Women Lead Pendidikan Seks
September 13, 2022

Apa Kata Feminis Soal Parkir Khusus Perempuan?

Benarkah parkir khusus perempuan kontradiktif dengan kesetaraan gender? Ternyata masih banyak salah kaprah tentang feminisme.

by Abdullah Faqih, dkk.
Issues
perempuan penyandang disabilitas
Share:

Netizen terbelah saat merespons lelucon komedi tunggal (komika), yang menyindir adanya fasilitas parkir khusus perempuan. Bahkan tak cuma berdebat, percakapan mereka juga menimbulkan persepsi yang keliru terhadap feminisme. Jika terus dibiarkan, dikhawatirkan persepsi tersebut lambat laun akan membuat banyak orang menjadi anti pada pergerakan tersebut.

Komika itu sendiri menyindir, perempuan harusnya tersinggung dengan fasilitas parkir khusus perempuan di pusat perbelanjaan. Sebab, menurutnya, fasilitas itu menyamakan perempuan dengan kelompok difabel. Ia juga berasumsi adanya fasilitas khusus tersebut menunjukkan sikap standar ganda kelompok pendukung feminisme yang tak hanya menginginkan perempuan untuk mandiri, namun juga meminta diistimewakan.

Di media sosial, lelucon itu kemudian merembet ke berbagai persoalan lain terkait fasilitas di ruang publik yang dikhususkan bagi perempuan, seperti gerbong kereta dan bus khusus penumpang perempuan. Banyak warganet yang kemudian ikut berkomentar, ‘kekhususan’ semacam itu bertolak belakang dengan semangat feminisme yang menuntut kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Menurut mereka, perempuan ingin ditempatkan sejajar dan setara dengan laki-laki, namun belum tentu mau dan mampu mengangkat galon serta mengerjakan pekerjaan lain yang lebih mengandalkan fisik yang masih didominasi laki-laki.

Pandangan umum – yang salah – soal feminisme adalah saat esensi kesetaraan gender hanya dilihat ketika perempuan bisa melakukan hal-hal yang sama seperti laki-laki. Selain tidak tepat, pandangan semacam ini juga cenderung menyesatkan, sehingga perlu diluruskan.

Baca juga: Gerbong hingga Parkir Khusus Perempuan: Perlu atau Tidak?

Salah Kaprah Memahami Feminisme

Sebagai sebuah gerakan, feminisme pertama kali lahir pada abad ke-19 untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang dalam sejarahnya dirampas oleh budaya dan struktur patriarki, sebuah anggapan yang menempatkan laki-laki pada posisi superior – lebih memiliki kuasa dan kontrol bahkan atas tubuh perempuan.

Sebelum ada gerakan feminisme, laki-laki telah memperoleh banyak sekali privilese seperti hak politik, akses menempuh pendidikan, dan mendapat pekerjaan. Sementara perempuan justru terkungkung di ranah domestik. Gerakan feminisme muncul sebagai upaya untuk membuat perempuan dapat menikmati hak yang setara dan adil dengan laki-laki, baik dalam aspek sosial, ekonomi, politik, di ruang publik, bahkan di ranah domestik.

Untuk mencapai keadilan tersebut, perlakuan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki masih sangat mungkin diberlakukan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Fasilitas parkir khusus perempuan, contohnya, diperlukan agar perempuan dapat terhindar dari ancaman kekerasan seksual, mengingat layanan parkir biasanya minim penerangan, sunyi, dan relatif jauh dari pintu masuk utama gedung. Begitu pula dengan gerbong kereta dan bus khusus penumpang perempuan yang bertujuan untuk menghilangkan hambatan perempuan dalam mengakses sarana transportasi yang layak dan aman.

Itu semua merupakan bentuk ‘tindakan afirmatif’ yang dirancang untuk mencapai kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki dalam mengakses ruang publik yang aman. Ada kalanya perempuan memerlukan ‘tindakan afirmatif’ untuk membuka peluang yang setara ke berbagai macam akses ke ruang publik, bukan untuk menunjukkan bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki karena tidak bisa menggunakan cara yang sama untuk ‘bersaing’ dengan laki-laki.

Lalu mengapa ‘kekhususan’ di ruang publik itu masih diperlukan?

Studi yang dilakukan oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) pada 2022 menemukan, 14 persen kasus pelecehan seksual pada perempuan terjadi di toko umum dan pusat perbelanjaan; 23 persen di sarana transportasi umum; 12 persen di tempat kerja; 26 persen di kawasan pemukiman, dan 70 persen di jalanan umum atau taman. Studi tersebut juga menunjukkan, 4 dari 5 orang perempuan rentan mengalami pelecehan seksual di ruang publik, bahkan di masa pandemi COVID-19 yang menuntut pembatasan aktivitas fisik.

Sekali lagi, ‘tindakan afirmatif’ semacam itu saat ini masih diperlukan agar perempuan dan laki-laki sama-sama dapat mengakses ruang publik dengan leluasa dan penuh rasa aman, meskipun dengan cara yang berbeda. Ini adalah esensi sebenarnya dari kesetaraan gender.

Baca juga: Salah Paham Atas Kebijakan Afirmatif bagi Perempuan

Keragaman Pemikiran Feminisme

Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, feminisme bukanlah konsep tunggal, melainkan memiliki beragam aliran dan sudut pandang.

Ada feminisme liberal yang menekankan kebebasan individu. Ada feminisme marxis-sosialis yang menyoroti masalah perempuan, ketimpangan kelas, dan kapitalisme. Ada pula ekofeminismeyang berfokus pada relasi antara perempuan dengan alam, dan lain sebagainya.

Bahkan, dalam teori feminisme, ada juga penekanan terhadap interseksionalitas untuk melihat pengaruh identitas gender, rasial, disabilitas, dan kelas dalam ketimpangan relasi kuasa di masyarakat. Seluruh aliran pemikiran tersebut biasanya saling memberikan kritik konstruktif, sehingga melahirkan pengetahuan dan sudut pandang feminisme yang beragam dan dinamis.

Meski demikian, selama ini banyak yang menganggap, keberhasilan gerakan feminisme hanya dilihat dari pencapaian segelintir perempuan dalam menggapai hal-hal yang biasanya didominasi oleh laki-laki, seperti menjadi presiden, menteri, direktur perusahaan, atau diterima berkuliah di perguruan tinggi bergengsi di luar negeri.

Padahal, dalam kacamata feminisme marxis-sosialis, keberhasilan feminisme tidak melulu soal pencapaian individu tetapi juga tentang dimensi ketimpangan kelas sosial yang melatarbelakangi hal itu. Feminisme sangat menekankan pada pengalaman perempuan yang beragam serta lapisan kelas sosial yang berbeda-beda.

Nancy Fraser, pemikir feminis asal Amerika Serikat (AS) menyebutkan, hanya ada 1 persen perempuan yang terlahir dengan privilese yang membuatnya mudah meraih kesuksesan, biasanya dalam karier dan pendidikan. Artinya, ada 99 persen perempuan yang masih hidup dalam situasi tidak menguntungkan, sehingga hak-haknya perlu untuk terus diperjuangkan.

Baca juga: Kesenjangan Gender di Tempat Kerja Tinggi, Perlu Ada ‘Affirmative Action’

Musuh Feminisme Bukan Lelaki, tapi Patriarki

Feminisme terkesan hanya fokus memperjuangkan hak perempuan yang melibatkan relasi gender antara laki-laki dan perempuan saja. Hal ini cukup dapat dimengerti, mengingat pondasi gerakan feminisme di awal kemunculannya, memang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang dalam sejarahnya direpresi oleh budaya patriarki.

Namun, seiring kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, feminisme tidak lagi hanya berbicara mengenai perempuan dan laki-laki, melainkan juga tentang identitas gender yang lain. Judith Butler, teoritisi gender, mengemukakan kritiknya atas studi gender yang lebih banyak berbicara soal laki-laki dan perempuan, serta terkesan mengabaikan diskusi tentang kelompok gender non-biner.

Yang kemudian perlu ditekankan adalah, pemikiran feminisme tidak bertujuan untuk memusuhi laki-laki, melainkan melawan budaya patriarki yang selama ini dianggap meminggirkan perempuan dan lebih menguntungkan laki-laki.

Perlu diingat, konstruksi patriarki sebenarnya tidak hanya menindas perempuan, tetapi juga laki-laki itu sendiri. Hal ini terjadi karena patriarki melanggengkan maskulinitas beracun (toxic masculinity) yang membuat laki-laki harus selalu tampil maskulin dan superior. Kondisi ini berdampak pada sulitnya laki-laki mengafirmasi pengalaman dan mencari tempat perlindungan ketika mereka mengalami pelecehan seksual.

Dalam konteks rumah tangga, kuatnya konstruksi patriarki membuat laki-laki memikul beban paling berat untuk mencari sumber penghidupan. Padahal, tanggung jawab finansial dalam rumah tangga sebenarnya sangat mungkin dipikul bersama dengan perempuan.

Dengan demikian, feminisme sejatinya bukan hanya milik perempuan, melainkan milik seluruh identitas gender dengan misi utama untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan di segala aspek.The Conversation

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Abdullah Faqih, Junior Researcher, SMERU Research Institute; Intan Kusumaning Tiyas, Master's Student, Erasmus University Rotterdam, dan Rizka Antika, Program Officer Promoting Tolerance and Respect for Diversity, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID).