Women Lead Pendidikan Seks
December 07, 2017

Menjadi Seseorang yang Tidak Akan Diperkosa

Budaya pemerkosaan sudah terlalu mengakar sehingga banyak orang tidak bisa membedakan mana lelucon dan mana yang termasuk pelecehan seksual.

by Dinda A.F Suratman
Issues // Politics and Society
Share:

“Kenapa sih lo mau buru-buru pulang? Enggak, enggak akan ada yang memperkosa lo kok!” ujar teman saya, diiringi tawa teman yang lainnya. Saya meringis, ingin ikut tertawa tapi saya tahu ada yang salah dengan kalimat tadi.
Peristiwa malam itu sempat saya lupakan karena kelelahan mengikuti kegiatan yang padat di hari tersebut. Hingga tadi malam saya baru mencerna kembali kalimat tersebut. Teman saya ini adalah teman baik semasa kuliah. Ia selalu membantu mengajari saya hal-hal baru mengenai mata kuliah yang sama-sama kami ikuti. Beberapa kali ia pergi ke luar negeri untuk belajar di sana dan pulang membawa banyak ilmu dan perspektif baru yang ia bagi kepada teman-temannya. Saya percaya, teman saya adalah orang yang pintar. Saya juga percaya, dia sangat paham dengan isu-isu ini karena ia pernah mengampanyekan isu-isu kemanusiaan. Tapi yang saya sesalkan adalah teman saya ini kadang lupa akan apa yang ia amini sebagai sesuatu yang salah. Saya yakin, dia tahu bahwa kata-kata yang ia lontarkan kepada saya adalah salah. Namun, sayangnya dia lupa meminta maaf. Bukan kepada saya, tetapi kepada korban-korban pemerkosaan.
Ada tiga kesalahan pada kalimat yang ia lontarkan. Pertama, ada nada body shaming terhadap saya dalam kalimat tersebut. Saya sadar, saya memang tidak memiliki tubuh ideal dan wajah yang cantik. Mungkin dari penilaian itulah ia melontarkan kata-kata tersebut. Beruntung, saya sudah terbiasa dan tidak terlalu peduli dengan ini. Tetapi ada yang jauh lebih menyakitkan dari body shaming yang terkandung dalam kalimat itu. Yaitu bagaimana dia mengamini stigma bahwa faktor adanya kasus pemerkosaan adalah korban bukan pelaku. Dari kalimat itu, di dalam dirinya ia berpikir bahwa orang-orang yang memiliki tubuh ideal dan wajah yang cantik merupakan target telak pemerkosaan karena memiliki syarat-syarat yang cukup untuk diperkosa. Ia tidak sadar bahwa faktor terbesar dari adanya kasus pemerkosaan adalah seorang yang tidak kuat menahan diri melawan nafsu birahinya sendiri.
Lalu kesalahan terakhir dari kalimat tersebut adalah bagaimana ia tanpa sadar mengimplikasikan bahwa menjadi korban pemerkosaan merupakan penghargaan. Setidaknya korban pemerkosaan memiliki seseorang (pemerkosa) yang menginginkan dia.
Saya paham, sebenarnya lelucon tersebut ia lontarkan hanya untuk mengejek saya. Tetapi tanpa sadar ia ikut menyeret korban pemerkosaan sebagai lelucon. Rape culture atau budaya pemerkosaan yang ada di masyarakat ternyata sudah terlalu mengakar. Karena lelucon-lelucon seperti itu tidak sekali dua kali saya dengar. Beberapa tahun silam, salah seorang teman saya yang lain pernah berkata “Diam, deh! Gue perkosa, nih!” kepada saya.
Tak lama saya menegur dia dan meminta untuk tidak menggunakan pemerkosaan sebagai bahan bercanda. Dia sempat menyangkal dan menganggap saya berlebihan. Tapi saya sangat menyayangi dia sebagai teman dan saya tetap tegur walaupun saya kesal.Saya tahu masing-masing watak teman saya. Dia sangat bebal dan tidak terlalu paham dengan isu-isu semacam ini tapi dia tetap mau mendengarkan. Teman yang saya bicarakan di awal berbeda karena seharusnya dia lebih paham. Hal ini membuat saya sangat kecewa, karena sebetulnya saya sangat berharap dia mampu membawa perubahan melalui pemikiran-pemikiran dia.
Selama ini saya mengira, lelucon soal pemerkosaan ada karena ketidakpahaman seseorang akan hal tersebut. Tetapi nyatanya lelucon semacam itu sudah terlalu mengakar di masyarakat sehingga masyarakat tidak bisa membedakan mana kelakar dan mana yang termasuk pelecehan seksual. Karena toh teman-teman saya yang lain tertawa dengan ucapan teman saya tadi.
Andai teman saya membaca artikel yang saya tulis ini, saya hanya ingin dia tahu bahwa opini dan lelucon yang ia lontarkan kepada saya itu salah. Suatu hari nanti, saya mungkin bisa diperkosa. Karena faktanya, ketika saya kelas 5 SD, seseorang yang tidak saya kenali mendatangi saya yang sedang berjalan sendirian sehabis pulang sekolah dan sontak memegang vagina saya. Pada saat itu, saya sudah bertubuh gemuk dan saya memakai seragam sekolah dasar.
Saya tidak ingin dikasihani, karena toh sudah lama saya melupakan kejadian itu. Bahkan keluarga saya tidak ada yang tahu tentang ini. Saya hanya ingin dia dan orang-orang yang berpikiran sama dengan dia sadar bahwa faktor pelecehan maupun pemerkosaan bukan karena siapa dan seperti apa korbannya.
Lewat tulisan ini, saya hanya ingin mereka memahami apa yang sebenarnya tidak mereka pahami. Dan saya hanya ingin agar mereka bisa meminta maaf kepada korban-korban pelecehan seksual dan korban-korban pemerkosaan atas ketidakberpihakan mereka kepada para korban.




Dinda A.F Suratman adalah penulis yang belajar dan mengintrospeksi diri dengan menulis. Ia juga suka berbagi lewat menulis. Apa pun dengan menulis. Karena ia kini hidup lewat menulis.