Women Lead Pendidikan Seks
January 07, 2020

‘Imperfect’ Ingin Sebarkan Citra Tubuh Positif

Film “Imperfect” berniat menyebarkan pesan positif terkait tubuh dan mengkritik standar ideal kecantikan.

by Permata Adinda
Culture // Screen Raves
FilmIMPERFECT
Share:

“Ra, inget lemak…” komentar rekan kerja Rara, karakter utama film Imperfect, yang melihatnya sedang membawa bungkusan bubur ayam.

“Tapi gak papa, deh, nutrisi buat ibu hamil,” lanjutnya mencemooh.

Rara (Jessica Mila) memiliki karakteristik fisik yang tidak memenuhi standar kecantikan Asia: bertubuh gemuk, berambut keriting, dan berkulit gelap. Ia digambarkan doyan makan, dan bahkan punya rak khusus untuk menyimpan cokelat batang yang biasanya ia makan ketika sedang bersedih.

Karena tubuh gemuknya, Rara kerap diperlakukan berbeda, dirisak, dan dituntut oleh orang-orang di sekitarnya untuk mengurangi berat badan. Film yang disutradarai komedian Ernest Prakasa ini berusaha menggambarkan rasa tidak percaya diri dan tekanan sosial yang kerap diterima perempuan, terutama terkait tubuhnya.

Tidak hanya Rara, Imperfect menampilkan bentuk-bentuk berbeda dari rasa tidak percaya diri yang dimiliki perempuan. Lulu (Yasmin Napper), adik Rara yang seorang vlogger terkenal, misalnya, merasa pipinya terlalu tembem. Ibu Rara mengkhawatirkan kulitnya yang mulai berkerut. Sementara itu, para penghuni rumah kos Dika (Reza Rahadian), pacar Rara, kerap mengkhawatirkan rambut, gigi, dan postur tubuh mereka. Ada standar ideal kecantikan, dan semua perempuan tampaknya tidak bisa memenuhi itu.

Kisah Rara dan perempuan-perempuan lain dalam Imperfect punya niatan baik: ada pesan untuk menerima diri apa adanya, untuk bersyukur dan tidak berfokus pada kekurangan diri. Selain itu, pembuat film juga memiliki kesadaran untuk tidak menyetarakan stigma sosial yang dialami perempuan gemuk dengan yang bertubuh kurus.

“Ini masalah orang jelek. Lo enggak akan ngerti,” kata Rara kepada adiknya, Lulu (Yasmin Napper) yang kurus, berambut lurus, dan berkulit terang.

Pernyataan ini mungkin jadi salah satu dialog yang paling jujur dan powerful dalam Imperfect. Walaupun setiap perempuan punya rasa insecurity-nya masing-masing, perempuan gemuk ditekan berkali-kali lipat: dari komentar berat dan bentuk badan, sulitnya mencari pakaian dengan ukuran sesuai, hingga industri fashion dan kecantikan yang seolah tidak mengakui eksistensi mereka.

Baca juga: ‘Kim Ji-young, Born 1982’ di Tengah Gerakan #MeToo Korea Selatan

Imperfect menyentil industri fashion dan kecantikan yang memiliki standar tak masuk akal terhadap tubuh perempuan. Rara yang bekerja di industri ini menyadari bahwa tubuhnya akan secara konsisten dipersoalkan. Kariernya bahkan berada di ujung tanduk hanya karena penampilannya. Imperfect juga memberikan contoh lain: ibu Rara, Debby (Karina Suwandi), gagal melanjutkan karier sebagai model hanya karena ia punya bekas luka operasi Caesar di perutnya.

Beban individu

Sayangnya, niat baik untuk menyebarkan citra tubuh positif ini masih menggunakan narasi usang yang berfokus pada mengubah sikap individu. Slogan “mengubah insecure jadi bersyukur” abai mengkritik kecacatan sistem yang membuat perempuan tak pernah merasa cukup baik.

Imperfect lebih menekankan kepada Rara yang belajar untuk menerima diri apa adanya. Sebelum itu, Rara dibuat sengsara dan disalahkan. Setelah menjadi lebih langsing, pandai berdandan, dan lebih memperhatikan busananya, Rara justru diperlihatkan bertindak lebih lalai. Ia dibuat lebih mementingkan hal-hal superfisial, bergaul dengan orang-orang yang dulu mengejeknya, hingga meninggalkan aktivitas mengajar yang ia sukai.

Film ini seolah sengaja menempatkan Rara pada posisi tersudut—hanya agar film bisa berpesan agar perempuan mesti bisa menerima kekurangan diri. Kritik lebih berat ditujukan kepada individu daripada sistem itu sendiri. Seolah perempuan mesti selalu mengorbankan satu hal untuk mendapatkan hal lainnya: “Pilih mana? Kecantikan atau kemanusiaan?”

Imperfect yang berniat membongkar stigma ironisnya juga menciptakan polarisasi perempuan ke dalam dua kubu: tokoh pendukung protagonis seperti Rara, Fey (Shareefa Daanish), dan Lulu punya pribadi yang unik, saling perhatian ke satu sama lain, dan punya ketertarikan terhadap hal lain selain mengkhawatirkan tubuh.

Sementara itu, tokoh-tokoh antagonis seperti rekan kantor Rara, teman-teman ibu Rara, rekan-rekan model Dika, tidak punya motivasi apa-apa selain menjatuhkan dan mengejek Rara. Mereka semua bertubuh langsing dan berkulit cerah. Dengan begini, Imperfect malah menambah masalah baru: film ini mengidentikkan perempuan bertubuh langsing dan berkulit cerah dengan sifat-sifat buruk yang karikatural.

Baca juga: Tara Basro: Permasalahan Perempuan Tidak Pernah Usang

Pengakuan laki-laki dan stereotip perempuan gemuk

Film ini juga memberikan panggung kepada pendapat dan pengakuan dari laki-laki. Di satu sisi, pacar Lulu, George (Boy William), yang sangat mengatur penampilan Lulu, dibingkai sebagai contoh buruk: ia begitu menghamba pada penampilan sebagai upaya komersialisasi diri dan orang di sekitarnya demi mengejar viewers dan followers media sosial.

Di sisi lain, ada Dika yang berbeda 180 derajat dari George. Ia tidak mementingkan penampilan, melindungi penghuni kosnya yang perempuan dari gangguan preman-preman sekitar, dan punya hubungan erat dengan ibunya. Dika jatuh hati kepada Rara karena kepedulian sosialnya. Dika dibingkai sebagai contoh baik, dan pengakuan Dika dinilai penting oleh film.

Dika pun kerap kecewa dan tidak memberikan dukungan ketika Rara bertransformasi menjadi lebih kurus. Di titik ini, Imperfect jadi membingungkan: mengapa perlakuan George dan Dika dipandang berbeda, ketika keduanya sama-sama ingin male gaze-nya dipatuhi? Dika tidak lebih baik dari George. Sama seperti George, Dika juga punya gambaran ideal perempuan yang ia inginkan, dan keduanya memaksa kekasih masing-masing untuk memenuhi harapan itu.

Narasi Imperfect akhirnya masih mentok di situ-situ saja. Malahan, stereotip tentang perempuan gemuk itu dilanggengkan: perempuan gemuk hanya akan tampil di film ketika cerita film adalah seputar insecurity diri soal tubuh. Perempuan gemuk selalu diperlihatkan sedang makan—seolah-olah satu-satunya penyebab gemuk adalah makanan. Makan itu sendiri dikaitkan dengan pelampiasan emosi dan manifestasi rasa bersalah—seakan-akan makan sebagai aktivitas biasa dan memang dibutuhkan manusia jadi tidak berlaku bagi perempuan gemuk.

Karakter-karakter perempuan dengan tompel, payudara besar, dan gigi tak rata pun hanya tampil untuk jadi bahan tertawaan dan menertawakan fisik satu sama lain. Imperfect ingin memperlihatkan bahwa perempuan punya bentuk tubuh, rambut, warna kulit beragam, tetapi karakter mereka direduksi jadi seputar insecurity mereka saja.

Sisi baiknya, Imperfect punya niatan untuk menyebarkan pesan positif terkait tubuh. Film ini memperlihatkan bahwa body shaming dapat dilakukan oleh orang-orang terdekat dan rasa tidak aman dapat menjangkit perempuan dengan berbagai bentuk tubuh dan warna kulit. Sayangnya, niatan itu jadi tak sepenuhnya tersampaikan ketika film lebih berfokus pada memperbaiki sikap individu, masih melanggengkan stereotip tentang perempuan gemuk di film, dan masih menganggap penting pengakuan laki-laki.

Sumber foto: Trailer IMPERFECT: Karier, Cinta & Timbangan

Permata Adinda adalah penulis di Asumsi.co. Tulisannya juga bisa ditemukan di Jurnal Ruang dan Cinema Poetica. Pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival.