Women Lead Pendidikan Seks
January 24, 2020

'Tocil', Pasar: Selalu Ada yang Salah dengan Bentuk Tubuh Perempuan

Payudara kecil salah, besar salah. Masyarakat kita memang misoginis.

by Gusti Nur Asla Shabia
Lifestyle // Health and Beauty
Body Diversity_Body Image_Beauty Standards_SarahArifin
Share:

Butuh waktu bertahun-tahun hingga saya menyadari bahwa memiliki payudara kecil bukanlah sebuah masalah.

Saat  masih duduk di bangku SMP, saya sering diledek kawan-kawan sekelas sebagai “dada rata”. Saya dibandingkan dengan teman lain yang berdada besar dan sudah beberapa kali pacaran (sedangkan saya belum pernah), hingga disandingkan dengan elang dada putih. Teman bilang payudara seperti yang saya punya tak akan membuat lelaki mana pun tertarik.

Sejak saat itu, saya memercayai bahwa dada rata itu tidak cantik sama sekali. Anggapan bahwa laki-laki suka payudara bulat yang menonjol membuat saya percaya payudara dengan bentuk seperti ini adalah manifestasi payudara ideal.

Beberapa tahun lalu, pemikiran itu runtuh, setelah saya menemukan banyak perempuan yang “berdada rata” pun cantik. Kategori “payudara yang bermasalah” hanya bisa dinilai secara medis, bukan karena kapasitasnya untuk menarik perhatian laki-laki. Kendati sudah punya kepercayaan diri yang lebih terkait payudara kecil, kepercayaan saya soal “payudara besar sebagai bentuk ideal” nyatanya tak luntur semudah itu. Mungkin karena konstruksi media visual di sekeliling kita, baik poster iklan, pariwara televisi, hingga film layar lebar, yang terus saja memampangkan model perempuan berpayudara besar nan montok sebagai figur kemolekan ideal. 

Sampai suatu ketika, saya berbincang dengan kawan yang pernah menghadapi candaan soal payudaranya yang relatif besar.

“Pas SMP aku diejek ’susunya gede!’,” katanya waktu itu.. “Aku dipermalukan di tengah-tengah kelas. Sejak saat  itu aku merasa ada yang salah dengan tubuhku, tak pernah percaya diri dengan dadaku, dan payudara ini seperti enggak bisa disembunyikan.”

Ia menambahkan, ejekan soal payudara besar ini masih berlanjut hingga di masa kuliah. Lebih parah lagi, candaan itu langsung menyasar payudaranya, yang diremas oleh seorang kawan perempuan sambil berujar, “Gede banget sih susunya ... Kamu sering dipegang-pegang sama siapa sampai bisa segede ini?”

Baca juga: Apa yang Lucu dengan Tubuh Perempuan?

Sehabis kejadian itu, teman saya ini tidak masuk kuliah berhari-hari karena trauma mendalam. Ucapan itu tak hanya membuatnya merasa dilecehkan karena payudara adalah organ privat yang tidak boleh disentuh tanpa persetujuan dirinya, tapi ucapan tersebut juga sarat dengan stigma “perempuan nakal” yang aktif secara seksual—sesuatu yang bahkan tidak ia lakukan.  

Payudara, besar atau kecil, ternyata tidak menghindarkan perempuan dari ejekan, ujaran, dan tindakan-tindakan yang sebenarnya melecehkan. Selain itu, subjek yang menghina payudara tak selamanya laki-laki.. Saya pun mengalami hal seperti itu—yang mengejek payudara saya bukan hanya teman-teman lelaki.

Tak ada tubuh ideal

Ketika saya bertanya via  Instagram Story soal body shaming apa yang pernah orang-orang alami, kebanyakan dari teman perempuan meresponsnya dengan bercerita bahwa ejekan dan candaan soal fisik ini turut menyasar bagian-bagian tubuh selain payudara: bokong, bibir, kulit wajah, betis, tungkai, hingga bangun badan secara keseluruhan.

Lucunya, cerita yang dituturkan teman saya begitu variatif: yang bokongnya besar, mengaku pernah dipanggil tocil pasar (toket kecil pantat besar). Yang kecil dibilang, “Susah deh nanti pas ngelahirin!” Yang bangun badannya berisi, diasosiasikan dengan hewan dan benda berukuran besar, seperti gajah, truk tronton, bass betot. Sementara mereka yang kurus sering diasosiasikan dengan pengidap busung lapar, orang malnutrisi, atau cangcorang (belalang sembah).

Bagi sebagian orang, body shaming hanya dianggap sebagai candaan dan ejekan soal tubuh dan dapat ditanggapi sepintas lalu. Namun beberapa studi ilmiah telah membahas bahwa body shaming menyebabkan rasa tidak percaya diri, bahkan depresi. Ini turut dialami kawan-kawan perempuan saya yang menerima candaan secara konstan dan kontinu, bahkan bertahun-tahun. Mereka mengingat pengalaman ini sebagai titik tolak di mana mereka merasa ada yang salah dengan tubuh mereka, sesuatu yang sama sekali tidak mereka rasakan sebelum diejek dan dicandai kawan-kawannya. Kini, mereka merefleksikan pengalaman body shaming sebagai pengalaman dipaksa untuk memenuhi standar ideal tubuh yang dikehendaki masyarakat.

Sosiolog Allan G. Johnson dalam bukunya The Blackwell Dictionary of Sociology: A User's Guide to Sociological Language (2000) menulis, dalam masyarakat yang misoginis, yakni masyarakat yang memberikan perlakuan-perlakuan kultural yang diwarnai “kebencian” terhadap perempuan karena mereka perempuan, perempuan seperti “diajari” untuk mempertanyakan dan merasakan tubuh mereka sendiri.

Baca juga: Dulu Kurus, Sekarang Gemuk: Pelajaran Berharga dari ‘Body Shaming’

Pengajaran ini termaktub dalam candaan, pornografi, hingga kekerasan yang dilakukan segelintir orang—laki-laki atau perempuan—yang dikenakan pada perempuan tersebut. Masyarakat misoginis percaya perempuan bisa diperlakukan semena-mena ketika tidak memenuhi ekspektasi patriarkal tertentu di masyarakat, membuat seolah-olah mereka melakukan suatu kesalahan. Candaan fisik yang diwajarkan, yang membuat perempuan merasa bersalah karena bangun ketubuhan yang dimilikinya, adalah salah satunya.

Namun, pertanyaan soal tubuh perempuan seperti apa yang mencapai standar “ideal” di masyarakat misoginis tak pernah terjawab dengan tuntas, karena memiliki salah satu ciri dari kedua kutub ketubuhan: besar-kecil, kurus-gemuk, terang-gelap, dan seterusnya, tak menjamin perempuan terhindar dari ejekan bernada melecehkan.

Standar tubuh “ideal” perempuan di masyarakat sangat relatif secara kultural, terus-terusan berubah, hingga sulit sekali mengikutinya. Ditambah lagi, berusaha memenuhi standar tubuh ideal yang sering kali hanya bergerak dalam tataran visual-estetis malah akan menjebak perempuan dalam usaha-usaha yang merugikan dirinya dari segi kesehatan fisik (misalnya usaha untuk menjadi kurus yang berujung pada bulimia dan anoreksia), kesehatan psikis (minder, stres, depresi, hingga trauma), dan konsumerisme (usaha konsumsi produk kecantikan yang berlebih, dari mulai pengurus badan, pemutih wajah, dst.).

Menyitir jurnalis Naomi Wolf dalam The Beauty Myth (1991), kata “ideal” tidak hanya turun dari surga. Sebaliknya, kata ini—beserta makna yang mengikuti—dikonstruksikan dengan sadar dan ada keterkaitan dengan tujuan tertentu. Bila tujuannya adalah untuk melanggengkan subordinasi perempuan di masyarakat, saya dan teman saya merefleksikan akan sangat rugi sekali bila mengikuti standar ideal ini.  

Di akhir perbincangan kami, teman saya menyeletuk, “Akhirnya aku sadar, ini (tubuh) toh milik kita. Hanya kita yang punya hak untuk merawat dan mengatur seperti apa.” Dan pada akhirnya, hanya diri kita yang perlu mendefinisikan bentuk tubuh “ideal” seperti apa yang kita kehendaki.

Gusti Nur Asla Shabia adalah perempuan kelahiran 1998 yang nyaris lepas dari status kemahasiswaannya. Mempelajari Antropologi Budaya di Universitas Gadjah Mada, biasanya ia berkutat dalam isu-isu ekologi manusia dan konsumsi, tapi turut mempelajari isu-isu ketubuhan dan seksualitas.