Women Lead Pendidikan Seks
July 18, 2019

Penerimaan Keluarga Penting Bagi Transpuan

Penolakan keluarga banyak yang membuat transpuan atau waria tidak hidup dengan layak.

by Elma Adisya, Reporter
Issues // Politics and Society
Keluarga_Toleran_LGBT_Family_Queer_SarahArifin
Share:

Saat Dena Rachman masih kecil, ia tidak merasa ada yang berbeda dengan dirinya meski ia lebih suka bermain rumah-rumahan, bernyanyi, dan memakai rok dibandingkan anak-anak laki-laki seusianya. Orang tuanya pun tidak menganggap itu sebuah isu.

Namun ketika ia menjadi semakin menggunakan ekspresi perempuan yang feminin, orang tuanya mulai berubah sikap. Sampai ketika ia melela (coming out) pada orang tuanya pada 2009, bahwa ia lebih nyaman menjadi perempuan, orang tua Dena bersikap dingin dan keras.

Seiring dengan berjalannya waktu, sikap orang tuanya kemudian melunak karena melihat Dena yang menjadi lebih bahagia dan percaya diri.

“Saya paham bahwa mama saya akan menangis ketika mendengar pengakuan saya, tetapi saya tahu bahwa dia yang paling pertama mengerti dan memahami saya,” ujar mantan penyanyi cilik itu seperti dikutip buku Penerimaan: Kumpulan Cerita Penerimaan Orang Tua dengan Anak Transpuan.

Buku tersebut adalah kumpulan wawancara dan hasil riset Kevin Halim, Deputi Divisi Transgender Perempuan di Gaya Warna lentera Indonesia (GWL-INA), sebuah organisasi non-profit yang fokus pada isu kesehatan reproduksi terutama HIV-AIDS. Berangkat dari pengalaman Kevin sebagai transpuan dan proses penerimaan keluarga yang ia dapat, ia terdorong untuk mengkaji pentingnya penerimaan orang tua terhadap teman-teman transpuan.

“Saya sangat sadar ketika orang tua memberikan rasa aman dan kasih sayang pada diri saya. Saya  menjalani perkuliahan dan pekerjaan pun menjadi lebih mudah,” ujar Kevin dalam acara peluncuran buku di Jakarta (1/7).

Ia mengatakan bahwa cerita-cerita penerimaan orang tua dengan anak transpuan sangat minim sehingga ia ingin agar buku ini dapat menjadi contoh dan pedoman untuk orang tua atau calon orang tua di masa depan.

Dari kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), transgender perempuan atau transpuanlah yang paling banyak mengalami penolakan dan kekerasan karena visibilitas mereka yang lebih tinggi. Riset dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM) di tahun 2017 menunjukkan bahwa transgender, terutama transpuan merupakan kelompok yang paling banyak menjadi korban diskriminasi, kekerasan berbasis ekspresi gender dan orientasi seksual. Dari penelitian yang mengkaji pemberitaan media daring, ditemukan ada 973 korban, dan 715 orangnya merupakan kelompok transpuan.

Opresi yang dialami oleh kelompok transpuan memiliki lapis yang berbeda. Banyak transpuan yang memilih untuk kabur dari rumah karena mengalami penolakan dan kekerasan dari keluarga mereka. Karena penolakan tersebut banyak transpuan yang tidak hidup dengan layak karena tidak menyelesaikan sekolah dan sulit mencari pekerjaan.

“Ketika individu transgender mengalami penolakan, saat mereka mengalami diskriminasi sosial, mereka cenderung tidak ingin membela diri dan merasa bahwa perlakuan tersebut memang pantas diterima.  Semangat untuk berkembang pun menjadi terhambat,” ujar Kevin.

Penolakan dari keluarga berakibat besar bagi transpuan, bisa menimbulkan masalah kesehatan mental, seperti yang dialami Tesha, 29. Tekanan untuk menjalani hidup sebagai laki-laki saat di rumah serta tekanan lainnya membuatnya depresi dan memiliki tendensi bunuh diri.

Saat ia akhirnya memberanikan diri untuk melela kepada orang tuanya, ia diusir dari rumah dan orang tuanya berhenti membayar uang kuliahnya.

"Aku makin depresi, padahal tinggal satu semester lagi aku lulus,” ujar Tesha.

“Beruntung teman-temanku bantuin uang kuliahku. Mereka kumpulin uang buat bantu aku sampai aku lulus tahun 2015.”

Baca juga: Berpeci atau memakai mukena: Dilema transgender dalam beribadah

Walau setelah itu hampir dua tahun menganggur karena sulit mencari pekerjaan yang menerima kondisinya, Tesha saat ini sudah mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai administrasi di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Berbeda dengan Tesha, Litha masih beruntung karena abangnya dapat menerimanya dan membantunya secara finansial setelah ia melela kepada orang tuanya. Orang tuanya masih mengizinkannya tinggal serumah, namun sikap mereka jika tidak dingin maka marah.

“Tapi aku sudah terbiasa dengan perlakuan mereka. Malah setelah come out aku mulai nyaman dengan diriku sendiri dan percaya diri," ujar Litha, yang saat ini bekerja di salah satu LSM yang berfokus pada isu transpuan.

Edukasi pranikah

Psikolog klinis anak Anastasia Satriyo, yang juga mengajar di Universitas Atma Jaya Jakarta, mengatakan pemahaman mengenai identitas gender dan ilmu agama yang masih heteronormatif membuat banyak orang tua merasa kaget dan terpukul ketika anak mereka tidak berperilaku sesuai dengan jenis kelamin mereka. Anastasia mengatakan ia banyak didatangi oleh orang tua yang anaknya merasa dirinya “berbeda”.

“Jadi waktu itu saya kedatangan pasien, orang tua dengan anak laki-lakinya yang berumur lima tahun. Saya tanya keluhannya apa, orang tuanya bilang, anaknya merasa dirinya perempuan. Dari beberapa riset sebelumnya, memang dari umur tiga sampai empat tahun anak sudah membentuk identitas gendernya, walaupun belum tetap,” ujar Anastasia, dalam acara peluncuran buku.

Anastasia menambahkan persiapan menjadi orang tua dalam edukasi pranikah seharusnya sudah memasukkan isu tentang ekspektasi keadaan anak dan menerima kondisi anak, salah satunya ketika anak tersebut melela sebagai transgender.  

“Janganlah lagi dibilang, ‘nanti saja dipikirkan’. Edukasi tentang rencana memiliki anak sangat perlu untuk yang ingin menikah. Dari sini kita belajar untuk menerima apa pun keadaan sang anak termasuk ketika sang anak merasa bahwa ia transgender,” ujarnya.

Jasra Putra, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, mengatakan bahwa jika keluarga tidak hadir, lembaganya memiliki mandat untuk hadir dan melindungi hak tumbuh kembang anak, juga memastikan mereka jauh dari diskriminasi.

“Jika ada kasus diskriminasi di sekolah, bisa langsung melaporkan secara online ke website KPAI, nanti dari sana kita bakal mengadvokasi lebih lanjut,” ujar Jasra yang juga menjadi salah satu pembicara pada peluncuran buku Kevin.

Namun pernyataan Jasra kontradiktif dengan sikap KPAI  terhadap isu LGBT. Sejumlah hadirin dalam acara diskusi mengatakan KPAI belum memiliki langkah-langkah untuk menerima keberagaman identitas gender dan orientasi seksual. KPAI malah banyak mengeluarkan ujaran-ujaran kebencian terhadap kelompok LGBT. Perspektif komisioner KPAI terhadap edukasi gender dan seksualitas juga masih sangat konservatif dan bias terhadap komunitas LGBT.

“Kalau cara pandangnya ini harus dilindungi karena sesuatu yang berbeda, ini yang keliru. Seharusnya, edukasi mengenai seksualitas dan identitas gender diberikan juga pada komisioner KPAI. Biar nanti kita perspektifnya sama dan ramah terhadap anak-anak yang memiliki orientasi seksual yang berbeda,” ujar Budi Wahyuni, Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dalam diskusi yang sama.  

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock.