Women Lead Pendidikan Seks
February 02, 2022

Riset: Mental Pengusaha Milenial Masih ‘Insecure’ dan ABS

Pengusaha milenial Indonesia cenderung main aman, menekankan pada harmoni untuk menjaga relasi antarindividu, dan tertutup pada hal baru.

by Basuki, dkk
Issues
Mental Pengusaha Milenial Kita Masih 'Insecure' dan ABS
Share:

Pada 2019, Indonesia mencatatkan dirinya sebagai negara dengan startups atau perusahaan rintisan terbanyak kelima di dunia. Akan tetapi , ketika dibandingkan dengan total populasi, jumlah wirausahawan Indonesia hanya berkisar di angka 3 persen dari keseluruhan jumlah penduduk.

Angka ini jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura (7 persen) dan Malaysia (5 persen). Sementara, untuk bisa berkembang menjadi ekonomi maju, Indonesia harus meningkatkan rasio wirausahawannya minimal 4 persen dari populasi.

Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah untuk menambah populasi wirausahawan di Indonesia adalah dengan mencari wirausahawan muda. Kehadiran wirausahawan muda baik milenial maupun generasi Z, yang secara keseluruhan mewakili 60 persen dari populasi Indonesia, diperlukan karena kepiawaian mereka dalam pemanfaatan teknologi, serta untuk regenerasi bisnis dalam upaya membuka lapangan kerja baru ke depannya.

Namun, studi kami menunjukkan, wirausahawan Indonesia masih memiliki kepercayaan diri yang rendah pada kemampuan sendiri (efikasi diri rendah) yang membuat mereka sulit menjalani keputusan bisnis.

Baca juga: Di Mana Perempuan Muda Indonesia?

Mental Mentah Wirausahawan Milenial

Studi dilakukan lewat analisis kuantitatif terhadap lebih dari 500 wirausahawan pemula yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dengan fokus di Kalimantan, kami yakin riset ini mewakili kultur luar Jawa (selain Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta), yang menurut antropolog Clifford Geertz, mewakili 70 persen budaya Indonesia.

Sikap individualis untuk menentukan nasibnya sendiri menjadi preferensi dalam karakter kewirausahaan.

Sayangnya, Indonesia terdiri dari masyarakat yang kolektif dan ikatan sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang. Bisnis diatur dalam nuansa patrimonialisme yang melahirkan nilai paternalisme atau penekanan terhadap superioritas, ketergantungan, favoritisme, hingga patronasi atau bentuk dukungan yang bisa saja data dari privilese.

Oleh karena itu, milenial Indonesia cenderung menghindari perilaku berisiko, menjauhi ketidakpastian, menekankan pada harmoni untuk menjaga relasi antarindividu, dan tidak terbuka pada hal-hal baru.

Kecenderungan untuk bermain aman ini menjadi batu ganjalan bagi generasi milenial Indonesia untuk menjadi pengusaha.

Hasil studi kami juga menunjukkan bagaimana interpretasi terhadap nilai-nilai keislaman sebagai agama mayoritas di Indonesia, memegang pengaruh terhadap persistensi milenial untuk berusaha. Filosofi terhadap takdir dan kekuatan gaib yang menentukan nasib individu divalidasi secara luas.

Baca juga: Womenpreneur Indonesia, Ikhtiar Dorong Perempuan Jadi Setara

Artinya di sini, lokus kendali eksternal lebih bermain daripada internal. Sikap gigih dan introspektif dari individu yang menekankan kendali atas kehidupan mereka sendiri jarang ditemukan pada milenial di Indonesia yang cenderung pasrah ketika menghadapi kesulitan.

Selain itu, inovasi dan toleransi terhadap kesalahan turut menjadi kunci semangat berwirausaha. Namun, milenial Indonesia cenderung memiliki kekurangan dalam inovasi bisnis akibat kultur paternalisme. Selain itu, perasaan malu ketika dihadapkan pada kegagalan juga membuat mereka cenderung menghindari inovasi.

Ketergantungan terhadap atasan membuat generasi milenial berupaya untuk menyenangkan bosnya, demi menjaga posisi ekonomi sosial mereka. Kecenderungan ini kerap disebut dengan istilah “asal bapak senang”, dan bertabrakan dengan unsur kemandirian yang merupakan aspek penting dari kewirausahaan.

Ringkasnya, walaupun responden milenial kami merupakan pebisnis pemula, kewirausahaan tidak berakar dari hati dan pikiran mereka.

Sebagai pengusaha baru, mereka cenderung mengejar peluang untuk memperkenalkan produk baru, mengeksploitasi pasar baru, atau mengembangkan metode produksi yang lebih efisien. Namun, hingga usaha mereka terbukti berhasil, apa yang mereka lakukan hanyalah sekadar ide usaha semata. Dengan kata lain, pilihan yang mereka ikuti masih bersifat persepsi dan didorong oleh keyakinan pribadi mengenai kemungkinan berbisnis.

Temuan kami mengungkapkan rendahnya kepercayaan diri para responden kami. Padahal, kepercayaan diri dapat memengaruhi kognisi, arah tindakan, dan persepsi akan kontrol yang menjadi unsur penting dalam meraih kesuksesan.

Baca juga: Gender Lens Investing Berdayakan Perempuan, ‘Berkah’ untuk Investor

Apa yang Bisa Dilakukan?

Para pengusaha milenal pemula Indonesia masih secara naif mengejar peluang yang tidak pasti dan kerap berujung pada tidak beroperasinya bisnis yang dikembangkan.

Dengan keyakinan yang cukup tentang manfaat dari peluang yang dikejar, pengusaha milenial dapat merasa terdorong untuk mempertahankan usaha mereka dan membuahkan hasil. Sebaliknya, rekan-rekan mereka yang sama-sama terampil, namun kehilangan kepercayaan pada peluang yang ada, pada akhirnya menelantarkan bisnis yang mereka mulai.

Pembinaan wirausaha milenial untuk mendongkrak perekonomian semakin genting dalam kondisi resesi ekonomi di masa pandemi COVID-19. Oleh karena itu, pemerintah dapat menggunakan krisis sebagai kesempatan untuk memulai bisnis baru.

Namun, calon wirausahawan harus termotivasi untuk menangani masalah dengan membentuk lokus kendali internal dan tidak membiarkan motif eksternal mendikte tindakan mereka. Selain itu, penghargaan untuk bisnis pada saat pemulihan harus didukung oleh motivasi moneter dan keamanan.

Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk mengembangkan mental usaha wirausahawan muda. Salah satunya ada dengan menyelidiki hubungan empiris antara kepribadian, nilai budaya, dan karakteristik kewirausahaan serta perilaku kewirausahaan yang dijalankan oleh generasi milenial di Indonesia.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Basuki adalah Associate Professor, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari, Ismi Rajiani merupakan Visiting Assistant Professor, Universitas Lambung Mangkurat, dan Rahmi Widyanti adalah Associate Professor, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari.