Women Lead Pendidikan Seks
January 14, 2020

Ibu dan Setan Bernama Skizofrenia

Di usia 23 tahun, aku baru sadar bahwa Ibu terkena skrizofenia, bukan kutukan sihir maupun kerasukan setan.

by Dancing Bullet
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Namaku Bangkit, saat ini usiaku 26 tahun. Kata orang-orang namaku aneh; perempuan macam apa yang punya nama Bangkit. Namun, kata mereka, yang lebih aneh adalah ibuku. Katanya ibuku kerasukan setan.

Menurut keluarga, ibuku kerasukan setan sejak usiaku lima tahun. Tentu aku percaya, kelakuan ibuku memang tidak seperti biasanya. Dia tidak mengenaliku, suka tertawa sendiri, kadang marah, sering kali memukul tembok rumah. Aku sering disembunyikan ketika ibuku mulai mengamuk. Aku tidak paham apa yang terjadi; yang aku tahu, aku benci sekali dengan setan yang ada di tubuh ibuku.

Ayah dan ibuku berpisah sejak aku tiga tahun. Hingga usia 17 tahun, aku belum pernah melihat rupa ayahku. Dari kecil hingga saat ini, aku diurus oleh Nenek dan tanteku. Waktu berjalan dan keluargaku tidak tinggal diam melihat ibuku kerasukan setan. Beberapa usaha dilakukan untuk mengusir setan itu dari tubuh Ibu. Pernah aku melihat Pak Ustaz datang memukul ibuku dengan tasbih sebesar biji durian. Alamak! Jangankan setan, aku pun lari tunggang langgang kalau dipukul tasbih itu. Sialnya, tasbih Pak Ustaz kurang canggih untuk memukul mundur setan dari tubuh Ibu. Ada beberapa memori yang masih kuingat tentang proses pengusiran setan dari tubuh ibu. Pernah kulihat kepala kambing ditanam di depan rumah. Tadinya kupikir akan tumbuh pohon kambing, namun sampai sekarang kepala itu membusuk jadi fosil saja.

Baca juga: Trofi dari Mama

Waktu berjalan dan ketika remaja, aku sudah terbiasa dengan kehadiran setan di tubuh Ibu. Aku menganggap Ibu sedang tertidur di suatu dimensi lain langit. Stratosfer mungkin. Tapi kehadiran setan di tubuh Ibu tidak begitu saja aku terima. Hih, enak saja! Sering kali aku berkelahi dengan setan di tubuh Ibu. Heroik kan, aku? Aku bentak setiap kali dia lewat. Aku yakin betul melawan setan, bukan Ibu.

Usaha keluarga melawan setan di tubuh Ibu juga terus dilakukan. Dari sekian banyak usaha itu aku kenal beberapa ustaz, namun tidak pernah sekali pun aku temui seorang dokter. Ah, namanya juga mengusir setan, pikirku. Sayangnya, usaha mengusir setan dari tubuh Ibu harus berhenti suatu waktu. Apalagi kalau bukan masalah biaya. Akhirnya, keluarga memutuskan Ibu tinggal bersama kami di rumah, tanpa pengobatan apa pun.

Kami memutuskan menghentikan pengobatan ibu karena uang sekolahku, pun gaji Nenek dan Tante sudah tidak cukup untuk membeli kepala kambing lainnya. Kami menjalani kehidupan "seperti keluarga biasa". Cerita tentang setan di tubuh Ibu memang tidak pernah kuceritakan pada teman-temanku. Aku masih jadi remaja egois yang malu tubuh ibunya diisi oleh setan.

Masa remajaku seperti remaja lainnya; di waktu luang aku senang menonton film. Sampai suatu saat aku menonton film A Beautiful Mind, yang mengisahkan John Nash, penerima Hadiah Nobel Matematika. Loh, kok kelakuannya hampir mirip Ibu? Tapi di film itu John Nash dikatakan mengidap skrizofenia. Hmmmm. Aku mencari di Google tentang penyakit itu. Aku juga bertanya kepada temanku yang mengambil jurusan Psikologi. Katanya, Skrizofenia adalah nama lain penyakit gangguan jiwa. Ah, tidak, tidak. Kayaknya bukan yang dialami ibuku. Pertanyaan itu berhenti begitu saja.

Baca juga: 'Expecto Patronum', Cahaya dalam Depresi

Singkat cerita, aku lulus kuliah. Dengan jerih payah Nenek dan Tante aku berhasil mendapatkan pendidikan hingga S1. Media sosial sedang tren-trennya. Hingga aku menemukan lagi kata skrizofenia. Aku telusuri lebih lanjut. Aku baca beberapa jurnal dan buku tentang skrizofenia. Sial, rasanya aku kenal dekat dengan skrizofenia ini. Dia yang ada di tubuh ibuku.

Aku butuh validasi, pikirku. Maka aku putuskan untuk datang ke psikolog dengan gajiku. Aku ceritakan tentang keadaan Ibu. Si psikolog membenarkan dugaanku: ibuku memang menderita skrizofenia. Di usia 23 tahun, aku baru menyadari bahwa ibu terkena skrizofenia, bukan kutukan sihir maupun kerasukan setan apa pun. Hatiku hancur, ketika psikolog bilang kemungkinan skrizofenia Ibu sudah akut.

Pulang dari psikolog, aku memberi tahu Nenek tentang skrizofenia yang diderita ibu. Namun rasanya berat buat nenekku untuk menerima informasi itu; lebih mudah menyalahkan setan daripada kata latin yang sulit dilafal itu. Usahaku untuk mengajak Ibu ke psikiater pun lebih sulit; Ibu mengalami halusinasi akut sehingga susah untuk mengajaknya keluar rumah.

Hingga saat ini, aku hanya bisa melakukan dua hal. Pertama, meyakinkan keluargaku bahwa Ibu terkena skrizofenia dan mendapatkan dukungan untuk membawa Ibu ke psikiater. Kedua, Meminta maaf kepada setan karena selama 23 tahun kujadikan kambing hitam. Maaf ya, tan. 

Dancing Bullet adalah peluru yang suka menari dan menulis di waktu senggang.