Women Lead Pendidikan Seks
February 11, 2020

Pelecehan Seksual di Industri Film dan Pentingnya Ruang Aman untuk Penyintas

Penyintas pelecehan seksual di industri film membutuhkan ruang aman untuk meringankan beban mereka.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues
Pelecehan Seksual_Film_Perempuan_KarinaTungari
Share:

Aktris dan musisi Mian Tiara duduk di antara belasan orang yang berkumpul melingkar di restoran Selatan, Jakarta Selatan, Kamis petang itu (30/1). Raut mukanya seperti masih menyimpan trauma dan suaranya lirih saat menceritakan pelecehan seksual yang dilakukan terhadapnya oleh seorang aktor senior. Kepada produser dan kru film, perwakilan tiga media termasuk Magdalene, sesama aktris dan penyintas, serta perwakilan kolektif #SinematikGakHarusToxic, ia menyampaikan kronologi peristiwa buruk yang dialaminya Desember 2019 silam.

Tiara tengah mengikuti syuting sebuah film pendek ketika bertemu si aktor senior, “Burhan”. Tidak memiliki prasangka apa pun, Tiara berinteraksi seperti biasa ketika Burhan mengajaknya berlatih dialog. Namun setelah kegiatan syuting berjalan beberapa lama, Burhan dua kali melecehkannya secara seksual.

“Dia duduk di sebelah dan menghadap ke saya, lalu dia mengelus paha saya. Saya tidak bisa bereaksi, there was so much going on in my head. Saya merasa terlanggar dan itu membuat saya marah,” ujar Tiara, yang baru-baru ini berperan dalam Perempuan Tanah Jahanam (2019).

Kali kedua, pada saat kru dan pemain berfoto bersama, Burhan lagi-lagi memosisikan diri di sebelah Tiara. Dengan sengaja ia menarik bagian belakang celana panjang Tiara, lalu memasukkan tangan dan menggenggam celana tersebut. Lagi-lagi dia terkejut dan membeku, sebelum kemudian bisa melepaskan diri.

Cukup lama Tiara menyimpan ceritanya itu. Pada saat kejadian, ia tidak mau langsung mengadukan perbuatan Burhan kepada pihak produksi atau sutradara karena tidak ingin mengacaukan proses syuting yang sedang berjalan. Selang beberapa waktu, barulah Tiara mulai bicara, pertama-tama kepada salah satu pemain yang satu produksi dengannya, kemudian kepada para sutradara dan produser yang sesama perempuan.

Begitu produser menyampaikan kepada Burhan soal keberatan Tiara atas perlakuan aktor tersebut, ia malah merasa tersinggung dan menampik pengakuan Tiara. Reaksi Burhan yang diceritakan si produser inilah yang pada akhirnya mendorong Tiara untuk menceritakan  kronologi pelecehan seksual yang dialaminya dalam sebuah utas di Twitter pada 23 Januari lalu. 

Baca juga: Memperbesar Volume Perempuan dalam Film Indonesia

“Kami juga”

Cerita Tiara yang mengemuka di media sosial membuat aktris lain, Hannah Al Rashid, merasa terpicu mengingat kejadian buruk serupa yang pernah menimpanya di lokasi syuting.

“Saat membaca pengalaman teman yang hampir persis, my body started shaking and my heartbeat was going crazy,” kata Duta PBB untuk kesetaraan gender ini. “Saya pikir, mungkin ini adalah orang yang sama dengan modus yang sama kepada pekerja lainnya di industri film.” 

Setelah berbicara secara personal, Hannah mendapati bahwa pelaku pelecehan dalam kasus Tiara adalah orang yang sama yang pernah melecehkannya. Dan ternyata, editor film Aline Jusria mengaku sempat pernah kejadian serupa mereka, oleh orang yang sama.

Terjadi pada sekitar 2012, Aline mengatakan saat itu kesadaran akan pelecehan seksual belum begitu menyebar seperti sekarang. Karenanya, ia pikir, “Ya sudahlah, memang iseng aja. Udah terkenal juga (orang tersebut) tangannya ke mana-mana.”

Kendati merasa tidak nyaman, ia memilih tetap bungkam karena bila ia bereaksi, Aline khawatir dirinya akan dianggap lebay atau baper. Akhirnya ia memilih menghindar saja. 

Setelah Tiara buka suara di Twitter, sejumlah teman Aline menceritakan pengalaman serupa, baik oleh pelaku yang sama ataupun berbeda. Aline menanyakan apakah mereka juga mau ikut buka suara seperti Tiara.

“Jawabannya rata-rata enggak mau. Ada yang kasihan sama keluarga pelaku kalau sampai cerita (pelecehan) itu keluar. Ini membingungkan. Gila ya, kita ini korban, tapi masih ada yang mikirin keluarga pelaku,” ujar Aline.

Ia menambahkan, keengganan pekerja industri film untuk melaporkan atau bercerita ke publik seputar pelecehan-pelecehan yang dialami mungkin akibat kemunculan kesadaran akan pelecehan seksual yang terlambat di Indonesia.

Baca juga: Memimpikan Dunia Kerja Bebas dari Pelecehan Seksual

Pentingnya ruang aman

Ada banyak sekali rintangan yang mesti dihadapi penyintas jika ia ingin menyuarakan kasus pelecehan yang diterimanya. Salah satunya ialah peliknya mencari orang-orang yang bisa dipercaya, mau mendengarkan, dan tidak menyalahkan penyintas.

Keadaan ini mendorong Yayasan Bersama Project, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan kesetaraan gender di dunia seni, untuk membuka ruang aman, salah satunya untuk membicarakan kasus Tiara dan pelecehan seksual di industri film.

“Tujuan Yayasan Bersama Project membentuk ruang aman ini adalah untuk menghindari adanya ‘he said she said’ karena kita tahu, kejadian seperti ini cukup sering di industri film,” ujar Kartika Jahja, musisi dan salah satu pendiri yayasan tersebut.

Ruang aman sendiri dapat diartikan sebagai tempat, lingkungan, atau kelompok orang yang memegang nilai-nilai serupa, dan bersepakat untuk memberi penguatan dan rasa aman bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya. Alih-alih memberikan penghakiman, pihak-pihak yang ada di ruang aman dapat berbagi pengalaman senada agar satu sama lain tidak merasa sendirian, serta mencari bantuan advokasi.   

Selain kesempatan berdiskusi dengan audiens tertentu seperti yang digelar Yayasan Bersama Project, inisiatif membentuk ruang aman juga dilakukan oleh kolektif #SinematikGakHarusToxic. Mereka membuat mekanisme pengaduan kasus pelecehan seksual di dunia film dan bekerja sama dengan Komnas Perempuan dan Women Crisis Centre.

“Berdasarkan pengalaman mendengar kasus-kasus pelecehan di industri film, kami mengupayakan mekanisme di mana penyintas bisa melaporkan kejadian ke satu channel dan terlindungi keselamatannya. Keselamatan di sini termasuk keselamatan kariernya dia,” ujar Lisabona Rahman, kritikus film sekaligus perwakilan dari kolektif tersebut.

“Mereka bisa melapor secara anonim atau menyebut nama, dan bisa menyebut atau tidak nama pelakunya. Di negara ini, kita enggak dilindungi kalau kita menuduh orang sesuatu, terlepas dari kita benar-benar mengalami (pelecehan) atau tidak.” 

Munculnya ruang-ruang aman seiring keberanian untuk bercerita yang perlahan tumbuh di diri para penyintas, merupakan langkah awal yang signifikan dalam upaya memerangi budaya pelecehan di tempat kerja. Bagi penyintas, bercerita bisa sedikit mengurangi tekanan dalam diri mereka selepas kejadian.

“Teman-teman saya yang pernah dilecehkan mengaku merasa lebih lega setelah bercerita soal pengalaman mereka,” kata Aline.

Baca juga: Survei ‘Never Okay’: 81% Responden Alami Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

Di samping kelegaan, kepercayaan diri penyintas juga dapat kembali terpompa dengan bercerita. Kerap kali penyintas meragukan apakah yang dialaminya wajar atau tidak, tergolong pelecehan atau bukan, butuh diobrolkan atau tidak. Begitu ia mendapat dorongan untuk berbicara, dipercaya kisahnya dan dianggap tidak bersalah oleh pihak-pihak yang mendengarkannya, keraguan-keraguan tersebut dapat memudar. Ini menjadi titik berangkat yang baik dalam rangka memulihkan kondisi diri para penyintas yang tidak sedikit diselimuti trauma.

Dalam situs Never Okay Project, sebuah inisiatif yang juga membentuk ruang aman bagi penyintas pelecehan seksual di tempat kerja, dikatakan bahwa cerita mempunyai dampak kuat. Selain memberi efek positif bagi psikis penyintas yang bercerita, kisah-kisah yang masuk serta survei yang mereka jalankan membantu mereka memetakan pengetahuan, pemantauan, dan pengalaman publik terkait pelecehan seksual di tempat kerja. Kemudian, dari pemetaan tersebut, upaya-upaya meningkatkan kesadaran akan pelecehan seksual di tempat kerja beserta dampaknya bisa dilakukan, misalnya lewat kesempatan-kesempatan pelatihan, bincang-bincang, atau seminar.

Ketika berada di ruang-ruang aman, penyintas dan orang-orang yang peduli akan isu pelecehan seksual juga dapat memikirkan bersama upaya lanjutan untuk mencegah kembali terjadinya kasus serupa di lingkungan kerja mereka.

Pada diskusi di Selatan, upaya untuk merumuskan “what’s next” setelah sejumlah penyintas bercerita dilakukan Yayasan Bersama Project dengan mengajak pihak-pihak terkait di industri film, seperti Mira Lesmana (Miles) dan Meiske Taurisia (Palari Films). Ada pula pendamping hukum Tiara, Riskie Ananda dari Panji Prasetyo Law Offices, yang memberikan perspektif legal pengurusan kasus pelecehan di Indonesia.

“Mungkin terdengar naif kalau kita berharap ini (pelecehan seksual) akan hilang semuanya. It’s an everlasting battle, but this is a battle and we have to do something about it,” ujar Tiara, yang juga vokalis Simak Dialog ini.

This is our work together, bukan cuma saya. It could happen to anyone, to a lot of people, cuma mereka belum berani atau tidak menemukan ruang aman untuk cerita. Kalau kita kerja sama, akan ada perubahan yang besar.”

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop