Women Lead Pendidikan Seks
August 11, 2020

Cantik itu Terima Kekurangan Tubuh dan Tonjolkan Bagian Tubuh Terbaik

Daripada terus berkutat dengan kekurangan tubuh, kita bisa mengalihkan perhatian kepada bagian terbaik tubuh dan cara menonjolkannya.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

“Paling suka mata soalnya kata temenku mataku kayak mata elang yang tajam. Mataku juga punya double eyelids, besar jugaa. Yang aku enggak suka, badan aku soalnya pake baju apa pun ga cocok.” - @lunnysvett

“Pernah gasuka bgt sm warna kulit yg item. Krn dulu sering di bully. Tapi sekarang masih mencoba menerima warna kulitku namun tetep merawat sebisaku.” - @skipajagapapa

“Suka kuku sama pinggang, kalau kuku dari bentuknya bagus, terus pinggang aku kayaknya kecil banget, jadi kalau ada yang megang pinggang kerasa mini gitu. Ga suka warna kulit, walaupun ada yang bilang warna kulit aku ga gelap tapi tetep ga pede aja gitu.” - @sasaaaungan

“Paling disuka: alis, soalnya tebal jadi ga perlu pake pensil alis lagi. Paling ga suka: payudara soalnya sering jadi korban catcalling karena ukurannya yang sedikit lebih.” - @darkerdimples

“Paling disuka: vagina. She never fails to do her job. Paling ga disuka: semuanya. Solusinya: avoid mirrors and toxic people.” - @itzreibrary

“Dulu banyak banget yang aku ga suka mulai dari rambut wavy, paha betis gede, pendek lagi, sama kulitku yang sawo matang ini.” - @maria_tyasw

Head to toe suka” - @margvon

“Suka semuanya. Ga ada yang ga disuka karena suka semuanya, bahkan selulit di paha, lemak di perut, kulit yang sawo matang, perempuan kok tinggi banget. Pokoknya suka semuanya!” - @indobubarinaja

Itulah sejumlah komentar warganet yang kami kumpulkan dari akun Twitter dan Instagram Magdalene, setelah kami melempar pertanyaan, bagian tubuh mana yang warganet suka dan tidak suka pada 7 Agustus lalu. Ada sebagian yang menyatakan suka pada seluruh bagian tubuhnya, tapi banyak juga yang menyebutkan bagian tubuh yang dianggap kurang berdasarkan standar kecantikan dominan di masyarakat. Kulit putih, gigi rapi, badan langsing, payudara yang tidak terlalu besar atau kecil, atau betis ramping adalah sebagian di antaranya.

Sering kali orang memberi perhatian lebih pada kekurangan-kekurangan tubuhnya. Ketika fokus pada kekurangan tersebut berlangsung terus menerus, ia akan memiliki persepsi terhadap tubuh sendiri atau body image yang buruk.

Selain fokus pada kekurangan tubuh, ada sejumlah tanda lain seseorang memiliki body image yang buruk. Menurut Psychology Today, tanda-tanda tersebut di antaranya memandang diri tidak menarik, khawatir bila orang lain memperhatikan bagian kurangnya, menghindari pertemuan langsung, ada kecenderungan bersikap perfeksionis, dan terus menerus membandingkan penampilan sendiri dan orang lain. Tanda-tanda yang lain adalah bertanya-tanya kepada orang lain “Aku kelihatan gendut enggak pakai ini?” dan sejenisnya untuk meyakinkan diri, tidak pernah puas dengan penampilan yang ada, serta ada kecenderungan ingin terus memakai kosmetik secara berlebihan atau melakukan operasi atau prosedur kosmetik lain untuk menutupi bagian tubuh yang kurang.

Baca juga: Belajar Menerima dan Mencintai Warna Kulit Natural dalam Balutan Lingerie

Semakin sering kita terpapar dengan standar kecantikan yang tidak realistis, yang menuntut kita terus berusaha berubah jauh dari penampilan kita sekarang, semakin mungkin kita mengkritik, bahkan membenci tubuh kita sendiri. Padahal, yang salah bukanlah tubuh yang kita punya, tapi definisi kecantikan yang begitu sempit yang dipercaya banyak orang.

Dari waktu ke waktu dan pada setiap tempat, pemaknaan kecantikan berbeda dan berubah-ubah. Pada zaman Reinassance di Eropa misalnya, perempuan dengan tubuh lebih berisilah yang dianggap cantik. Di Afrika pun anggapan ini ada karena perempuan bertubuh berisi diasosiasikan dengan kesuburan. Ini berbeda dengan definisi cantik pertengahan abad 20 di mana yang langsinglah yang dilihat lebih menarik.

Para perempuan Kayan di Myanmar memakai sejumlah kalung besi di leher yang membuat leher mereka lebih panjang dari rata-rata orang karena menganggap hal itu bagian dari identitas budaya sekaligus tanda kecantikan seseorang. Sementara di beberapa suku di Ethiopia, kecantikan dilekatkan dengan praktik memasang piringan di bibir bawah yang membuatnya jauh dari ukuran rata-rata.

Di Barat, dengan mayoritas penduduknya adalah Kaukasian, mempunyai kulit agak kecokelatan terbakar matahari dipandang lebih atraktif bagi sebagian orang dibandingkan kulit pucat pasi.

Perkara kecantikan adalah perkara sudut pandang yang tentunya tidak bersifat tunggal. Selain sudut pandang terkait definisinya, sudut pandang terkait bagaimana cara kita melihat bagian-bagian tubuh kita juga layak kita evaluasi lagi dalam rangka berusaha menerima dan merayakan apa yang kita miliki sekarang.

Alihkan fokus ke bagian terbaik

Jika kita biasa becermin dan mata langsung tertuju pada bagian-bagian yang kurang untuk diperbaiki, kita bisa mencoba “cara baru” dalam memperhatikan fisik kita: Arahkan fokus pada bagian-bagian yang kita sukai atau anggap menarik.

Salah satu warganet mungkin merasa menjauhi cermin adalah solusi untuk tidak membuat perasaan makin rendah diri. Namun cara sebaliknya bisa dijajal untuk gol yang sama.

Kita tidak perlu menjauhi cermin karena kita mau menghindari “realitas” (yang sebenarnya tidak lebih dari bentukan orang-orang, media massa, industri kecantikan yang membuat kita makin insecure). Kita melihat cermin bukan untuk mengutuki diri atau mengingatkan akan banyak bagian yang tidak sempurna (menurut standar kecantikan dominan).

Kita becermin untuk belajar menerima, menormalisasi hal-hal yang ada di tubuh kita selama semuanya sehat-sehat saja, hingga akhirnya sampai pada tahap becermin untuk merasa bersyukur dan mencintai tubuh sendiri.

Lebih lanjut, dalam Women’s Health Mag pakar body image Robyn Silverman menyatakan bahwa kita perlu membicarakan bagian-bagian tubuh yang kita suka di depan cermin. Meskipun awalnya kita mungkin kikuk atau merasa konyol, hal ini patut dicoba dibandingkan terus memperhatikan dan membicarakan bagian tubuh yang dianggap kurang.

Baca juga: Nipplets Dorong Kampanye Tubuh Positif Lewat ‘Lingerie’

“Sebagian orang melihat dirinya di cermin dan mengatakan hal-hal buruk. Jika mereka mengatakannya keras-keras, mereka mendengar dan sekaligus justru menonjolkan permasalahannya,” komentar penulis Good Girls Don’t Get Fat: How Weight Obsession Is Messing Up Our Girls ini.

Becermin juga membuat kita makin kenal dengan tubuh sendiri. Semakin kita mengenalnya, semakin baik kita mencari referensi, entah pakaian atau make up, yang membuat bagian terbaik tubuh kita kian menonjol.

Lalu kalau ingin tetap bisa menonjolkan bagian terbaik tubuh, kita tidak boleh abai untuk merawatnya, baik dengan cara menjaga kebersihan dan kesehatannya maupun melalui latihan fisik untuk menguatkan bagian-bagian otot tertentu.

Fokus pada bagian terbaik tubuh juga menjadi salah satu pesan yang disampaikan Nipplets, produsen lingerie dalam negeri yang aktif mengampanyekan self love serta penerimaan aneka bentuk tubuh dan warna kulit perempuan.

Founder Nipplets Ida Swasti mengatakan, terkadang ada followers yang berkonsultasi dulu sebelum membeli lingerie, salah satunya terkait kekurangan tubuhnya agar bisa memilih produk yang tepat untuknya.

“Misalnya ada yang bilang boobs-nya kurang, tapi kelebihan dia di bagian butt-nya. Kita sarankan yang menonjolkan kelebihannya. Jadi, lupain boobs areanya, embrace your butt,kata Ida.

Dalam kampanye terbarunya melalui koleksi Nipplets Reverie, Ida mengajak para perempuan untuk kembali memperhatikan kulitnya, khususnya mereka yang berkulit gelap atau sawo matang dan menganggapnya sebagai kekurangan tubuh, dan perlahan-lahan menerima hal itu sebagai sesuatu yang cantik, bahkan mencintai dan merasa bangga memilikinya.  

Terkadang perempuan merasa malu mengenakan lingerie karena banyak bagian tubuhnya yang terekspos, termasuk bagian tubuh yang kurang. Namun, Nipplets berusaha menyokong perempuan yang punya ketidakpercayaan diri seperti ini untuk mengesampingkan rasa malu atau khawatir tidak memenuhi standar cantik di masyarakat.

Ketika ada followers yang mengirim testimoni dan dengan percaya diri berfoto mengenakan lingerie Nipplets terlepas dari bagian-bagian tubuh yang dianggap tidak sempurna menurut standar kecantikan, Ida akan menunjukkannya ke followers lain dengan tujuan membantu memompa kepercayaan diri mereka.

“Tubuh kan enggak ada yang sama. Kalau dia dengan tubuh yang kayak gini [di luar standar kecantikan] pede, kamu harusnya pede juga,” pesan Ida.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop