebuah kritik terhadap sistem pendidikan yang menyeragamkan siswa, membatasi semangat berkreasi, dan menghukum yang berbeda. Lagu-lagu lainnya dapat didengar di layanan musik digital seperti Spotify.

  1. The Dare

(Genre: Dream Pop, Alternative Rock)

Pada Februari 2018, empat perempuan muda asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, membentuk The Dare, yang menurut mereka berarti kumpulan perempuan dari Lombok yang berani bikin band.

Terdiri dari Riri (vokal dan gitar), Desita (drum), Meigali (bass), dan Yollanang (gitar), mereka mengusung aliran dream pop dan telah mengeluarkan EP (album mini) perdana mereka berjudul Inthrovvvert. The Dare juga sudah melakukan tur keliling pulau Jawa bersama band Sundancer pada 2018.

  1. The Bananach

(Genre: Rock, Punk)

Lirik yang menyentil, inilah kesan pertama saya ketika mendengar “Aphrodite”, salah satu lagu dari EP Wasted Demo milik The Bananach, band perempuan beraliran rock. Lagu itu adalah otokritik terhadap budaya konsumerisme yang berlebihan pada sebagian perempuan.

Terdiri dari Karina (vokal), Azni (gitar), Moyan (gitar), dan Fay (drum), The Bananach dibentuk pada 2014 namun sempat vakum dan kembali aktif pada 2017.

  1. Grrrl Gang

(Genre: Pop)

Grrrl Gang memang bukan grup musik yang semua personelnya perempuan, tapi patut dimasukkan ke daftar. Hanya vokalisnya yang perempuan, yakni Angeeta Sentana atau Angee (vokal dan gitar), sisanya adalah Akbar Rumandung (bass) dan Edo Alventa (gitar).

Ketiga orang ini sama-sama berkuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tempat mereka membentuk Grrrl Gang pada 2016. Mereka sudah mengeluarkan empat EP, yakni Not Sad Not Fulfilled, Pop Princess, Dream Grrrl, dan Stop This Madness.

Salah satu lagu yang paling menempel dan mengena adalah “Guys Don’t Read Sylvia Plath”, yang berkisah tentang perspektif perempuan yang ingin merebut kembali identitas keperempuanannya. Sebagian besar lagu yang diciptakan pun menggunakan sudut pandang cerita perempuan muda, walaupun begitu lagu-lagu mereka tetap diterima oleh para penggemar laki-laki.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock.