Women Lead Pendidikan Seks
April 14, 2020

‘Mugshot Challenge’: Tidak Sensitif atau Cuma Seru-seruan?

Mugshot challenge dianggap problematik karena bisa memicu luka lama para korban kekerasan.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

Sudah sekitar enam tahun berlalu sejak “Rinta” putus dari mantan pacarnya yang suka melakukan kekerasan, namun rasa sakit itu masih ada bila ia melihat visual atau mendengar pengalaman serupa dengannya dulu. Beberapa hari ini, Rinta merasa terganggu dan terpicu lagi traumanya ketika media sosial diramaikan dengan tantangan #mugshotchallenge.

“Aku sebenarnya enggak mengikuti [#mugshotchallenge]. Tiba-tiba aja muncul satu-dua foto temanku di Instagram yang ber-make up seperti habis dipukuli, lalu ada tagar #mugshotchallenge. Aku malas klik tagarnya, tapi tetap aja muncul di laman search tanpa aku cari sendiri,” kata perempuan 26 tahun itu.

Mugshot adalah semacam pasfoto tersangka kriminal, yang biasanya diambil oleh polisi. Namun dalam #mugshotchallenge, orang mendandani wajah sedemikian rupa jadi seperti babak belur dan lebam, seakan habis dihajar orang lain. Tantangan ini beredar di Twitter, Instagram, Facebook, maupun TikTok.

Di Instagram per 13 April 2020, sudah ada lebih dari 102 ribu foto yang menempelkan tagar ini. Caption yang disertakan dalam unggahan-unggahan #mugshotchallenge pun beragam, banyak di antaranya bernada bercanda seperti “habis ribut sama anak gang sebelah”, “abis maling sendal musola”, dan “korban janji manismu”.

Foto-foto #mugshotchallenge ini menuai likes dari sejumlah pengikut para warganet yang mengunggahnya. Seiring dengan itu, muncul rasa bangga karena bisa eksis dengan cara “eksentrik” seperti dalam salah satu caption yang berbunyi, “did the mugshot challenge and I am proud of the result”.

Sementara orang merayakan luka-luka fisik dalam tantangan tersebut, Rinta merasa seperti “diserang” dadakan ketika mendapati beberapa temannya mengunggah foto #mugshotchallenge.

“Saya bingung kenapa teman-teman mengikuti tantangan itu. Saya pikir ada pesan tertentu, seperti meningkatkan kesadaran terhadap isu kekerasan domestik. Tapi saya enggak lihat pesan itu,” ujarnya.

Baca juga: 4 Strategi untuk Berdebat dengan Sikap Toleransi dan Empati

Bagi Rinta, unggahan-unggahan #mugshotchallenge bermasalah karena memicu munculnya kembali ingatan pengalaman kekerasan yang ia alami.

“Dulu, aku sempat ke kampus pakai make up tebal karena mukaku biru-biru. Aku nutupin memar dan lebam setelah dipukulin mantanku,” kenang Rinta.

Ia menyayangkan tantangan macam ini sampai menjadi tren di media sosial. Menurutnya, banyaknya orang yang mengikuti #mugshotchallenge, terutama perempuan, menunjukkan bahwa kesadaran akan isu kekerasan domestik dan hal-hal yang bisa memicu trauma penyintas masih rendah.

Empati kepada korban kekerasan

Kritik dengan pesan senada Rinta disuarakan oleh berbagai pihak. Tak lama setelah segelintir selebritas internet dan orang awam berbondong-bondong mengikuti tantangan ini, mereka yang melek isu kekerasan domestik mengingatkan bahwa mengunggah foto babak belur sebagai aksi seru-seruan adalah suatu tindakan tidak sensitif dengan mengglorifikasi kekerasan. Kemunculan tantangan ini kian problematik karena di tengah kondisi pandemi, terdapat banyak laporan dari berbagai negara mengenai naiknya angka kekerasan domestik.

Karenanya, tantangan tersebut perlu ditarik dari media sosial masing-masing pengunggahnya, atau setidaknya berikan label peringatan pemicu dalam unggahan tersebut.

Dilansir Tempo (12/4), Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Mariana Amiruddin menyatakan, memperlakukan kekerasan dengan tidak serius adalah bentuk ketiadaan empati terhadap korban kekerasan sesungguhnya. Sementara komisioner lainnya, Siti Aminah Tardi menambahkan, budaya kekerasan di masyarakat dapat dihentikan salah satunya dengan tidak mengikuti tantangan yang mengandung pembenaran terhadap tindak kekerasan.

Baca juga: Tara Basro, Inul, dan Alergi Terhadap Tubuh Perempuan

Kemunculan kritik ini mendorong sebagian seleb internet menghapus foto #mugshotchallenge, misalnya James Charles, beauty vlogger dari Amerika Serikat. “Despite the fact that hundreds of other influencers and artists have done something similar, I deleted the mugshot trend because it was never my intention to trigger anyone & it's a waste of time trying to have an open discussion with people who hate me regardless,” tulisnya dalam akun Twitter miliknya.

Beauty vlogger lain dari Indonesia, Marcella Febrianne (@cindercella) juga menghapus unggahannya. Ia juga menulis pesan permintaan maaf setelah menerima banyak pesan langsung mengkritik unggahannya itu.

“Aku jadi sedih karena banyak banget yang suka dan me-recreate look mugshot aku kemarin, aku boleh minta tolong untuk di take down? Mungkin kita belum terlalu mengerti karena kita gapernah di posisi korban abuse…mau sekeren dan sebagus apa pun makeupnya, enggak worth it  kalo bikin orang lain sedih atau sakit…” tulis Marcella.

Argumen kebebasan berekspresi

Meski ada kritik, sebagian pihak merasa tidak ada yang salah dengan mengekspresikan diri dengan make up babak belur di media sosial. Ini terlihat misalnya dari petikan komentar-komentar yang didokumentasikan akun @indonesiaperlufeminis di Instagram.

Ada yang merasa ingatan dan apa yang dirasa seseorang adalah tanggung jawab masing-masing sehingga tidak tepat menyalahkan make up orang lain dengan argumen dapat mengingatkan pengalaman kekerasan yang dialami. Ada pendapat bahwa apa pun yang diunggah seseorang adalah di luar kontrol orang lain dan mustahil untuk memintanya menurunkan satu per satu unggahan yang dianggap tidak patut. Ada juga yang menilai konten #mugshotchallenge tidak jauh beda dengan yang ditampilkan orang-orang dalam film bertema kekerasan atau pesta kostum Halloween sehingga tidak semestinya dipermasalahkan.

Rinta mengatakan tidak relevan jika ada yang menyamakan #mugshotchallenge dengan film kekerasan.

Baca juga: Mengapa Menjadi Cantik Penting di Media Sosial

“Kalau menonton, aku punya kuasa memilih mau nonton atau enggak. Atau setidaknya, aku sudah mempersiapkan diriku buat nonton yang ada muatan domestic abuse-nya. Tapi kalau ini, aku enggak ada persiapan apa-apa. Enggak minta juga buat ngeliat foto muka bonyok,” ujarnya.

Argumen-argumen warganet yang melihat #mugshotchallenge tidak problematik berkisar pada isu kebebasan berekspresi. Ada juga yang mengikutinya karena merasa penasaran dan ingin berkreasi dengan make up, seperti “Vita, 24.

Mengenai kontroversi yang mengemuka di media sosial, Vita berpendapat bahwa tidak ada yang keliru dengan mengikuti hobi bermain make up dan memuaskan rasa penasaran. Kalaupun ada yang menyinggung soal hilangnya sensitivitas terhadap korban kekerasan, Vita merasa hal ini dapat diakali dengan mencantumkan tagar agar orang tidak menangkap maksud yang ambigu.

Posting-lah menggunakan tagar supaya orang tahu dan paham maksud pemakaian make up mugshot itu. Beda penilaian orang kalau kita upload tanpa tagar atau malah buat status drama seakan-akan jadi korban kekerasan. Apalagi kalau dijadikan bahan lelucon, pasti orang beranggapan negatif,” ujarnya. 

Jika memang terganggu dengan tantangan semacam itu, pakar etiket dan penulis Modern Etiquette for a Better Life, Diane Gottsman mengatakan, pilihan unfriend tidak salah diambil.

“Pahami bahwa unfriending seseorang tidak berarti kamu tidak menyukainya. Ini artinya, kamu memasang  batasan di media sosial dan kadang itu bertujuan untuk menciptakan relasi yang lebih baik,” ujar Gottsman kepada Reader’s Digest.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop